Diskusi swasembada energi yang mendatangkan para pakar (Dok: Nofi KabarMakassar)KabarMakassar.com — Swasembada energi di masa pemerintahan Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto menjadi pembahasan yang menuai banyak perhatian.
Mempertimbangkan hal tersebut, dinilai penting untuk membuka diskusi publik guna menyatukan perspektif ekonomi, energi hingga arah kebijakan.
Agenda yang berlangsung pada Rabu (11/02) tersebut, dihadiri langsung oleh Pakar Energi dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Muhammad Bachtiar Nappu, Pakar Ekonomi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI), Prof Syamsuri Rahim serta Direktur Lembaga Studi Kebijakan Publik, M. Kafrawy Saenong.
Prof Muhammad Bachtiar Nappu mengungkapkan terkait dengan tantangan yang dihadapi.
“Faktanya, konsumsi BBM saat ini jauh melebihi produk domestik. Semakin disedot maka akan semakin habis, suatu saat akan hilang. Definisi swasembada sendiri tidak boleh lagi terjebak pada ketersediaan minyak semata,” ucapnya.
Lebih jauh ia menyebut, jika kebutuhan semakin meningkat dan mengungkapkan jika patut meredefinisi swasembada yang mana diversifikasi menjadi kunci.
“Sehingga swasembada harus matang yang bisa diproduksi dalam negeri sendiri. Untuk tujuan kedepannya sendiri adalah mengarah ke era EBT (energi baru dan terbarukan),” paparnya.
Prof Syamsuri Rahim mengatakan bahwa dengan kebijakan swasembada energi maka mampu mandiri secara ekonomi.
Ia menyampaikan jika Refinery Development Master Plan (RDMP) merupakan program strategis nasional untuk peningkatan kapasitas kilang Pertamina.
“Dimana tujuan utamanya yakni memperkuat ketahanan energi dan mengurangi ketergantungan impor BBM, sehingga RDMP menjadi pilar penting dalam agenda swasembada energi Indonesia,” ujarnya.
Ia turut membeberkan tentang tantangan serta implikasi keberlanjutan, mulai dari investasi besar dan risiko proyek kompleks juga isu lingkungan transisi dari kilang fosil menuju kilang rendah karbon.
“Sehingga untuk tata kelolanya sendiri, perlu transparansi, efisiensi dan sinergi kebijakan RUEN (Rencana Umum Energi Nasional),” terangnya.
Maka, ia menjelaskan bahwa RDMP penting untuk swasembada energi namun harus selaras dengan transisi energi hijau
M. Kafrawy Saenong menyebut jika tujuan swasembada energi bukan hanya mengurangi ketergantungan namun juga bisa memiliki ketangguhan secara domestik.
Ia mengatakan jika, tujuan strategis dari swasembada itu guna memutus ketergantungan impor, optimalisasi produksi domestik serta transisi ke energi terbarukan.
“Melalui biofuel sawit, tebu, juga singkong dalam mencapai kemandirian energi nasional,” ucapnya.
Dari segi tujuan kebijakan sendiri maka menggarisbawahi tentang stabilitas harga serta penguatan domestik.
“Memastikan agar pasokan stabil, menghindari gejolak harga akibat impor berlebih serta melindungi konsumen,” ujarnya.
“Kemudian mendorong peningkatan produksi dalam negeri lewat pengawasan ketat dan insentif kompetitif,” tuturnya.
Ia menegaskan, agar akses untuk energi dapat dirasakan oleh seluruh pihak dan distribusi energi dalam negeri bisa tepat sasaran.


















































