
Wisatawan berkunjung ke kawasan Malioboro, Senin (31/8/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA—Keberadaan portal di kawasan sirip Malioboro mendapat sorotan DPRD Kota Jogja. Wakil Ketua DPRD Kota Jogja, RM Sinarbiyat Nujanat, meminta Pemkot Jogja mengevaluasi pembatas tersebut karena dinilai belum sepenuhnya memperhatikan akses pejalan kaki dan penyandang disabilitas.
Menurut Sinarbiyat, penataan kawasan pedestrian Malioboro hingga kawasan Sumbu Filosofi seharusnya dilakukan secara terintegrasi. Setiap pembangunan ataupun pemasangan fasilitas perlu melalui kajian serta pencermatan terhadap kondisi yang ada di lapangan.
Ia menilai keberadaan portal di sirip Malioboro menjadi contoh penting bahwa aspek sosial kemasyarakatan perlu diperhitungkan sejak awal sebelum suatu kebijakan diterapkan.
"Portal itu tidak dipersiapkan sedemikian rupa, tidak kemudian juga dikaji dengan mempertimbangkan aspek-aspek sosial kemasyarakatan. Akhirnya portal itu kurang mengakomodasi kepentingan masyarakat pejalan kaki dan juga masyarakat disabilitas," katanya, Senin (7/9/2026).
DPRD Minta Kepentingan Pejalan Kaki Diperhatikan
Sinarbiyat meminta persoalan portal tersebut menjadi bahan evaluasi Pemkot Jogja. Terlebih, penataan kawasan pedestrian Malioboro dan Sumbu Filosofi masih akan melalui berbagai tahapan.
Dalam menentukan desain serta posisi pembatas, pemerintah, menurutnya, tidak boleh hanya berfokus pada kebutuhan kendaraan. Kepentingan masyarakat yang berjalan kaki maupun penyandang disabilitas juga harus menjadi bagian utama dalam perencanaan.
"Kalau terkait portal, harus memperhatikan kepentingan para pejalan kaki dan juga kaum disabilitas. Jangan sampai kemudian portal itu akhirnya mengganggu kepentingan masyarakat umum yang nonkendaraan," ujarnya.
Sinarbiyat menegaskan setiap kebijakan penataan kawasan semestinya sudah mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat sejak tahap perencanaan. Langkah tersebut dinilai penting agar fasilitas yang telah diterapkan tidak justru memunculkan polemik setelah direalisasikan.
Karena itu, ia meminta Pemkot Jogja melakukan kajian secara menyeluruh sebelum melanjutkan berbagai program penataan di kawasan Malioboro maupun Sumbu Filosofi.
"Harapan saya apa pun langkah-langkah pemerintah kota terkait dengan persiapan pedestrian dan kawasan Sumbu Filosofi itu betul-betul didasari dengan sebuah kajian, pencermatan di lapangan, kemudian juga betul-betul bisa mengakomodasi kepentingan banyak masyarakat," katanya.
Penataan Malioboro Diharapkan Lebih Inklusif
Sinarbiyat berharap evaluasi terhadap portal di sirip Malioboro dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan kebijakan penataan kawasan yang lebih inklusif. Ia menilai masyarakat seharusnya dapat menikmati hasil penataan dengan aman, nyaman, dan tenang.
Menurutnya, kondisi tersebut dapat terwujud apabila berbagai kebutuhan pengguna kawasan sudah diperhitungkan sejak tahap awal perencanaan. Dengan begitu, fasilitas yang dibangun tidak hanya mempertimbangkan kepentingan kendaraan, tetapi juga masyarakat nonkendaraan.
"Ini yang perlu untuk menjadi evaluasi secara menyeluruh bagi pemerintah kota Jogja," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2
















































