Jumali Kamis, 23 Juli 2026 16:47 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Kabar menggembirakan datang dari dunia penelitian kesehatan mental bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Hasil studi terbaru dari North Carolina State University (NC State) mengungkapkan bahwa mendengarkan kicauan burung hanya selama 10 menit dapat memberikan efek yang signifikan terhadap kesehatan psikologis.
Penelitian yang dipimpin oleh Profesor Nils Peterson ini menunjukkan bahwa suara alam mampu meredakan stres, meningkatkan suasana hati, dan menyegarkan pikiran. Temuan ini menjadi sangat relevan mengingat keterbatasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan yang semakin sempit dan minimnya akses masyarakat terhadap alam. Bagi warga kota yang kerap dilanda kelelahan mental, kabar ini tentu menjadi angin segar yang menawarkan solusi sederhana dan mudah dijangkau.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mana yang memberikan dampak psikologis lebih besar: pemandangan alam atau suara-suara alam. Tim peneliti melibatkan 106 mahasiswa di kampus Raleigh sebagai partisipan.
Setiap peserta diminta untuk duduk selama 10 menit di dua lokasi yang berbeda. Lokasi pertama adalah kawasan hutan tepi sungai Rocky Branch yang hijau dan tenang, sementara lokasi kedua adalah area alun-alun perkotaan yang dikelilingi oleh bangunan tinggi dan jalan raya yang ramai. Selama berada di lokasi tersebut, para peserta mengenakan penutup telinga (noise-canceling headphones) yang memutarkan rekaman kicauan burung di rawa Florida atau rekaman bising lalu lintas di persimpangan kota Paris.
Desain eksperimen ini memungkinkan para peneliti untuk memisahkan pengaruh visual dan audio dari lingkungan sekitar, sehingga dapat diketahui secara pasti faktor mana yang paling dominan memengaruhi kesehatan mental.
Hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Urban Forestry & Urban Greening menunjukkan temuan yang menarik. Kombinasi berada di area hijau sembari mendengarkan kicauan burung menghasilkan dampak paling positif terhadap kesehatan mental para peserta.
"Bagi peserta yang berada di ruang hijau sambil mendengarkan suara burung, terdapat efek yang signifikan," kata Peterson dikutip dari Earth.
"Emosi positif meningkat, emosi negatif menurun, tingkat stres berkurang, dan persepsi pemulihan diri meningkat lebih tinggi dibandingkan kombinasi lainnya," lanjutnya.
Penelitian ini membuktikan bahwa ada sinergi antara elemen visual dan audio yang berasal dari alam. Keduanya saling melengkapi dan memperkuat efek terapeutik yang dirasakan oleh individu yang terpapar oleh lingkungan alami.
Sebaliknya, peserta yang berada di area perkotaan sembari mendengarkan suara lalu lintas mengalami efek yang berbanding terbalik. Mereka melaporkan peningkatan emosi negatif, stres, dan penurunan persepsi pemulihan diri. Sementara itu, kombinasi yang tidak sesuai, seperti mendengarkan kicauan burung di area beton atau suara lalu lintas di dalam hutan, menunjukkan hasil yang beragam dan tidak konsisten.
Menariknya, lokasi fisik kawasan hijau ternyata memberikan pengaruh pemulihan mental yang lebih dominan dibandingkan sekadar suara. Mendengarkan kicauan burung di ruang terbuka hijau memberikan hasil terbaik, sedangkan mendengarkan suara bising lalu lintas saat berada di hutan tetap dapat menekan manfaat terapeutik dari alam.
Dengan kata lain, berada di alam fisik tetap menjadi faktor kunci, tetapi suara yang menyertai dapat memperkuat atau melemahkan efek pemulihan tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya menjaga kualitas lanskap suara (soundscape) di kawasan perkotaan sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat.
Profesor Peterson menekankan bahwa menanam pohon di kota tidak hanya menyediakan pemandangan hijau, tetapi juga menciptakan habitat bagi burung-burung yang kicauannya memberikan manfaat kesehatan mental bagi masyarakat.
Dengan demikian, perencanaan kota yang baik harus mempertimbangkan tidak hanya aspek estetika dan fungsi ekologis, tetapi juga elemen akustik yang dapat memengaruhi kesejahteraan penduduknya. Bagi masyarakat perkotaan, temuan ini memberikan panduan sederhana: jika ingin menyegarkan pikiran, carilah taman atau ruang hijau terdekat, luangkan waktu sejenak, dan dengarkan suara alam di sekitar. Jika burung tidak terdengar, rekaman kicauan burung dari ponsel pun dapat menjadi alternatif yang bermanfaat.
Penelitian ini membuka jalan bagi kebijakan publik yang lebih holistik dalam merancang kota yang sehat, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental. Di tengah kesibukan dan kebisingan kota, kehadiran alam—baik visual maupun auditori—adalah resep sederhana namun ampuh untuk menjaga kesehatan jiwa. Dengan memahami hubungan antara suara, pemandangan, dan kesehatan mental, kita dapat menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih ramah dan mendukung kesejahteraan seluruh warganya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2

















































