Pengamat Sebut Mundurnya Kepala BI Picu Kenaikan Premi Risiko Indonesia, Pasar Soroti Kepastian Arah Kebijakan BI

5 hours ago 1

PADANG, KLIKPOSITIF –  Guru Besar Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas (Unand), Prof. Dr. Drs. Syafruddin Karimi, SE, MA mengatakan, pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo dianggap memicu peningkatan premi risiko Indonesia di pasar keuangan. Hal itu diungkapkan Syafruddin Karimi melalui pesan singkat WhatsApp Senin siang, 27 Juli 2026. Ia mengatakan, meski operasional bank sentral tetap berjalan di bawah kepemimpinan sementara Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, pelaku pasar masih mencermati kepastian arah kebijakan moneter dan proses suksesi kepemimpinan BI.

Sejumlah indikator pasar menunjukkan meningkatnya kehati-hatian investor. “Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara kontrak Non-Deliverable Forward (NDF) satu bulan diperdagangkan di kisaran Rp18.049 per dolar AS dan kontrak tiga bulan mencapai Rp18.120 per dolar AS. Pada saat yang sama, volatilitas nilai tukar jangka pendek juga mengalami peningkatan,” katanya.

Baca Juga

Ia mengatakan, tekanan juga tercermin pada instrumen pengukur risiko negara. Credit Default Swap (CDS) Indonesia mengalami pelebaran pada berbagai tenor. CDS tenor lima tahun tercatat berada di kisaran 92,3 basis poin, sedangkan tenor sepuluh tahun mencapai sekitar 146,7 basis poin, yang mengindikasikan meningkatnya persepsi risiko terhadap aset Indonesia.

“Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor lima tahun naik sekitar 6,8 basis poin. Sementara itu, yield SBN tenor sepuluh tahun relatif bertahan di level 7,374 persen, yang diperkirakan didukung oleh pembelian Bank Indonesia dan investor institusi domestik sehingga mampu menahan tekanan jual yang lebih besar,” terangnya.

Pengamat menilai pergerakan berbagai indikator tersebut lebih mencerminkan repricing atau penyesuaian harga terhadap risiko kelembagaan dibandingkan kepanikan di pasar keuangan. “Investor dinilai masih memiliki keyakinan terhadap kemampuan Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi dan operasionalnya, namun meminta kompensasi risiko yang lebih tinggi di tengah ketidakpastian mengenai proses pergantian kepemimpinan, independensi kebijakan moneter, serta arah kebijakan fiskal ke depan,” jelasnya.

Kondisi tersebut juga diperkirakan membuat arus modal asing tetap bersikap hati-hati dalam jangka pendek. Selama harga kontrak NDF di pasar luar negeri masih berada di atas nilai tukar spot domestik, investor asing diperkirakan akan mempertahankan posisi defensif. Di sisi lain, aktivitas pembelian oleh investor domestik dipandang masih menjadi faktor penyangga utama bagi pasar saham maupun obligasi Indonesia.

“Pelaku pasar kini menunggu perkembangan proses penunjukan Gubernur Bank Indonesia yang definitif. Kepastian kepemimpinan dinilai akan menjadi salah satu faktor penting dalam memulihkan kepercayaan investor serta meredam peningkatan premi risiko di pasar keuangan nasional,” paparnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mengumumkan pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi. Pengunduran diri tersebut berlaku efektif pada 25 Juli 2026.

Dewan Gubernur Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang diselenggarakan pada 26 Juli 2026 menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news