Oleh: Sri Marlina (Pekerja Sosial dan aktivis perempuan)
KabarMakassar.com — Setiap tahun kita merasakan dua hari raya besar dengan nuansa yang berbeda. Idul Fitri ramai dengan takbir, silaturahmi, dan saling maaf. Iduladha, meski khidmat, sering terasa lebih hening. Banyak yang bertanya: Mengapa hari raya Iduladha lebih sepi daripada Idul Fitri?
Jawabannya sederhana namun menusuk: karena mengorbankan lebih berat daripada memaafkan.
1. Dua Hari Raya, Dua Jenis Ujian Hati
Idul Fitri adalah pelukan setelah hujan tangis. Setelah sebulan menahan lapar, amarah, dan hawa nafsu, kita diajak kembali fitri. Maaf diminta dan diberikan. Beban di hati dilepas, dan suasana menjadi ringan, meriah, dan terbuka untuk semua.
Idul Adha berbeda. Ia adalah pelajaran diam-diam tentang kehilangan dan keikhlasan. Ia menuntut kita meneladani Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih putranya Ismail. Bukan darah dan daging hewan yang jadi tujuan, melainkan penyerahan total hati kepada Allah.
Allah berfirman:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaanmulah yang mencapai-Nya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini mengingatkan bahwa inti Idul Adha bukan pada kemeriahan, tetapi pada ujian keikhlasan. Dan keikhlasan adalah hal yang tidak bisa dipamerkan. Ia bekerja dalam diam, di ruang paling dalam antara hamba dan Tuhannya.
2. Mengapa Mengorbankan Lebih Berat?
Memaafkan memang butuh keberanian. Tapi memaafkan sering kali masih menyisakan ” kita” kita tetap ada, hati menjadi lega, hubungan dipulihkan.
Mengorbankan berbeda. Mengorbankan berarti melepas sesuatu yang kita cintai. Bisa berupa harta, waktu, ambisi, bahkan orang yang paling kita sayangi. Tidak semua orang punya hati sebesar Ibrahim, yang rela mengorbankan anaknya. Tidak semua orang sanggup seberani Ismail, yang menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. As-Saffat: 102)
Karena itu, Idul Adha tidak bisa dirayakan ramai-ramai seperti Idul Fitri. Ia menuntut kontemplasi. Ia menyaring: siapa yang siap kehilangan demi Allah, dan siapa yang masih berat melepaskan dunia.
3. Peran Siti Hajar: Pengorbanan yang Sering Dilupakan
Di tengah narasi Ibrahim dan Ismail, kita sering lupa satu tokoh kunci: Siti Hajar. Ia adalah perempuan yang ditinggal di padang tandus tanpa air, tanpa manusia, hanya bersama bayi Ismail.
Ini pengorbanan yang jauh lebih sunyi dan lebih brutal daripada menyembelih hewan. Ibrahim pergi atas perintah Allah, tapi Hajar yang ditinggal. Ia tidak meratap, tidak menuntut. Ia hanya bertanya sekali: “Apakah Allah yang memerintahkan ini?” Ketika dijawab “Ya”, ia berkata: “Kalau begitu, Dia tidak akan menelantarkan kami.”
Kita sering menjadikan Ibrahim sebagai simbol pengorbanan, padahal Hajar adalah bukti bahwa pengorbanan perempuan sering kali lebih berat karena tidak terlihat. Ibrahim mengorbankan anaknya dalam satu momen. Hajar mengorbankan rasa aman, masa depan, dan kewarasan dirinya setiap hari di padang gersang. Ia berlari 7 kali antara Safa dan Marwah bukan untuk pamer ketabahan, tapi karena tidak ada pilihan lain selain berjuang.
Tanpa Hajar, tidak akan ada Zamzam. Tanpa Zamzam, tidak akan ada Mekkah. Tanpa Mekkah, tidak akan ada kiblat. Sejarah besar lahir dari pengorbanan perempuan yang namanya jarang disebut di mimbar. Idul Adha yang sepi juga mencerminkan ini: kita belum terbiasa merayakan pengorbanan yang dilakukan dalam diam, jauh dari sorotan.
