Roadshow dan Bedah Buku Ahmadiyah di Makassar Serukan Solidaritas Kemanusiaan

18 hours ago 3
Roadshow dan Bedah Buku Ahmadiyah di Makassar Serukan Solidaritas KemanusiaanRoadshow Bedah Buku bertajuk "Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan". (Dok: Ist)

KabarMakassar.com – Menandai kiprah selama 100 tahun di Nusantara, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) bekerja sama dengan komunitas Gusdurian Makassar dan Jalin Harmoni Sulawesi Selatan menyelenggarakan Talkshow dan Roadshow Bedah Buku bertajuk “Muslim Ahmadiyah dan Indonesia: 100 Tahun Keberagaman dan Kerja Kemanusiaan”.

Acara yang berlangsung di Ruang Latimojong, Hotel Remcy, Makassar ini dihadiri oleh 100 orang terdiri dari beragam tokoh agama, akademisi, aktivis kemanusiaan, dan perwakilan pemerintah pada Selasa (10/2)

Buku antologi yang dibedah merupakan karya yang merekam testimoni dari 100 tokoh nasional mengenai kiprah Ahmadiyah di Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk mempertegas komitmen JAI dalam merawat kebhinekaan melalui moto yang konsisten digaungkan: Love for All, Hatred for None.

Amir Daerah JAI Sulawesi Selatan, Barat, dan Tengah, Ashraf Ahmad Muhiddin, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran Muslim Ahmadiyah di Indonesia Timur bukan sekadar eksistensi keagamaan, melainkan bagian dari denyut nadi masyarakat melalui berbagai bakti kemanusiaan inklusif, seperti donor mata rutin dan bantuan bencana.

“Meskipun sering menghadapi persekusi, Muslim Ahmadiyah secara konsisten memilih jalan damai dan tidak pernah membalas dengan kekerasan, meneladani akhlak Rasulullah SAW,” ujar Ashraf.

Akademisi terkemuka, Prof. Dr. KH. Afifuddin Harissa, Lc., M.Ag., Pimpinan Pondok Pesantren An-Nadhlah, Makasar menyoroti bahwa toleransi di Indonesia sering kali masih berhenti pada taraf slogan. Beliau menekankan perlunya dekonstruksi prasangka dan pembukaan ruang dialog akademik yang lebih sehat.

“Agama bagi pribadi mungkin sudah selesai, tapi keberagamaan, bagaimana agama bersentuhan dengan kepentingan manusia lain belum selesai. Kita perlu menyempurnakan sikap toleransi sebagai esensi dari ajaran Islam itu sendiri,” tegas Prof. Afifuddin.

Senada dengan hal tersebut, tokoh pluralisme Prof. Dr. Qasim Mathar, Guru Besar UIN Alaudin Makasar memberikan catatan kritis mengenai peran lembaga keagamaan dalam menjaga harmoni. Ia menyerukan agar lembaga seperti MUI berani mereformasi diri dan mencabut sekat-sekat dogmatis yang menghambat persaudaraan kebangsaan.

Dari perspektif non muslim , Dr. Ir. Yonggris Lao, Ketua Persatuan Umad Budha Indonesia (Permabudi Sulawesi Selatan) memuji inklusivitas Ahmadiyah yang mampu membawakan rasionalitas dalam beragama dan context-non-confrontative. Ia juga mengingatkan pentingnya menyesuaikan pola pendekatan kepada Generasi Z yang lebih tertarik pada aksi sosial nyata dibandingkan debat dogmatis yang kaku.

Sementara itu, Christina J. Hutubessy, S.Th., M.Si. (Direktur Oase Intim) memaparkan pentingnya teologi kemanusiaan sebagai titik temu lintas iman.

“Semua agama memiliki potensi besar untuk menghargai martabat manusia. Tugas kita adalah memperbanyak aktor strategis dan narasi positif untuk melawan intoleransi,” ungkapnya.

Kegiatan ini menghasilkan risalah rekomendasi bagi perdamaian nasional yang lahir dari Makassar untuk Indonesia.

Melalui bedah buku ini, Jemaat Ahmadiyah Indoensia ( JAI)  berharap keberadaannya di abad kedua keberadaan di Indonesia  menjadi katalisator bagi solidaritas dan harmoni di akar rumput, sekaligus mempertegas bahwa perbedaan tafsir adalah kekayaan intelektual bangsa, bukan alasan untuk diskriminasi sehingga seluruh kelompok warga bangsa yang beragama bahkan berbeda  mampu memberikan peran yang lebih kontributif dalam kolaborasi inklusi bersama untuk seluruh masyarakat Indonesia.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news