Selat Hormuz Terganggu, FAO Soroti Ancaman Krisis Pupuk dan Pangan Global

1 hour ago 1

Newswire

Newswire Kamis, 17 September 2026 14:37 WIB

Selat Hormuz Terganggu, FAO Soroti Ancaman Krisis Pupuk dan Pangan Global

Kapal-kapal komersial dan tanker minyak yang bersiap melintasi Selat Hormuz—salah satu jalur perairan strategis paling krusial bagi arus perdagangan global—masih menunggu di Teluk Oman pada 17 Juni 2026. Antara/Shady Alassar - Andolu Agency

Harianjogja.com, MOSKOW— Gangguan lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz disebut telah memicu kelangkaan pupuk secara global. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menilai kondisi tersebut turut memperburuk pasar pupuk sekaligus mendorong kenaikan harga energi.

Direktur Kantor Penghubung FAO untuk Federasi Rusia, Oleg Kobiakov, menyampaikan hal tersebut kepada RIA Novosti yang dipublikasikan pada Kamis (17/9/2026).

"Gangguan pada lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz menyebabkan kelangkaan pupuk secara global, yang mengakibatkan pada memburuknya situasi di pasar pupuk dan kenaikan harga energi," kata Kobiakov.

Menurut Kobiakov, persoalan yang berkaitan dengan Iran kini tidak lagi sekadar konflik sesaat. Krisis tersebut telah bergeser menjadi masalah sistemik yang berlangsung berkepanjangan.

Konflik Iran Ganggu Selat Hormuz

Krisis tersebut bermula ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sasaran-sasaran di Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu kemudian memicu serangan balasan dari pihak Iran.

Pada pertengahan Juni, Iran dan AS telah menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan permusuhan. Namun, keduanya kemudian kembali saling melancarkan serangan.

Hingga kini, konflik tersebut masih belum terselesaikan. Eskalasi yang terjadi membuat lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz nyaris terhenti.

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam pasokan komoditas energi dunia. Rute tersebut merupakan jalur pasokan utama bagi pasar global untuk minyak mentah, produk minyak bumi, dan gas alam cair.

Gangguan terhadap jalur tersebut kemudian berdampak pada harga bahan bakar. Harga bahan bakar pun naik di sebagian besar negara di seluruh dunia.

Dampak Krisis Hormuz ke Produksi Pangan

Sebelumnya, Kobiakov juga memperingatkan bahwa blokade Selat Hormuz dapat berdampak lebih jauh terhadap sektor pertanian. Menurut dia, kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan produksi dan pasokan pangan global pada semester kedua 2026 dan pada 2027.

"Dampaknya tidak hanya berpengaruh pada tingkat harga saat ini, tetapi juga pada hasil panen di musim-musim berikutnya, sehingga menyebabkan penurunan produksi dan pasokan pangan pada paruh kedua tahun 2026 dan pada 2027," kata Kobiakov kepada RIA Novosti.

Dia menjelaskan produksi pertanian mengikuti kalender tanam dengan jadwal yang tidak fleksibel. Karena itu, gangguan pasokan pupuk dalam waktu tertentu dapat langsung memengaruhi keputusan petani.

Bahkan, penundaan selama beberapa pekan saja dapat memaksa petani mengurangi atau sama sekali tidak menggunakan pupuk. Kondisi tersebut berakibat pada penurunan hasil panen terlepas dari kondisi selanjutnya.

Kobiakov juga menyampaikan analisis FAO mengenai dampak lanjutan dari krisis tersebut terhadap harga pangan dan kondisi ketahanan pangan global.

"Menurut analisis yang dilakukan FAO, berbagai guncangan yang saling terkait akibat krisis ini dapat menyebabkan kenaikan harga pangan serta meningkatnya kondisi kelaparan di negara-negara dan kawasan yang sudah terdampak krisis pangan berkepanjangan atau akut," jelas Kobiakov.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news