Utopia Sebuah Kota

3 hours ago 1

promo hayati padang agustus

Seorang profesor fakultas sastra, dari kampus ternama, memutuskan menolak gelar kehormatan yang hendak diberikan kampusnya: atas segala dedikasi pada kesusastraan. Dia berkata, lebih memilih kembali ke kotanya, kembali ke kota kelahiran istrinya; dan hendak jadi walikota di sana. Tentu, hal demikian membuat sekalian bertanya-tanya—mengingat kondisi kota yang jadi tujuan: begitu mengenaskan. Akan tetapi, kegemparan tak hanya sampai di sana, profesor itu pun mengajak salah seorang mahasiswanya, yang telah lulus dengan tugas akhir kajian atas novel-novel Iwan Simatupang, agar jadi wakil walikota, agar jadi wakilnya; dan mencukupkan diri dengan gelar sarjana sastra, mencukupkan agar tak bergelar master, doktor, atau profesor. Dan sarjana sastra itu, yang amat cemerlang otaknya, mengiyakan ajakan dari sang profesor; terlebih setelah profesor itu menyampaikan ide-idenya tentang tata kelola kota. Secara ajaib, meski tak pernah benar-benar ajaib, sang profesor dan mahasiswanya, sarjana sastra brilian itu, berhasil menjadi walikota dan wakil walikota! Dan, sang profesor segera menggenapi ide tata kotanya, ide yang disampaikannya dari pintu ke pintu ketika masa kampanye berlangsung. Ya, betapa seluruh warga kota setuju atas ide itu—

Sang profesor yang berbadan besar itu, yang telah menjadi walikota, mulai memusatkan tata kelola pemerintahan, baik sektor sosial-ekonomi serta sektor kultural di perkuburan kota! Kantor walikota, balai kota, dipindahk secara berkala ke dekat perkuburan kota; perpustakaan terpusat pada perpustakaan kota, dan perpustakaan kota disatukan dengan balai kota yang ada di dekat perkuburan! Sekolah-sekolah ditata dekat dengan perkuburan, ditata tiap jenjangnya, semakin tinggi jenjang, maka semakin dekatlah dengan perkuburan; rumah ibadah juga mesti punya jarak yang sama dengan perkuburan, atau bila itu bangunan adat, mesti dibuatkan akses jalan yang lancar untuk menuju ke perkuburan. Pasar pun dekat dengan perkuburan!

Segela sektor pekerjaan pun ditata kelola berdasarkan perkuburan!

Pada mulanya, pekerjaan di kota yang tak terlalu kecil dan tak terlalu besar itu memang penggali kubur; bahkan di seluruh negeri dikenal penggali kubur paling bagus dan mumpuni berasal dari kota itu. Setelah bertanya pada setiap kepala keluarga, dari pintu ke pintu, dengan ditemani setia sang wakil walikota yang sarjana sastra, profesor yang kini telah jadi walikota itu memutuskan sawah-sawah difokuskan di batas-batas kota yang berarti jauh dari perkuburan. Ia berhasil membuat kota itu swasembada beras; dan setelah bertanya ke tiap warga, seluruhnya sepakat: beras bagi anak sekolah mestilah penuh, beras bagi orang-orang yang sakit mestilah penuh, dan sisanya dijual ke luar kota, dan hasilnya untuk membeli buku-buku, untuk mengisi perpustakaan kota dengan buku, buku, dan buku. Seluruh warga sepakat, rajin berpuasa, makan nasi secukupnya atau sedikit saja.

Profesor itu telah mengubah kotanya jadi sebuah kota maut, sebuah kota yang dipenuhi para pendeta dan para zuhud, serta penggali-penggali kubur yang terampil menyebut! Profesor itu juga tak lupa membangun kesadaran untuk membaca: bila tak bekerja, atau tengah istarah-ibadah, para warga sibuk membaca: membaca apa pun: novel, buku puisi, makalah, kitab-kitab suci, tafsir atas kitab-kitab suci, komik, dan lainnya. Dan, sebagai profesor fakultas sastra, sang walikota memberi ruang kesenian seluas-luasnya! Ya: aula, alun-alun, dan halaman balai kota sudah dirancang sedemikain rupa sebagai gedung dan juga panggung pertunjukan terbuka. Para warga amat mencintai sang walikota, tua-muda, pria-wanita, dan lain sebagainya. Di kota itu, seluruh rumah amatlah sederhana, untuk tidur, pulang, dan bercengkrama pun bercinta: seluruh harta ditukar buku, dan diletakkan di perpustakaan kota. Betapa, tidaklah ada kelaparan di sana: selain puasa, baik untuk tirakat atau kesehatan, atau silodaritas kemanusiaan.

