Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin saat Audiensi dengan Tim World Resources Institute (WRI) Ruan dan peneliti RISE Indonesia, (Dok: Ist).KabarMakassar.com — Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menilai Program RISE (Revitalizing Informal Settlements and Their Environment) sebagai solusi konkret penanganan persoalan permukiman perkotaan.
Pemerintah Kota Makassar pun menargetkan pengembangan kota ramah air yang berkelanjutan dan berkelas global.
Penilaian itu disampaikan Appi saat memaparkan program unggulan Pemkot Makassar di hadapan tim World Resources Institute (WRI) Ruan dan peneliti RISE Indonesia dalam sesi wawancara di Balai Kota Makassar, Selasa (13/01).
“Banjir, akses air minum, air bersih, dan sanitasi adalah persoalan klasik yang harus kita selesaikan bersama. Dampaknya langsung ke kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Appi.
Ia menegaskan, tantangan perkotaan tersebut dirumuskan dalam tujuh visi pembangunan Makassar, dengan fokus pada penanganan banjir, air minum, dan sanitasi. Menurutnya, sistem pengendalian banjir di Makassar belum sepenuhnya stabil dan tidak bisa ditangani sendiri karena terkait erat dengan wilayah penyangga di sekitar kota.
“Ini bukan persoalan yang bisa diselesaikan Pemkot Makassar secara mandiri. Banjir berkaitan langsung dengan daerah sekitar,” jelasnya.
Terkait air minum dan air bersih, Pemkot Makassar terus memaksimalkan peran PDAM agar layanan dasar menjangkau seluruh warga secara adil dan berkelanjutan. Sementara sanitasi disebut sebagai isu krusial karena berpengaruh langsung terhadap kesehatan.
“Sanitasi sangat penting. Jika tidak ditata dengan benar, dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” tegas Appi.
Pembangunan sanitasi komunal dinilai mendesak, khususnya di kawasan permukiman informal. Langkah ini sejalan dengan misi pemerataan layanan dasar dan peningkatan kualitas hidup warga.
Dalam forum tersebut, Appi secara khusus menyoroti Proyek RISE yang dikembangkan melalui riset mendalam di permukiman informal dengan pelibatan masyarakat secara inklusif serta dukungan penuh Pemkot Makassar.
“Hasil penelitian RISE membuktikan intervensi infrastruktur hijau di permukiman informal mampu meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat secara signifikan,” katanya.
Ia menilai pendekatan RISE tidak hanya relevan di lokasi penelitian, tetapi layak direplikasi ke seluruh wilayah Makassar. Program ini dinilai tidak sekadar membangun fisik, melainkan mentransformasi komunitas dan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Tatanan hidup sehat ini tidak hanya dibangun, tetapi dijalankan dan dijaga oleh masyarakat sendiri. Semangat gotong royong tumbuh melalui sistem sanitasi komunal berbasis klaster,” ujarnya.
Appi menambahkan, kolaborasi Pemkot Makassar dan RISE telah menunjukkan hasil nyata, termasuk peningkatan kesejahteraan dan produktivitas warga. Lingkungan permukiman yang lebih sehat turut berkontribusi pada capaian Makassar sebagai Kota Sehat Nasional dan Kota Sehat Asia Tenggara yang diberikan oleh World Health Organization pada 2025, dengan lokasi RISE menjadi salah satu indikator penilaian.
Selain itu, RISE menghadirkan ruang hijau baru melalui pembangunan rawa buatan dengan tanaman lokal di tengah permukiman padat. Ruang ini berfungsi sebagai sanitasi komunal, pengelolaan air hujan, sekaligus ruang publik yang membuka peluang pertanian lahan sempit dan wisata edukasi lingkungan.
“Kehadiran RISE menjadikan Makassar rujukan pembelajaran penyelesaian sanitasi permukiman. Banyak kota dan perguruan tinggi datang mempelajari implementasinya,” ungkap Appi.
Ia menegaskan komitmen Pemkot Makassar untuk terus membangun kota yang inklusif dan berkelanjutan.
“Dengan RISE, kami berharap Makassar tidak hanya menjadi kota ramah air, tetapi juga referensi global. Program ini bukan hanya untuk Makassar, melainkan kontribusi nyata bagi dunia,” pungkasnya.
















































