Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar dari Komisi A, Rahmat Taqwa Quraisy, (Dok: Sinta KabarMakassar).KabarMakassar.com — Krisis air bersih di wilayah utara KotaMakassar terus menjadi perhatian legislatif.
Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar dari Komisi A, Rahmat Taqwa Quraisy (RTQ), mempertanyakan kinerja PDAM yang dinilai tidak mampu mengatasi persoalan mendasar, meski penggantian pipa terus dilakukan setiap tahun.
Menurut Politisi PPP itu, kekeringan yang terjadi saat musim kemarau bukanlah persoalan baru. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai masalah berulang yang hingga kini belum ditangani secara efektif oleh PDAM.
“Ini kendala dari tahun ke tahun. Harus jadi catatan serius bagi pemerintah kota dan PDAM,” tegasnya, Rabu (15/04).
Ia mengungkapkan, mayoritas warga di kawasan utara kini bergantung pada sumur bor untuk memenuhi kebutuhan air. Ironisnya, di tengah kondisi air PDAM yang tidak mengalir, warga tetap dibebani tagihan bulanan.
“Saya sendiri merasakan, empat bulan pakai sumur bor, tapi tagihan PDAM tetap jalan,” ujarnya.
Tak hanya itu, RTQ menyebut distribusi air tak merata diwilayahnya. Di saat sebagian besar rumah tidak mendapatkan pasokan, justru ada segelintir rumah yang airnya terus mengalir tanpa henti.
“Kalau dari 1.000 rumah, mungkin cuma 10 yang airnya lancar. Ini aneh, karena sumbernya sama dari PDAM,” katanya.
Ia pun mengkritik pola penanganan yang dinilai tidak menyentuh akar masalah. Penggantian pipa yang rutin dilakukan setiap tahun dianggap belum memberikan dampak signifikan terhadap kelancaran distribusi air.
“Setiap tahun pipa diganti, tapi hasilnya tetap sama. Pertanyaannya, diganti untuk apa kalau air tetap tidak ada?” ujarnya.
RTQ menegaskan, persoalan utama bukan semata jaringan distribusi, melainkan keterbatasan sumber air yang belum diatasi secara serius. Ia meminta pemerintah mulai beralih pada solusi yang lebih strategis dan inovatif.
“Jangan hanya fokus pada pipa, tapi cari solusi sumber air. Kalau sumbernya kurang, ya harus ada inovasi,” tegasnya lagi.
Kondisi geografis wilayah utara yang cenderung menghasilkan air payau dari sumur bor juga menjadi tantangan tersendiri. Untuk mendapatkan air layak konsumsi, warga harus menggali hingga kedalaman puluhan meter.
“Di utara, air sumur bor itu payau. Harus 30 sampai 40 meter baru bisa dapat air bersih,” jelasnya.
Sebagai langkah cepat, RTQ mendorong pembangunan penampungan air di tingkat kelurahan sebagai cadangan saat suplai PDAM menurun. Ia juga mengusulkan pemanfaatan teknologi penyaringan air untuk mengolah air sumur agar lebih layak digunakan.
“Perlu ada penampungan di tiap kelurahan, dan teknologi filter harus dimanfaatkan. Sekarang sudah canggih, kenapa tidak dipakai?” katanya.
RTQ menegaskan, kritik yang disampaikan bukan sekadar menindaklanjuti laporan masyarakat, melainkan pengalaman langsung yang ia alami sendiri sebagai warga terdampak.
“Ini bukan cuma laporan, saya sendiri yang merasakan,” tukasnya.


















































