AI Makin Cepat, AS Dihadapkan pada Pilihan Sulit: Keamanan atau Keunggulan atas China?

2 hours ago 1

Jumali

Jumali Kamis, 17 September 2026 13:27 WIB

 Keamanan atau Keunggulan atas China?

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA— Perdebatan mengenai seberapa cepat kecerdasan buatan (AI) boleh dikembangkan kembali menguat di Amerika Serikat. Sejumlah pemimpin perusahaan AI dan peneliti menyerukan agar pengembangan teknologi AI paling canggih diperlambat demi memperkuat pengujian dan pengamanannya.

Di sisi lain, kepentingan keamanan nasional membuat perlambatan tidak sesederhana menghentikan pengembangan teknologi. Sejumlah pejabat dan pembuat kebijakan AS menilai mempertahankan keunggulan AI juga penting karena persaingan teknologi dengan China semakin erat.

Perdebatan tersebut mempertemukan dua kekhawatiran yang berbeda. Kelompok yang mendorong perlambatan melihat risiko dari sistem AI yang berkembang lebih cepat daripada kemampuan manusia mengawasinya. Sementara pihak yang menekankan keunggulan strategis khawatir bahwa jeda pengembangan justru dapat membuat AS kehilangan posisi terhadap negara pesaing.

Pemimpin AI Serukan Pengembangan Lebih Terukur

Seruan terbaru datang dari CEO Anthropic Dario Amodei. Ia meminta industri untuk memperlambat laju pengembangan model AI frontier agar sistem keamanan dan evaluasi dapat mengikuti peningkatan kemampuan teknologi.

Seruan tersebut mendapat dukungan dari CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk. Altman menyatakan setuju bahwa pengembangan model AI frontier perlu “dipacu dengan lebih terukur”, sementara Musk juga mendukung gagasan Amodei.

Amodei tidak menyerukan penghentian seluruh kemajuan AI. Ia mengusulkan sejumlah langkah, termasuk melibatkan evaluator keselamatan independen, membangun standar keamanan bersama di antara perusahaan AI frontier, serta memperkuat kerja sama internasional.

Dorongan tersebut muncul setelah meningkatnya kekhawatiran mengenai kemampuan agen AI melakukan pekerjaan secara mandiri, termasuk aktivitas siber. Sejumlah laporan mengenai agen AI yang mampu melewati pengamanan dan melakukan tindakan di sistem nyata ikut memperkuat tuntutan pengawasan.

AS Khawatir Kehilangan Keunggulan AI

Di tengah seruan tersebut, isu persaingan dengan China menjadi salah satu alasan mengapa perlambatan AI menghadapi tantangan.

Bagi sektor pertahanan AS, AI tidak hanya merupakan teknologi komersial. Kemampuan AI juga berkaitan dengan sistem pertahanan, analisis informasi, keamanan siber, serta kemampuan militer pada masa mendatang.

Sekretaris Angkatan Udara AS Troy Meink menekankan pentingnya mempertahankan posisi terdepan AS dalam perlombaan AI.

“Menang dan tetap terdepan dalam perlombaan AI mungkin adalah hal paling penting untuk Amerika Serikat, baik dari perspektif militer maupun ekonomi. Ini adalah perlombaan yang AS tak boleh kalah,” kata Meink seperti dikutip Politico.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perlambatan pengembangan AI tidak hanya dipandang sebagai persoalan keselamatan teknologi. Ada pula pertimbangan geopolitik mengenai siapa yang akan menguasai teknologi AI paling maju.

Pada saat yang sama, pemerintah AS juga menunjukkan adanya ruang untuk membicarakan risiko AI dengan China. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada September 2026 mengatakan Washington terbuka membahas risiko bersama AI dengan Beijing, meskipun persaingan teknologi kedua negara tetap berlangsung.

Kongres Dorong Pengawasan AI Militer

Perdebatan mengenai keamanan AI juga masuk ke Kongres AS.

Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah penggunaan AI dalam sistem militer dan kebutuhan untuk memastikan adanya pengawasan manusia terhadap keputusan yang berisiko tinggi.

Senator Richard Blumenthal termasuk anggota Kongres yang mendorong pengawasan lebih ketat. Pada 9 September 2026, ia meminta jawaban dari CEO OpenAI Sam Altman terkait laporan mengenai agen AI yang disebut mampu melewati sejumlah pengamanan dan melakukan operasi siber terhadap Hugging Face.

Blumenthal juga menyoroti perlunya audit independen dan mekanisme pengawasan terhadap pengembangan AI. Menurutnya, insiden tersebut menunjukkan bahwa sistem pengamanan perlu diuji bersamaan dengan perkembangan kemampuan AI.

Perhatian tersebut relevan bagi sektor pertahanan karena teknologi agen AI yang semakin otonom berpotensi digunakan untuk berbagai pekerjaan, termasuk aktivitas siber. Namun, tingkat risiko aktual dan kemampuan sistem untuk beroperasi tanpa kendali manusia tetap menjadi objek pengujian dan perdebatan.

Dua Risiko yang Berbeda

Perdebatan AI di AS pada akhirnya memperlihatkan dua jenis risiko yang sama-sama menjadi perhatian.

Kelompok yang mendorong perlambatan khawatir kemampuan AI berkembang lebih cepat daripada sistem pengawasan, sehingga celah keamanan dapat muncul sebelum teknologi benar-benar dipahami.

Sementara itu, kelompok yang menekankan keunggulan strategis melihat risiko lain: apabila AS memperlambat pengembangan sementara negara pesaing terus bergerak, keunggulan teknologi dapat berpindah.

Karena itu, persoalan yang dihadapi AS bukan sekadar memil

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news