
Dolar Amerika Serikat - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada kuartal II/2026 mencapai US$453,4 miliar atau sekitar Rp8.115,4 triliun. Posisi tersebut meningkat 4,4% secara tahunan atau year on year (YoY), terutama didorong kenaikan ULN publik.
Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan ULN publik mencapai US$216,3 miliar atau tumbuh 2,9% YoY. Sementara itu, ULN swasta tercatat US$194,6 miliar atau mengalami kontraksi 0,6% YoY.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Indrayana mengatakan peningkatan ULN Indonesia terutama berasal dari sektor publik, sementara pertumbuhan ULN swasta mengalami kontraksi yang lebih rendah.
"Perkembangan tersebut disebabkan oleh peningkatan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah," jelas Denny dalam keterangannya, Selasa (18/8/2026).
Posisi ULN Indonesia tersebut dihitung berdasarkan kurs JISDOR pada 30 Juni 2026 sebesar Rp17.899 per dolar AS. Dengan nilai tersebut, total ULN Indonesia pada kuartal II/2026 setara dengan sekitar Rp8.115,4 triliun.
ULN Publik Capai US$216,3 Miliar
BI mencatat ULN publik pada kuartal II/2026 mencapai US$216,3 miliar. Pertumbuhan 2,9% YoY tersebut terutama dipengaruhi aliran masuk pada Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
Menurut BI, ULN publik diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif. Berdasarkan sektor ekonomi, pemanfaatan ULN pemerintah terbesar berada pada sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial dengan porsi 22% dari total ULN pemerintah.
Selanjutnya, Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib menyumbang 20,6%, Jasa Pendidikan 16,2%, Konstruksi 11,5%, serta Transportasi dan Pergudangan 8,5%.
BI menilai posisi ULN pemerintah masih berada dalam kondisi aman dan terkendali. Salah satu faktornya adalah hampir seluruh ULN pemerintah merupakan utang jangka panjang.
Selain pemerintah, peningkatan ULN juga terjadi pada Bank Indonesia. Menurut Denny, perkembangan tersebut didorong kenaikan kepemilikan nonresiden terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
"Peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia [SRBI], sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," paparnya.
ULN Swasta Turun 0,6%
Di sisi lain, ULN swasta pada kuartal II/2026 tercatat US$194,6 miliar. Angka tersebut turun 0,6% YoY.
Denny menjelaskan kontraksi ULN swasta dipengaruhi penurunan ULN kelompok peminjam lembaga keuangan atau financial corporations yang mencapai 3,4% YoY.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian.
Keempat sektor tersebut secara keseluruhan menyumbang 79,4% dari total ULN swasta.
"ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,7% terhadap total ULN swasta," kata Denny.
Rasio ULN terhadap PDB 30,6%
Sejalan dengan perkembangan tersebut, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) tercatat 30,6% pada kuartal II/2026.
Struktur ULN Indonesia juga masih didominasi utang jangka panjang. Porsinya mencapai 82,1% dari total ULN.
BI bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi untuk memantau perkembangan ULN serta menjaga struktur utang tetap sehat.
"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," tutup Denny.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis

4 hours ago
6

















































