
Anggota Komisi D DPRD DIY, Ika Damayanti Fatma Negara (berdiri) menyampaikan materinya dalam bedah buku di Balai Padukuhan Kliripan, Kapanewon Kokap, Kulonprogo, Selasa (15/9)./ Khairul Ma'arif
KULONPROGO—Bedah buku berjudul Menang Sekejap Lost Forever: Fenomena Tragis Judi Online yang Menjerat 4 Juta Orang Indonesia digelar di Balai Padukuhan Kliripan, Kalurahan Hargorejo, Kapanewon Kokap, Kulonprogo, Selasa (15/9) pagi.
Kegiatan yang diinisiasi Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY tersebut menjadi momentum untuk menyosialisasikan budaya membaca sekaligus meningkatkan literasi masyarakat.
Tema judi online (judol) diangkat karena dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini. Anggota Komisi D DPRD DIY, Ika Damayanti Fatma Negara, mengatakan bedah buku tersebut penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai bahaya judol yang dapat berujung pada jeratan pinjaman online (pinjol).
Menurutnya, permainan judol hanya memberikan keuntungan bagi bandar, sedangkan pemain pada akhirnya akan mengalami kerugian.
“Semoga adanya kegiatan ini saling waspada, saling mengingatkan ketika ada yang main judol ataupun judi offline,” katanya saat bedah buku.
Kegiatan tersebut dihadiri masyarakat sekitar dari berbagai kalangan, mulai dari anak muda hingga orang tua, baik laki-laki maupun perempuan. Ika mengatakan bedah buku sengaja menyasar masyarakat perdesaan karena kegiatan semacam ini dibutuhkan untuk meningkatkan minat baca.
Menurut politikus Partai Gerindra tersebut, masyarakat perdesaan relatif jarang membaca buku. Karena itu, kegiatan bedah buku sekaligus sosialisasi budaya membaca perlu dilakukan secara langsung di tengah masyarakat.
“Kalau kegiatannya di sekolah, pelajar kan sedikit banyaknya sudah pasti baca buku, sedangkan di masyarakat umum seperti ini kan belum tentu sepekan baca buku,” kata dia.
Memicu Ketagihan
Editor buku Menang Sekejap Lost Forever: Fenomena Tragis Judi Online yang Menjerat 4 Juta Orang Indonesia, Rio Anggi Fernando, mengatakan judol telah menjadi seperti wabah tanpa gejala ketika seseorang mulai mengalami kecanduan.
Menurutnya, kecanduan judol tidak memiliki batas. Ketika uang habis, pemain akan mencari sumber dana lain, termasuk melalui pinjol, agar tetap bisa bermain.
“Pemain judol awalnya mencari hiburan lantas dikasih menang sehingga ketagihan. Adanya judol, perputaran uang di Indonesia tidak sehat karena sudah dipakai judol, belanja berkurang. Judol lebih merusak karena tidak dibatasi waktunya, baik pagi, siang, sore, tidak terbatas ruang dan waktu,” kata dia.
Rio mengungkapkan pemain judol juga dapat menyembunyikan identitasnya sehingga tidak merasakan tekanan sosial seperti halnya ketika bermain judi secara konvensional. Dalam judi offline, pelaku lebih mudah dikenali sehingga muncul rasa malu atau khawatir diketahui orang lain.
Sementara itu, ketika sudah mengalami kecanduan, pemain judol akan sulit berhenti. Menurut Rio, pemain sering terjebak dalam ilusi bahwa kemenangan akan segera datang setelah kembali melakukan deposit.
“Ilusi kemungkinan seakan memegang algoritma bandar, sebentar lagi menang, top up lagi dianggapnya akan menang. Di saat yang bersamaan ketika sudah kalah tidak dihitung,” ujar dia.
Praktisi, Guntur Yudhianto, membenarkan bahwa judol dan pinjol dapat menjadi persoalan serius bagi masyarakat. Bahkan, tidak sedikit korban yang mengalami tekanan berat hingga melakukan bunuh diri setelah terjerat pinjol dalam jumlah besar akibat kecanduan judol.
Menurutnya, kasus judol semakin banyak karena aksesnya sangat mudah, sementara sebagian masyarakat memiliki banyak waktu luang.
“Wifi gratis, iseng-iseng malah deposit untuk top up memulai judol yang mudah sekali aksesnya sehingga ketika pelakunya anak-anak sangat dimungkinkan,” kata dia.
Guntur berpesan agar peserta bedah buku, khususnya para orang tua, lebih memperhatikan penggunaan ponsel oleh anak-anak mereka agar terhindar dari paparan judol.
Sementara itu, Pustakawan Ahli Madya DPAD DIY, Hadi Pranoto, mengatakan dalam kegiatan tersebut peserta juga diajak membaca buku selama sekitar tiga menit. Setelah itu, peserta diminta menceritakan kembali isi bacaan kepada teman di sebelahnya.
“Dalam rangka untuk mengetahui atau asesmen singkat, masyarakat sudah bisa mengingat. Selain minat membaca, ini adalah daya baca, skill membaca yang mampu menceritakan ulang apa yang sudah dibaca,” kata dia. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

4 hours ago
5
















































