Oleh: Dawita Rama Mantan Ketua PMKRI Cabang Makassar Periode 2023/2024
KabarMakassar.com — Banyak Tragedi memilukan salah satu cotoh kasus pada 29 Januari 2026 di Desa Nenowea, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, mengguncang nurani publik ketika seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10 tahun) ditemukan meninggal di kebun keluarganya, diduga karena tekanan akibat ketidakmampuan membeli alat tulis sebuah kenyataan pahit yang menyoroti rapuhnya perlindungan terhadap anak dan pentingnya kehadiran keluarga. Dalam hitungan jam, amarah dan simpati membanjiri ruang digital. Satu pertanyaan mendominasi di mana negara?
Pertanyaan itu terasa benar. Tapi juga terlalu cepat.
Pertanyaan itu bukan tanpa dasar. Negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi setiap anak, menjamin akses pendidikan, serta memastikan tidak ada warga yang terjatuh ke dalam kemiskinan ekstrem tanpa jaring pengaman. Dalam kerangka itu, kritik terhadap negara adalah wajar, bahkan perlu. Namun, ada kecenderungan berbahaya ketika seluruh kemarahan publik berhenti pada satu titik seolah-olah negara adalah satu-satunya aktor yang menentukan nasib seorang anak.
Cara pandang seperti ini tidak hanya menyederhanakan persoalan, tetapi juga menutupi lapisan realitas yang lebih dalam. Tragedi anak hampir tidak pernah lahir dari sebab tunggal. Ia adalah hasil dari pertemuan berbagai kegagalan-kegagalan sistemik dan kegagalan personal yang saling menguatkan.
Kita memang sedang menghadapi persoalan structural ketimpangan ekonomi yang belum terselesaikan, akses pendidikan yang belum merata, serta layanan kesehatan mental yang masih jauh dari memadai. Data menunjukkan bahwa tekanan psikologis pada anak dan remaja meningkat, sementara sistem pendukung belum mampu mengimbanginya. Dalam situasi seperti itu, anak-anak berada di garis depan kerentanan.
Namun di balik semua itu, ada satu ruang yang seharusnya menjadi benteng paling awal dan paling kuat RUMAH,KELUARGA. Dan di sinilah kritik yang lebih jujur perlu diarahkan.
Kita terlalu sering membicarakan negara, tetapi enggan membicarakan kesiapan menjadi orang tua. Padahal, keputusan untuk menikah dan memiliki anak adalah keputusan yang sepenuhnya berada dalam ranah individu. Negara bisa gagal, sistem bisa timpang, tetapi ketidaksiapan orang tua adalah faktor yang tidak bisa sepenuhnya dialihkan kepada siapa pun.
Anak tidak pernah memilih akan lahir dalam keluarga seperti apa. Ia tidak memilih kondisi ekonomi orang tuanya, tidak memilih tingkat kedewasaan emosional ayah dan ibunya, dan tidak memilih konflik yang mungkin terjadi dalam rumah tangga. Tetapi orang tua memiliki pilihan dan justru di titik itulah tanggung jawab paling mendasar seharusnya ditempatkan.
Sayangnya, dalam realitas sosial kita, pernikahan masih sering diposisikan sebagai kewajiban budaya, bukan sebagai keputusan sadar yang menuntut kesiapan. Tekanan sosial untuk “segera menikah”, romantisasi keluarga tanpa kesiapan, hingga praktik pernikahan usia dini masih menjadi bagian dari wajah masyarakat kita hari ini. Dalam kondisi seperti itu, tidak mengherankan jika banyak anak akhirnya tumbuh dalam lingkungan yang belum siap membesarkan mereka.
Lebih jauh lagi, kita juga kerap mencari kambing hitam yang mudah budaya asing, media sosial, atau pergaulan bebas. Padahal, faktor-faktor tersebut hanya menjadi pemicu atau penguat, bukan akar utama. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang sehat secara emosional cenderung memiliki daya tahan yang lebih kuat terhadap tekanan eksternal. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang rapuh akan lebih mudah runtuh, bahkan oleh persoalan yang bagi orang lain tampak sepele.
Di titik ini, satu pernyataan mungkin terdengar keras, tetapi perlu diucapkan, jangan menikah jika belum siap.
Pernikahan bukan sekedar seremoni, status sosial, atau pelarian dari tekanan lingkungan. Ia adalah komitmen jangka panjang yang hampir selalu berujung pada tanggung jawab membesarkan manusia lain. Ketika keputusan itu diambil tanpa kesiapan emosional, finansial, dan psikologis, maka risiko terbesarnya bukan ditanggung oleh pasangan, melainkan oleh anak yang lahir dari kondisi tersebut.
Rumah yang sehat bukanlah rumah yang sempurna, tetapi rumah yang mampu menghadirkan rasa aman. Rumah di mana anak bisa bercerita tanpa takut dihakimi. Rumah yang mampu mengelola konflik tanpa kekerasan. Rumah yang tidak hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga kebutuhan emosional.
Sebaliknya, rumah yang penuh tekanan, konflik tanpa penyelesaian, dan ketidakhadiran secara emosional akan membentuk anak yang terbiasa memendam luka. Dalam jangka panjang, lukaluka inilah yang sering kali tidak terlihat, tetapi memiliki dampak paling dalam.
Tentu, menekankan peran keluarga bukan berarti membebaskan negara dari tanggung jawab. Negara tetap harus hadir secara nyata, memperkuat jaminan sosial, memastikan bantuan tepat sasaran, membangun sistem pendidikan yang inklusif, serta menyediakan layanan kesehatan mental yang terjangkau dan terintegrasi. Sekolah pun harus menjadi ruang aman yang aktif mencegah perundungan dan mampu mendeteksi dini masalah psikologis siswa.
Namun, tanpa fondasi keluarga yang kuat, intervensi negara akan selalu bersifat reaktif, bukan preventif.
Karena itu, refleksi paling penting dari tragedi ini seharusnya tidak berhenti pada tuntutan kepada negara, tetapi juga keberanian untuk bercermin. Generasi hari ini perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar kepada dirinya sendiri, apakah saya siap menjadi orang tua? Apakah saya mampu mengelola emosi saya sendiri sebelum membentuk emosi anak saya? Apakah saya siap menempatkan kebutuhan anak di atas ego pribadi?
Menunda karena belum siap bukanlah kegagalan. Dalam banyak kasus, justru itulah bentuk tanggung jawab yang paling dewasa.
Tragedi seorang anak tidak boleh berhenti sebagai konsumsi sesaat di ruang publik. Ia harus menjadi alarm keras bahwa generasi tidak runtuh dalam semalam. Ia runtuh perlahan, ketika fondasi yang seharusnya dibangun dengan kesadaran justru diabaikan karena tekanan sosial dan ketidaksiapan pribadi.
Jika kita sungguh peduli pada masa depan bangsa, maka keberanian terbesar bukan sekedar menunjuk siapa yang salah. Keberanian terbesar adalah memastikan bahwa setiap anak lahir dari kesiapan bukan dari keterpaksaan.
Karena pada akhirnya, negara memang penting. Tetapi rumah, tetap yang paling menentukan.


















































