Penulis buku Musim yang Tak Sempat Kita Miliki, Tsana 'Rintik Sedu' (dok. Syamsi/KabarMakassar)KabarMakassar.com — Penulis novel populer Nadhifa Allya Tsana atau yang dikenal dengan nama pena Rintik Sedu mengungkap proses panjang di balik penyusunan novel terbarunya, Musim yang Tak Sempat Kita Miliki.
Dalam tur bukunya di Makassar, Tsana bercerita bahwa novel tersebut tidak hanya lahir dari imajinasi, tetapi melalui tahapan riset yang mendalam dan terstruktur, yang cukup memakan waktu.
“Dari aku mendapatkan ide, lalu rangkai-rangkai cerita, riset, sampai benar-benar terbit, itu mungkin satu setengah tahun, ya,” ucapnya, Minggu (19/06/2026).
Dalam novel terbarunya, Tsana menghadirkan latar cerita yang berkaitan dengan dua dunia industri yang berbeda. Industri tersebut adalah industri parfum dan dunia penerbitan buku.
Kedua latar tersebut dipilih untuk memberikan warna baru dalam alur cerita yang disusun. Pemilihan latar ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Tsana dalam proses penulisan.
Tsana menyadari bahwa menghadirkan latar industri tertentu membutuhkan pemahaman yang mendalam. Oleh karena itu, ia melakukan riset langsung untuk memahami dinamika di dalam kedua industri tersebut.
“Kalau personal kayaknya gak terlalu personal banget, cuma karena aku bawa dua industri di dalam buku ini, ada parfum, ada editor buku gitu, kantor penerbitan, Jadi aku banyak banget riset ke kantor parfum, ke penerbitan aku supaya lebih parfum dan lebih editor banget ketika dibaca,” katanya.
Selain menghadirkan latar industri yang kuat, Tsana juga menyebut novel terbarunya memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan karya-karya sebelumnya. Perbedaan tersebut terlihat dari pendekatan emosional yang ia gunakan dalam menyusun alur cerita.
Jika pada karya sebelumnya cerita cenderung menghadirkan konflik emosional yang berat, pada novel kali ini ia mencoba menghadirkan suasana yang lebih ringan.
“Sebenarnya malah di buku ini aku merasa lebih ceria nulisnya karena ini buku aku pertama yang happy ending, jadi kayak ternyata seru juga ya bikin buku yang happy ending, ga bikin buku yang nyebelin-nyebelin. Jadi aku sangat happy dengan buku aku yang ini sih,” ujarnya.
Menurut Tsana, perubahan gaya penulisan tersebut tidak terlepas dari keinginannya untuk menghadirkan pengalaman membaca yang berbeda bagi pembaca setianya.
Dengan menghadirkan akhir cerita yang lebih bahagia, ia berharap pembaca dapat merasakan pengalaman emosional yang lebih hangat. Hal tersebut juga menjadi bentuk pembaruan dalam perjalanan karya-karyanya.
Selain membahas proses kreatif dan karakter cerita, Tsana juga menyinggung peluang adaptasi novel tersebut ke medium lain. Sejumlah pihak disebut telah menunjukkan minat untuk mengangkat novel tersebut ke layar lebar.
Namun demikian, ia menilai bahwa proses tersebut masih terlalu dini untuk dilakukan. Menurutnya, sebuah karya membutuhkan waktu untuk berkembang sebelum diadaptasi ke bentuk lain.
“Sebetulnya ada beberapa yang nanya ke aku tapi kayak terlalu cepat dan instan gitu karena aku merasa ini bukunya belum ada satu tahun, rasanya egois banget kalau bukunya belum sempat tumbuh tapi aku udah adaptasi ke medium lain. Jadi kayaknya aku mau bersenang-senang dengan bukunya dulu,” pungkas Tsana.


















































