KLIKPOSITIF – Depresi tidak selalu terasa sama sepanjang hari. Bagi sebagian orang, perasaan paling berat justru muncul di pagi hari, sesaat setelah bangun tidur. Kondisi ini kerap disebut sebagai depresi pagi hari atau morning depression. Meski istilah ini belum diakui secara resmi sebagai diagnosis tersendiri dalam pedoman gangguan mental, para dokter menilai keluhan tersebut sering berkaitan dengan depresi klinis. Namun, pada beberapa kasus, suasana hati yang memburuk di pagi hari juga bisa dipicu oleh masalah kesehatan lain yang tidak selalu berhubungan langsung dengan depresi.
Gejala yang Muncul
Depresi pagi hari sering dikaitkan dengan apa yang disebut variasi suasana hati harian (diurnal mood variation), yakni kondisi ketika gejala depresi naik dan turun sepanjang hari. Pada umumnya, suasana hati terasa paling buruk di pagi hari, meski ada juga orang yang justru merasa lebih tertekan pada sore atau malam hari.
Gejala depresi pagi hari mirip dengan tanda-tanda depresi pada umumnya. Seseorang dapat merasa sedih, cemas, dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasanya disukai. Namun, perasaan ini paling kuat dirasakan setelah bangun tidur, dengan keluhan seperti:
-
Tidak memiliki energi untuk memulai hari
-
Mudah tersinggung atau merasa murung
-
Tidur terlalu lama atau justru kesulitan bangun dari tempat tidur
-
Mudah frustrasi tanpa sebab yang jelas
Kemungkinan Penyebab
Depresi pagi hari bisa menjadi bagian dari depresi klinis, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh berbagai kondisi kesehatan lain. Gangguan tidur menjadi salah satu faktor utama. Depresi sering berjalan beriringan dengan kualitas tidur yang buruk. Kurang tidur atau tidur yang tidak nyenyak dapat meningkatkan risiko depresi, sementara depresi itu sendiri bisa membuat seseorang sulit tidur.
Dilansir dari laman WebMd, salah satu penyebab fisik yang kerap luput disadari adalah sleep apnea obstruktif, yaitu kondisi saat pernapasan terhenti sesaat berulang kali selama tidur. Penanganan sleep apnea diketahui dapat membantu meredakan gejala depresi.
Faktor lain adalah hormon stres, terutama kortisol. Tubuh memproduksi kortisol sebagai respons terhadap situasi stres atau ancaman. Hormon ini berperan meningkatkan detak jantung, tekanan darah, kadar gula darah, dan laju pernapasan. Namun, jika kadar kortisol terlalu tinggi dalam jangka panjang, kondisi ini dikaitkan dengan kecemasan, depresi, serta gangguan konsentrasi dan daya ingat.
Secara alami, kadar kortisol memang meningkat setelah seseorang bangun tidur. Pada sebagian orang, respons tubuh terhadap lonjakan hormon ini bisa berlebihan, sehingga memicu perasaan tertekan di pagi hari.
Selain itu, peradangan dalam tubuh juga diduga berperan. Sejumlah penelitian menemukan kadar tinggi zat pemicu peradangan bernama interleukin-6 (IL-6) pada otak penderita depresi dan gangguan mental lainnya. Kadar IL-6 cenderung berfluktuasi, dan pada banyak orang mencapai puncaknya di pagi hari, berdekatan dengan lonjakan kortisol.
Langkah yang Bisa Dilakukan
Jika Anda merasa gejala-gejala ini akrab dan sering dialami, ada beberapa langkah yang bisa ditempuh:
-
Dapatkan diagnosis yang tepat. Konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan untuk memastikan apakah keluhan tersebut sekadar perubahan suasana hati sementara atau bagian dari kondisi medis tertentu.
-
Jaga kesehatan secara menyeluruh. Pola makan seimbang, aktivitas fisik teratur, serta pengelolaan penyakit kronis seperti diabetes dan penyakit jantung berperan besar dalam menjaga kesehatan mental.
-
Tinjau penggunaan obat. Mintalah dokter atau apoteker meninjau obat-obatan yang dikonsumsi, karena efek samping atau interaksi obat tertentu dapat memengaruhi suasana hati, termasuk memicu depresi di pagi hari.
Depresi pagi hari bukan sekadar “bangun dengan perasaan malas”. Jika terjadi terus-menerus dan mengganggu aktivitas, kondisi ini layak mendapat perhatian dan penanganan yang tepat.

4 weeks ago
24


















































