Efek Waisak 2026: Ekonomi Magelang Melejit, Homestay Laris

3 hours ago 1

 Ekonomi Magelang Melejit, Homestay Laris

Foto ilustrasi: Sejumlah Biksu dan umat Budha melakukan Pradaksina mengelilingi Candi Sewu, Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. /Harian Jogja-Gigih M. Hanafi

Harianjogja.com, MAGELANG— Perayaan Hari Raya Waisak di kawasan Candi Mendut dan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya menjadi momen sakral bagi umat Buddha, tetapi juga terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi kreatif dan pariwisata secara signifikan.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar, menegaskan bahwa kegiatan keagamaan berskala besar seperti Waisak memiliki dampak ekonomi yang luas, khususnya bagi pelaku usaha lokal. Mulai dari sektor perhotelan, homestay, kuliner, hingga kedai kopi, semuanya merasakan lonjakan permintaan selama perayaan berlangsung.

“Ini bukan sekadar ibadah, tetapi juga penggerak ekonomi daerah. Wisatawan yang datang tidak hanya mengunjungi candi, tetapi juga berbelanja, menikmati kuliner, dan mencari pengalaman lokal,” ujarnya, Minggu (31/5/2026).

Lonjakan Wisatawan Picu Okupansi Hotel Penuh

Tingginya antusiasme masyarakat dalam merayakan Waisak di Borobudur berdampak langsung pada tingkat hunian penginapan yang melonjak drastis. Irene bahkan mengungkapkan pengalaman pribadinya yang sempat kesulitan mendapatkan hotel saat perayaan tahun sebelumnya.

Untuk menghindari hal serupa, ia mengaku harus memesan akomodasi jauh-jauh hari. Fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa Borobudur semakin diminati sebagai destinasi spiritual sekaligus wisata unggulan.

“Kalau hotel penuh, itu sebenarnya ‘happy problem’. Artinya permintaan tinggi dan banyak orang datang. Ini peluang besar bagi ekonomi lokal,” katanya.

Homestay dan UMKM Ikut Tumbuh

Tidak hanya hotel berbintang, keberadaan homestay di sekitar kawasan Borobudur juga menjadi solusi sekaligus peluang usaha baru bagi masyarakat. Banyak warga memanfaatkan momentum ini dengan membuka penginapan sederhana untuk wisatawan.

Selain itu, pelaku UMKM seperti penjual makanan, minuman, hingga produk kerajinan turut merasakan peningkatan omzet. Aktivitas ekonomi yang meningkat ini menunjukkan bahwa event keagamaan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi daerah.

Event Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Regional

Irene menambahkan, dampak positif ini tidak hanya terjadi di Magelang, tetapi juga terlihat di wilayah lain seperti Yogyakarta, Solo, dan Semarang yang rutin menggelar event budaya dan festival.

Kegiatan-kegiatan tersebut terbukti mampu meningkatkan kunjungan wisata, memperpanjang lama tinggal wisatawan, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat lokal.

Di akhir pernyataannya, Irene menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan, gotong royong, dan kolaborasi lintas sektor agar manfaat ekonomi dari event keagamaan dan budaya bisa terus berkelanjutan.

“Kita harus hidup damai, saling bekerja sama, dan membangun bersama agar manfaatnya bisa dirasakan lebih luas,” tegasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news