Pengamat: Pemilihan Gubernur BI sebagai Keputusan Ekonomi Strategis, Bukan Pembagian Jabatan

3 hours ago 2

Spanduk Dealer Program Juli Honda 300 x 50 cm

PADANG, KLIKPOSITIF – Guru Besar Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA mengatakan, proses pemilihan pengganti Perry Warjiyo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan. Investor dinilai tidak hanya akan menilai kapasitas profesional calon gubernur, tetapi juga independensi dan komitmennya dalam menjalankan mandat bank sentral.

“Pasar akan mencermati sejumlah aspek, mulai dari latar belakang akademik, pengalaman di bidang kebijakan moneter, rekam jejak dalam menjaga stabilitas ekonomi, hingga kemampuan calon gubernur untuk mengambil keputusan secara independen tanpa intervensi politik,” katanya saat dihubungi di Padang melalui pesan singkat WhatsApp, Senin siang, 27 Juli 2026.

Menurutnya, proses seleksi yang berlangsung secara terbuka, transparan, dan berbasis kompetensi berpotensi memperkuat kepercayaan investor. Kondisi tersebut diyakini dapat menurunkan premi risiko Indonesia, tercermin dari penyempitan Credit Default Swap (CDS), penguatan nilai tukar rupiah, serta penurunan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN).

“Sebaliknya, apabila proses pemilihan dinilai kurang transparan atau terlalu dipengaruhi pertimbangan politik, pasar dikhawatirkan akan meningkatkan persepsi risiko terhadap perekonomian Indonesia. Kekhawatiran tersebut terutama berkaitan dengan potensi melemahnya independensi Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan moneter,” jelasnya.

Pelaku pasar akan memberikan perhatian khusus terhadap komitmen gubernur baru dalam menjaga stabilitas harga dan nilai tukar rupiah. Persepsi bahwa bank sentral akan lebih longgar dalam menurunkan suku bunga, memperluas likuiditas, atau mendukung pembiayaan pemerintah ketika tekanan terhadap rupiah masih tinggi dinilai dapat memicu peningkatan premi risiko di pasar keuangan.

Dampak dari meningkatnya persepsi risiko tidak hanya dirasakan oleh pemerintah melalui kenaikan biaya penerbitan obligasi negara. Imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi juga berpotensi menjadi acuan kenaikan biaya pendanaan bagi sektor swasta, termasuk penerbitan obligasi korporasi, kredit perbankan, hingga pinjaman luar negeri. “Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan investasi dunia usaha serta meningkatkan biaya modal bagi perusahaan dan rumah tangga,” jelasnya.

Karena itu, sejumlah ekonom menilai proses pemilihan Gubernur Bank Indonesia perlu dipandang sebagai keputusan strategis yang berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi nasional. Sosok yang memiliki kredibilitas tinggi dan diyakini mampu menjaga independensi bank sentral dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor, menekan biaya pendanaan nasional, serta mendukung stabilitas pasar keuangan dalam jangka panjang.

“Sebaliknya, apabila proses suksesi memunculkan keraguan terhadap independensi Bank Indonesia, premi risiko Indonesia berpotensi tetap tinggi sehingga biaya pembiayaan bagi negara, dunia usaha, dan masyarakat dapat meningkat dalam beberapa tahun mendatang,” tutupnya.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news