Foto Sri Marlina. (Dok: Ist)
Oleh Sri Marlina, Pekerja Sosial dan Aktivis Perempuan
KabarMakassar.com — Tahun baru Islam kadang dilupakan jauh dari riuhnya tahun baru Masehi. Mengapa demikian ???
Muharram Dimulai dari Darah, Bukan Kembang Api
Sejarah akan selalu hadir sebagai penyaji fakta yang jujur. 1 Muharram sejatinya bukan awal dari perayaan tahun baru islam saja.Tetapi Ia adalah awal dari penderitaan.
Tahun 622 M, seorang pemimpin yang umat muslim kenal sebagai Baginda Rasulullah Muhammad SAW berhijrah. Beliau meninggalkan rumah, harta dan kampung halamannya. Beliau dikejar, dikepung, dihinakan. Itu bukan “move on”. Itu lijden. Tokoh Bangsa Haji Agus Salim menamainya: “Leiden is Lijden” = Memimpin adalah Menderita.
Muharram datang setiap tahun untuk menampar kita mengingat kembali sejarah mengetuk barah hijrah yang mungkin kita sedang hidup dalam zona nyaman dunia: Kamu mau jadi apa? Penonton sejarah, atau pelakunya? Mendudukkan khitta hijrah memulai dari hal kecil pada diri yang mungkin telah lupa menoleh dalam rimba kesesatan. Semua perubahan besar lahir dari orang yang mau lukanya duluan, tak ada Muharram tanpa genangan darah di Karbala. Tapi dengannya kita paham hijrah adalah perjalanan penderitaan yang awalnya penuh luka tengahnya penuh perjuangan tapi akhirnya adalah cahaya.
10 Muharram: Asyura Mengajarkan Harga Sebuah Kebenaran
Lihat tanggal 10 Muharram. Kita sebut Asyura. Di hari itu, Baginda Nabi Musa melawan Firaun dengan tongkat dan keyakinan. Di hari itu pula, cucu Nabi, Imam Husain, memilih mati di padang Karbala daripada tunduk pada zalim.
Dua kisah, satu pesan: Kebenaran itu mahal. Kemerdekaan itu mahal. Ia tidak dibeli dengan like, tidak dibayar dengan viral. Ia dibayar dengan luka, dengan kehilangan, dengan kesendirian. Jangan menjadi Generasi pemimpin yang mau Asyura tanpa Karbala. Mau menang tanpa berani kalah. Hal yang seperti itu hanyalah khayalan saja. Sebagian Kepemimpinan menganut hukum simbiosis mutualisme tapi hanya sedikit pemimpin yang merasakannya. Suasana kebatinan seorang pemimpin ditanggung sendiri sejatinya pemimpin adalah benteng tapi sunyi dalam senyapnya sendiri.
Perspektif Perempuan: Muharram Mengingat Sayyidah Zainab, Pemimpin di Tengah Luka
Muharram tidak hanya milik laki-laki di medan perang. Ia milik Sayyidah Zainab binti Ali, adik Imam Husain. Di Karbala, ia kehilangan semua: saudara, suami, anak. Tapi ia tidak pingsan. Ia berdiri di hadapan Yazid, dengan luka dan tangis, lalu berpidato. Ia mengubah tenda tawanan menjadi mimbar kebenaran. Itulah lijden perempuan: Menderita paling dalam, tapi memimpin paling berani. Muharram mengingatkan generasi perempuan hari ini: Kekuatanmu bukan saat kamu nyaman. Kekuatanmu saat kamu hancur, tapi tetap bersuara. Saat kamu ditindas, tapi tetap mendidik. Saat kamu kehilangan, tapi tetap menjadi mercusuar bagi yang lain. Pemimpin perempuan sejati lahir dari rahim penderitaan.
Generasi Sekarang Alergi Lijden, Kecanduan Leiden
Coba jujur kita mencoba membuka tabir fakta generasi yang mau jadi “pemimpin opini”, tapi takut diserang kolom komentar. Mau jadi “agen perubahan”, tapi marah kalau harus begadang atau berkeringat berlebihan. Mau hasilnya, tapi alergi prosesnya.
Kita mau leiden = memimpin, otomatis akan jadi pusat perhatian, jadi tempat yg paling empuk disorot dimaki bahkan. Tapi kita lari dari lijden = menderita, dari tanggung jawab, dari risiko, dari dibenci karena benar. Muharram membongkar topeng itu. Ia mengatakan kalau kamu hanya mau enaknya memimpin, kamu bukan pemimpin. Kamu konsumen jabatan sebab memimpin adalah sebuah penderitaan. 1000 kebaikan yang dilakukan itu hal yang biasa saja dan sebuah kewajaran dimata yang kamu pimpin. Tapi satu tindakan yang memuaskan sedikit saja pemimpin akan jadi santapan menu palih gurih dilidah.
Muharram adalah Perintah Hijrah: Bergerak atau Mati di Tempat
Hijrah artinya bukan hanya sekedar pindah kota. Sejatinya hijrah adalah pindah watak. Dari nyaman ke berjuang. Dari mengeluh ke bertindak. Dari menyalahkan sistem ke memperbaiki diri. Lalu akhirnya Muharram memaksa kita bertanya: Apa yang sudah kamu tinggalkan tahun ini demi sesuatu yang lebih besar dari dirimu? Kalau jawabannya “tidak ada”, berarti kamu belumlah ber-Muharram. Kamu hanya mengganti angka di kalender berpindah tahun. Baginda Rasulullah Nabi kita berhijrah karena Mekah sudah tidak sanggup lagi menampung kebenaran yang dibawanya, ummat mekkah tidak lagi memberinya percaya. Kamu, apa yang sudah tidak sanggup kamu tampung lagi di dalam dirimu?
Penutup: Tahun Baru adalah Pilih Lukamu
Pesan Muharram 1447 H untuk kita: tidak ada kemerdekaan, tanpa penderitaan.
Mau merdeka dari mental korban? menderitalah. Mau merdeka dari kebodohan? menderitalah belajar. Mau merdeka dari kemunafikan? menderitalah jujur. Mau jadi pemimpin di lingkunganmu, di keluargamu, di mimpimu sendiri? menderitalah duluan. Mau merdeka dari kepicikan berfikir? menderitalah dulu dalam menahan lidah sebelum berfikir .
Muharram tidak butuh kamu yang sempurna. Muharram butuh kamu yang berani. Berani terluka, berani berhijrah, berani jadi orang yang tidak nyaman dan mencipta kebaikan meninggalkan zona nyaman tapi buruk.
Sejarah akan mencatat mereka yang mau menderita. Bukan mereka yang hanya mau menonton menjadi komentator terbaik lalu menepukkan hasil, bukan mereka yang memerdekakan lidah tapi menjadi pedang pada tubuh orang lain, bukan mereka menorehkan tinta diatas kertas lalu menjadi petaka untuk rakyat.
Berhijralah pada tiap diri, sejatinya tiap tiap manusia adalah pemimpin atas dirinya. Dalam diri terdapat segumpal daging jika ia baik maka baiklah seluruhnya. Mari berhijrah tahun baru 1448 H tanpa lupa perihnya Muharram. Suasana religius kebatinan lebih banyak ditemukan dalam senyap bukan dalam kembang api. Karena itu tahun baru hijriah riuh dalam heningnya tak seramai kembang api di tahun baru masehi.


















































