konferensi pers lintas instansi di bandar sultan Hasanuddin (Foto : Dwiki Luckianto Septiawan KabarMakassar)KabarMakassar.com — Proses identifikasi korban pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang hilang kontak di kawasan Maros–Pangkep, Sulawesi Selatan, terus dipersiapkan aparat kepolisian bersama tim medis. Sejumlah rumah sakit ditetapkan sebagai pusat pemeriksaan antem mortem untuk mempercepat pencocokan identitas korban saat proses evakuasi dilakukan.
Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, mengatakan koordinasi lintas instansi telah dilakukan sejak awal, termasuk dengan Pangdam XIV/Hasanuddin dan Basarnas. Personel kepolisian telah disiagakan untuk mengumpulkan data antem mortem dari keluarga korban.
“Hari ini sudah disiagakan personel untuk melakukan pemeriksaan antem mortem, salah satunya adik kandung co-pilot. Bagi keluarga yang berada di luar Makassar, kami berkoordinasi dengan Polda setempat dan fakultas kedokteran agar data bisa diambil langsung,” ujar Djuhandhani, Minggu (18/1).
Ia mengungkapkan, sejauh ini satu data antem mortem dari keluarga korban yang berada di Bogor telah diterima dan ditangani oleh Polda Jawa Barat. Data tersebut akan dikompilasi dengan data lain yang masuk dari berbagai daerah.
Dalam proses pengumpulan data, kepolisian juga berkoordinasi dengan rumah sakit dan laboratorium forensik. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh informasi identitas korban telah lengkap sebelum jenazah dievakuasi ke posko.
“Sistem ini akan mempermudah pencocokan data dan mempercepat proses identifikasi, termasuk bila dibutuhkan dalam proses hukum,” tegas Kapolda.
Saat ini, Rumah Sakit Bhayangkara Makassar di Jalan Andi Mappaodang ditetapkan sebagai pusat identifikasi korban. Tim Disaster Victim Identification (DVI) dari Mabes Polri dan Polda Sulsel dikerahkan untuk melakukan verifikasi identitas secara menyeluruh dan sistematis.
Sementara itu, Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, menyampaikan bahwa penemuan lokasi jatuhnya pesawat turut mempercepat tahapan identifikasi. Tim SAR gabungan telah menemukan dua bagian besar pesawat, yakni badan dan ekor, serta sejumlah jendela pesawat.
“Evakuasi korban akan diupayakan menggunakan helikopter jika cuaca memungkinkan. Jika tidak, korban akan dievakuasi melalui jalur darat menuju posko gabungan di Desa Tompobulu, Kabupaten Pangkep,” ujar Bangun.
Kepala Basarnas Makassar, Arif Anwar, menambahkan bahwa pencarian dan evakuasi korban dilakukan melalui kombinasi jalur udara dan darat. “Dari udara menggunakan heli Caracal dan H-390, sementara tim darat dibagi empat grup dengan total sekitar 1.200 personel. Fokus utama saat ini adalah mengevakuasi korban,” katanya.
Selain itu, aparat membuka pusat informasi keluarga korban di Media Center Bandara Sultan Hasanuddin. Tim khusus juga disiapkan untuk membantu pengiriman dan pengumpulan data antem mortem bagi keluarga yang tidak dapat hadir langsung ke Makassar.
Dengan langkah-langkah tersebut, aparat kepolisian dan tim SAR berharap proses identifikasi korban dapat berjalan cepat dan akurat, sekaligus mengurangi ketidakpastian yang dialami keluarga korban. Operasi pencarian dan evakuasi akan terus dilanjutkan hingga seluruh korban berhasil dievakuasi dari lokasi dengan medan dan cuaca ekstrem.


















