Sang profesor pun lantas terpilih dua periode; dan segala tata kelola kota genap selesai dirampungkan. Dan, di tahun selepas habis periode kedua, ia dijemput maut; dan dimakamkan dekat makam istrinya—yang mati 10 tahun silam. Sang wakil walikota, yang adalah mahasiswa sang profesor, diminta sang profesor menjaga kota; dan, jika bisa, melanjutkan jadi walikota. Dan, sebab rasa cintanya kepada sang guru, kepada sosok yang telah menjelma bapak itu, sang wakil pun bersedia. Seluruh kota, yang juga mencintainya, bersikeras agar sang wakil menjadi walikota. Pemerintah pusat tak senang; dan, tak bisa banyak berkutik, sebab seluruh warga kota ada dalam satu suara. Para pemodal senantiasa tertolak warga: sebab seluruh warga pandang matanya selalu tertuju pada perkuburan, perkuburan kota telah jadi kiblat kemanusiaan mereka!

Sebagai upaya, pemerintahan pusat menerima sang wakil jadi walikota, asal wakilnya pilihan mereka. Seluruh warga bertanya kepada si sarjana sastra, dan mendapati jawab tak apa. Maka, seluruh warga mantap berkata iya. Dan hari penobatan tiba! Upacara resmi itu dilakukan di depan perkuburan. Beberapa wakil dari pemerintahan pusat hadir, tapi tak merasa betah pada situasinya. Sang wakil walikota baru mesti bertahan di sana, mesti bertahan mendengar pidato sang sarjana sastra. Setelah serangkaian pementasan, tepat di tengah malam, selepas para ibu meninabobokan anak di tempat yang disedia, berpidatolah sang sarjana sastra dengan pidato yang serupa agung khotbah! Lagipula, salah satu tugas tambahan yang diberikan sang profesor, dulu, ketika masih sehat dan menjabat, adalah bahwa walikota mestilah memberi juru khotbah perkuburan pada tiap pemakaman:

“Keluargaku yang tercinta, ini kali, saya berdiri di sini, sebab suara sekalian warga, dan atas wasiat profesor kita yang amat kita cinta… Tak banyak yang hendak saya sampaikan; saya hanya hendak mengingatkan agar tetap memegang nilai yang dibawa-wariskan profesor kita. Betapa, seluruh hartanya kini telah berubah jadi buku, jadi perpustakaan, dan jadi rumah ibadah kita. Maka, sebagai upaya meneladani, seluruh gaji saya akanlah saya alokasikan pada publik, pada kebutuhan dasar kita semua: sandang, pangan, dan juga papan—serta pendidikan! Saya akanlah jadi penggali kubur di bawah komando Pak Tua. Secara lahir, saya tidak ada bedanya dengan sekalian warga… Saya harap, kita bisa terus berupaya menemukan jawaban: Kenapa manusia mati, dan bagaimana kematian yang baik bagi seorang manusia? Kita juga mesti ingat wejangan profesor kita: Perkuburan adalah drama tragedi di mana sang mayat adalah pahlawan tragik, adalah pusat dari perhatian drama; dan para pelayat adalah paduan suara, adalah dinding hidup yang bergema. Jadi, mari kita lantunkan sajak lama itu bersama…”

2.

Hari pertama amat mengejutkan. Sang wakil walikota baru, yang adalah titipan pemerintah pusat, duduk di ruang kerja yang menghadap ke arah perkuburan. Ia merasa dicekam oleh suatu yang entah. Hanya sunyi dan sepi, hanya sunyi dan sepi, hanya sunyi dan sepi, serta buku-buku di sana-sini. Ia keluar ruangan, sebab merasa sudah bekerja seharian; tetapi betapa terkejutnya ia ketika keluar, sebab waktu hanya berjalan sejam. Gila, ini bukan kantor, ini penjara, ucapnya dengan begitu geram, ini lebih kepada suatu ruang penghakiman! Dan, betapa terkejutnya ia ketika mendapati walikotanya, mendapati sang sarjana sastra yang dulunya adalah wakil dari profesor ternama, tengah menulis sebuah surat laporan kerja pemerintahan dalam bentuk esai lirik-naratif—yang entah bagaimana begitu nyaman dibaca! Ia dapati suatu aroma kota yang begitu menikam, aroma kota yang betah membawanya pada sunyi masa silam…

Pak Walikota, apakah Bapak betah di sini? tanya wakil walikota baru itu.

Ya, saya betah, jawab sarjana sastra yang kini jadi walikota. Saya sangat betah…

Akan tetapi, makin lama, wakil walikota baru itu telah terbiasa. Ia bahkan menjadi jatuh cinta pada pekerjannya. Ilmu politik dan hukum yang dipelajarinya di bangku kuliah sekarang dipertanyakannya lagi. Ia tak mengutuki hukuman mati; dan, setelah bekerja di kota ini, ia kini memahami, hukuman paling berat bukan hukuman mati, tetapi, hukuman hidup. Maka, setelah sampai pada pemahaman itu, ia melepaskan hartanya dan berkata serupa si sarjana sastra: Harta saya untuk seluruh warga, dan saya akan jadi seorang petani. Maka, makin miriplah sang wakil walikota dengan si walikota: berambut panjang, digelung, bersarung, dan juga berpakaian batik megamendung. Sejak semula seluruh warga tidak membencinya; dan kini seluruh warga malah makin mencintainya, menyayanginya sebagai pemimpin, sebagai abang, sebagai anak—

