Foto ilustrasi krisis BBM. / Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah Singapura bergerak cepat membentuk komite krisis untuk merespons gangguan pasokan energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Perdana Menteri Lawrence Wong menyatakan tim khusus tersebut langsung bekerja memperbarui rencana darurat nasional seiring situasi yang disebutnya belum pernah terjadi sebelumnya.
“Untuk mengoordinasikan respons nasional, saya telah membentuk Komite Menteri Krisis Dalam Negeri,” ujar Wong.
Komite ini diketuai oleh K Shanmugam selaku Menteri Koordinator Keamanan Nasional, dengan Gan Kim Yong bertindak sebagai penasihat.
Menurut Wong, jika gangguan pasokan energi dan jalur distribusi di Timur Tengah berlangsung lama, dampaknya tidak hanya soal kenaikan harga.
Ia memperingatkan potensi kekurangan energi global yang bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, produksi industri, hingga menekan perekonomian dunia.
Situasi ini dipicu eskalasi konflik setelah serangan oleh Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari.
Iran kemudian membalas dengan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.
Eskalasi tersebut berdampak langsung pada jalur distribusi energi global, termasuk terjadinya blokade de facto di Selat Hormuz—jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk.
Kondisi ini turut memengaruhi produksi dan ekspor energi di kawasan serta mendorong lonjakan harga energi dunia.
Singapura melalui komite krisis ini berupaya mengantisipasi dampak lanjutan, termasuk potensi gangguan terhadap kebutuhan energi domestik dan stabilitas ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

9 hours ago
4

















