Allah sendiri mengabadikan lari Hajar menjadi ritual Sa’i dalam haji dan umrah. Itu pengakuan ilahi: pengorbanan perempuan bukan pelengkap, tapi fondasi.
4. Pandangan Bijak Para Pakar
Ulama dan pemikir Muslim menekankan dimensi ini.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menulis bahwa qurban adalah simbol pembunuhan terhadap nafsu yang mengikat manusia. Jika nafsu tidak disembelih, maka manusia tidak akan pernah merdeka. Idul Adha yang sepi justru wajar, karena proses “membunuh nafsu” itu menyakitkan dan tidak untuk dipertontonkan.
Prof. Azyumardi Azra pernah menyampaikan bahwa Iduladha adalah momen refleksi sosial. Kurban bukan sekadar ritual, tapi mekanisme distribusi keadilan. Orang yang mampu mengorbankan hartanya menunjukkan bahwa ia siap berbagi beban dengan sesama. Namun, kesiapan itu lahir dari keikhlasan yang tidak bisa dipaksa.
Dr. Amina Wadud, cendekiawan Muslimah, menegaskan bahwa kisah Hajar membongkar bias narasi keagamaan yang maskulin. Hajar menunjukkan bahwa tawakal bukan kepasrahan pasif, tapi aksi aktif mencari solusi di tengah keputusasaan. Pengorbanannya adalah model kepemimpinan spiritual perempuan.
5. Sepi Bukan Berarti Kosong
Sepinya Idul Adha bukan tanda kosongnya makna. Justru di sana letak kekuatannya. Ia mengajarkan bahwa pertumbuhan spiritual sering terjadi dalam sunyi.
Idul Fitri membersihkan hubungan kita dengan manusia.
Idul Adha menguji hubungan kita dengan Allah, dan seringkali, dengan peran perempuan yang kita lupakan.
Keduanya penting. Tanpa Idul Fitri, kita akan terjebak dalam dendam. Tanpa Iduladha, kita akan terjebak dalam cinta dunia yang berlebihan. Dan tanpa mengingat Hajar, kita akan terus merayakan pengorbanan tanpa pernah menghargai siapa yang menanggungnya dalam diam.
Jadi, jika tahun ini Iduladha terasa lebih hening di sekitarmu, jangan buru-buru merasa kehilangan. Mungkin Allah sedang mengajakmu duduk sejenak, bertanya pada hati: Apa yang paling sulit kau lepaskan demi Aku?Dan mungkin, perempuan mana yang pengorbanannya selama ini kau abaikan?
Karena pada akhirnya, kebesaran seorang hamba tidak diukur dari seberapa ramai ia merayakan, tetapi dari seberapa ikhlas ia mengorbankan dan seberapa adil ia mengingat pengorbanan orang lain.
Ibrahim tidak mengatakan tidak Pada Allah, Ismail dan Hajar tidak mengatakan Tidak pada Ibrahim . Qurban adalah bahasa cinta tertinggi: Diam dalam kepasrahan keyakinan karena cinta sejati tak butuh penjelasan kecuali tindakan.
Iduladha selalu membawa pengingat dalam sunyi tapi kuat bahwa tidak semua harus digenggam erat.Kita akan paham bahwa ketika melepaskan kadang akan lebih menemukan maknanya belajar melepaskan ego belajar melepaskan kepemilikan berlebih.
Memberi bukan persoalan lebih tapi menghadirkan rasa cukup tanpa keserakahan Dan perlahan belajar memahami bahwa hidup bukan tentang diri sendiri.Semoga setiap bijak dan kebaikan makna Qurban membuat kita menemukan jalan pulang yang lebih lapang.


















































