700.000 Anak Sekolah Terdeteksi Alami Gejala Kecemasan dan Depresi

15 hours ago 8

700.000 Anak Sekolah Terdeteksi Alami Gejala Kecemasan dan Depresi Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. / Antara

Harianjogja.com, JAKARTA—Hasil skrining program Cek Kesehatan Gratis periode 2025–2026 menunjukkan hampir 10% atau sekitar 700.000 anak sekolah di Indonesia mengalami indikasi masalah kesehatan jiwa.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan temuan ini menjadi peringatan besar bagi orang tua dan guru untuk lebih peduli pada kondisi psikologis anak.

CKG yang dilakukan di sekolah adalah pemeriksaan kesehatan bagi anak usia sekolah untuk mengidentifikasi faktor risiko kesehatan. Pemeriksaan ini juga bertujuan mendeteksi kondisi pra-penyakit maupun penyakit sejak dini, termasuk kesehatan jiwa.

Pemeriksaan dalam program tersebut diberikan sesuai kelompok umur dan jenjang pendidikan anak. Salah satu aspek yang diperiksa adalah kondisi kesehatan mental yang dinilai penting untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan hasil skrining menunjukkan cukup banyak anak yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena dapat berdampak pada kesejahteraan anak dalam jangka panjang.

“Ini menunjukkan masalah kesehatan jiwa itu besar sekali,” kata Budi dikutip dalam pernyataan resmi, Senin (9/3/2026).

Budi menjelaskan dari sekitar 7 juta anak yang telah menjalani pemeriksaan, terdapat ribuan anak yang menunjukkan gejala kecemasan dan depresi. Kondisi ini menunjukkan pentingnya deteksi dini agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.

Berikut hasil skrining kesehatan jiwa pada anak melalui program CKG:
- Gejala kecemasan (Anxiety Disorder) ditemukan pada sekitar 4,4% anak atau sekitar 338.000 anak.

- Gejala depresi (Depression Disorder) ditemukan pada sekitar 4,8% anak atau sekitar 363.000 anak.

Menurut Budi, masalah kesehatan mental pada anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu. Lingkungan keluarga, pertemanan, hingga kondisi pendidikan juga dapat mempengaruhi kesehatan mental anak. “Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar. Kita perlu mensosialisasikan life skill dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Semua orang pasti menghadapi tekanan, namun yang terpenting adalah bagaimana meresponnya dengan baik,” katanya.

Data lain juga menunjukkan adanya peningkatan tren percobaan bunuh diri pada anak. Berdasarkan Global School-Based Student Health Survey, angka anak yang mencoba bunuh diri meningkat dari 3,9% pada 2015 menjadi 10,7% pada 2023.

Untuk menindaklanjuti temuan tersebut, pemerintah menargetkan perluasan skrining CKG agar menjangkau lebih banyak anak di seluruh Indonesia. Program ini diharapkan dapat membantu menemukan masalah kesehatan sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, mengatakan hasil pemeriksaan kesehatan anak akan ditindaklanjuti oleh fasilitas kesehatan terdekat. Puskesmas nantinya akan memberikan penanganan lanjutan bagi anak yang terdeteksi memiliki risiko masalah kesehatan mental.

Pemerintah juga berupaya memperkuat layanan kesehatan mental di tingkat layanan primer. Saat ini jumlah psikolog klinis di Puskesmas masih terbatas, yakni sekitar 203 orang di seluruh Indonesia.

Untuk memperkuat penanganan krisis kesehatan mental, pemerintah juga menyiagakan layanan dukungan melalui platform digital. Layanan tersebut dapat diakses masyarakat melalui situs Healing119.id yang menyediakan bantuan dalam situasi darurat kesehatan jiwa.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news