Andi Ilham Muchtar
(Akademisi)Oleh: Andi Ilham Muchtar (Akademisi)
KabarMakassar.com — Dalam Momentum iduladha sejatinya menghilangkan batas status Sosial, meleburkan kesenjangan antara yang diberikan kemampuan dan yang belum diberikan kemampuan dalam berkurban dihari raya iduladha.
Masyarakat Makassar khususnya muslim dalam merayakan idul adha menunjukkan ketertarikan yang tinggi dalam ketakwaan, hal tersebut sejalan dengan peningkatan jumlah hewan korban 3 tahun terakhir, yakni ditahun 2024 sebanyak 6432, tahun 2025 sebanyak 7261 dan di tahun 2026 sebanyak 7663.
Ironisnya fenomena yang menonjol adalah bermunculannya kelompok arisan kurban dan sistem patungan (urunan) keluarga untuk membeli sapi. Hal ini dilakukan agar kebiasaan (folkways) berbagi tetap berjalan meskipun daya beli di tengah ketidakpastian ekonomi .
Kebiasaan tersebut juga tentu menjadi kabar baik, saat tak sedikit orang-orang kurang mampu walau hanya sekedar memenuhi kebutuhan perut sehari terus bertambah di sekitar kita, tetapi masih diiringi konsistensi kebaikan secara massif oleh aktivitas kurban di atas.
Di tatanan elite kita (rulling class).Tidak luput pula fenomena idul adha diwarnai dengan kesederhanaan hal ini terlihat adanya larangan menggelar open house mewah dan meniadakan pola hidup hedonis, sejalan dengan arahan pemerintah dalam menjaga marwah sakral idul adha yang sederhana dan menjaga ke eratan solidaritas sosial yang ada dimasyarakat.
Untuk memahami kondisi ini, Perspektif Sosiologi dari Teori Eksklusi Sosial cukup memiliki pandangan yang objekfif. Teori ini beragumen pemberdayaan Ekonomi dimasyarakat dengan Srategi oleh beberapa kelompok sosial yakni Arisan korban melupakan Solusi Pendistribusian daging secara langsung dan maasiff, sejalan peningkatan jumlah hewan kurban yang meningkat setiap tahunnya yang berdampak pada berfungsi sebagai instrumen bantuan pangan yang merata bagi kelompok rentan yang terpinggirkan dari roda ekonomi sehari-hari.
Selanjutnya center pointnya yang utama adalah merajut kebersamaan (Solidaritas) disertai penghapusan sekat dimasyarakat.dengan strategi makan bersama mengikis batasan kelas sosial,etnis dan perbedaan pandangan Politik masa lalu.
Hal tersebut mengedukasi kita semua bahwa ibadah idul adha adalah kesetaraan manusia.
Bahwa semua makhluk di hadapan Tuhan itu sama, darimanapun asalnya, dan bagaimanapun situasi ekonomi internal keluarganya.
Harapannya adalah kelas elit (rulling class) dan masyarakat merajut kebersamaan (solidaritas) dengan Episentrum pemberdayaan Ekonomi kerakyatan disertai dengan mengkonstruksi Arisan idul Adha dimasyarakat secara formal dan terstruktur.
Mengutip sebuah syair bijak oleh Jalaluddin Rumi : “Jiwa manusia seperti bulir gandum yang harus hancur terkubur agar bisa tumbuh menjadi tanaman yang memberi makan banyak orang”.
Semoga kita semua yang telah menyisihkan sebahagian rejekinya untuk berkurban tahun ini senantiasa dilimpahkan kebaikan dan kemudahan untuk kembali dapat mengulang kebiasaan baik ini di tahun selanjutnya. Amin


















