Ya, walikota dan wakil walikota baru itu masih bisa dikata muda; belumlah ada empat puluh berusia. Mereka adalah jenis jenius-cerdas dari lahir; sehingga tidaklah heran lekas lulus. Mereka amat senang menerima tamu, bahkan kanak—yang datang dan bertanya hal mengelitik. Di sana, tugas camat dan lurah adalah mengantar para tamu itu. Dan, tugas RT dan RW adalah memimpin kelompok tani atau penggali kubur dalam atau kunjungan ke luar kota. Dan, betapa, pernah seorang anak bertanya kepada salah satu di antara mereka…

Pak Walikota, duluan mana, ayam atau telur?

Kamu memang pandai, Nak. Begini, kalau menurut Bapak, jawabannya ayam.

Kenapa, Pak?

Sebab, bila telur dulu, siapa yang akan mengeraminya?

Dan, sang kanak puas, lantas pulang dengan gembira: dan giat belajar kembali.

Kota itu banyak pula melahirkan sarjana. Dan sekalian sarjana itu betah saja meneladani sang walikota yang sarjana sastra itu, pun wakilnya yang sarjana hukum. Setelah mendapatkan gelar dari kota-kota sebelah, para sarjana itu pulang dan membangun kotanya: dengan tetaplah berpijak dan berkiblat pada perkuburan, pada kematian…!

3.

Pemerintah pusat sudahlah muak dengan kota kecil yang terlampau ganjil itu: sebuah kota yang perlahan menjelma seperti daerah perdikan, menjelma sebuah kota-negara yang merdeka dan tak bisa diganggu gugat. Badan peneliti sudahlah berkata, bahwa kandungan di bawah kota itu amatlah kaya: segala kekayaan mineral dan hasil bumi ada di dalam tanah kota itu. Namun, kota itu betah saja dijadikan sbeuah kota perkuburan: kota bagi para mayat dan penggali kubur. Segala cara sudahlah dicoba oleh pemerintah pusat, tetapi gagal dan gagal saja… Dan akhirnya, jalan itu pun diambil: meracuni sumber air!

Sekalian warga perlahan mulai jatuh sakit dan meninggal—

Sebuah endemi terjadi; dan makin hari para warga pun mulai berkurang dan berkurang. Dan obat-obatan yang dikonsumsi-dibuat oleh dokter-dokter di kota itu pun tak bisa menahan penyakit dari racun itu. Pemerintah pusat menawarkan sejenis obat, asal mereka mau menjual dan menyerahkan tanah-tanah di kota itu, agar dikelola menjadi tambang. Namun, para warga masih betah pada kiblat mereka: perkuburan, maut yang pasti akanlah datang. Dan yang tersisa tinggal walikota dan sang wakil, tinggal sang sarjana sastra dan sarjana hukum yang amatlah cendekia miliki kepala!

Pak, ucap sang wakil walikota lemah, sepertinya saya dulu yang akan mati, yang akan dikuburkan… Sebelum saya mati, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan ke Bapak… Apa Bapak mau menjawabnya?

Sang walikota yang sarjana sastra itu pun mengangguk—

Apa yang akan Bapak lakukan setelah saya mati, setelah Bapak genap menjadi seorang terkakhir yang hidup dan menyaksikan kematian demi kematian warga Bapak, kematian dari kawan, keluarga, dan orang-orang yang Bapak cintai?

Aku akan berkhotbah pada diriku sendiri… Aku akan menguburkanmu dengan pantas. Aku akan menziarahi setiap perkuburan yang ada di kota ini, memanjatkan doa satu per satu, dan menabur bunga dengan perlahan dan tidak tergesa. Lalu, aku akan menggali lubang untuk diriku sendiri, dan berbaring di sana menatap luas langit: menanti maut genap menjemput…

Saya sungguh bersyukur mendengarnya, Pak, ucap sang wakil walikota dengan suara yang kian lemah. Namun, izinkanlah saya bertanya satu hal lagi, Pak… Ya, siapakah yang akan menziarahi Bapak setelah Bapak mati?

Sang walikota pun tersenyum dan membacakan potongan sajak itu—

Aku sekarang orangnya bisa tahan, sudah berapa waktu bukan kanak lagi…

4.

Sekalian mesin telah mati, sekalian buruh telah menepi, dan hanya menyisakan dirimu di sana. Dan, dengan menyatukan sepasang tangan, kau berdiri dari tepi tambang… Betapa kau bukan seorang yang taat beragama; tetapi, setelah menemu buku harian saat bekerja, setelah menemu buku harian dari sarjana hukum yang menjelma wakil walikota dari kota yang dihapus negara, kau memutus membuat semacam ritus: menyebut nama-nama yang ada di dalam halaman akhir buku harian itu sebelum pulang-menepi. Amin. []

(2020—2026)

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news