Fadly Amran Hadiri Aksi Masak Rendang LKAAM Sumbar dan Gebu Minang, 5 Ton Bantuan Disiapkan untuk Korban Gempa NTT

3 hours ago 2

promo hayati padang agustus

PADANG, KLIKPOSITIF — Semangat gotong royong masyarakat Minangkabau kembali diwujudkan dalam aksi kemanusiaan. Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat bersama Gerakan Ekonomi dan Budaya Minangkabau (Gebu Minang) Sumbar menggelar aksi memasak rendang untuk membantu masyarakat yang terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Aksi kemanusiaan tersebut berlangsung di Kantor LKAAM Sumbar, Senin (17/8/2026), bertepatan dengan momentum peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Kegiatan itu dihadiri Wali Kota Padang Fadly Amran yang juga Ketua DPW Gebu Minang Sumbar, Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar, jajaran pengurus LKAAM Sumbar dan Gebu Minang Sumbar, Bundo Kanduang, serta Himpunan Pengusaha Randang Minangkabau (Hipermi).

Rendang dipilih sebagai bentuk bantuan bukan tanpa alasan. Makanan khas Minangkabau tersebut dikenal memiliki daya tahan yang relatif lama, siap santap, serta praktis untuk dikonsumsi. Karakteristik itu dinilai sangat sesuai untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang berada di wilayah terdampak bencana.

LKAAM Sumbar dan Gebu Minang Sumbar menargetkan sebanyak 5 ton rendang untuk dikirimkan secara bertahap kepada masyarakat terdampak gempa bumi NTT yang terjadi pada 15 Agustus 2026. Bencana tersebut menyebabkan korban jiwa serta kerusakan pada rumah warga dan sejumlah infrastruktur.

Di tengah aktivitas memasak yang dilakukan secara gotong royong, Fadly Amran mengapresiasi gerak cepat LKAAM dan Gebu Minang Sumbar dalam merespons musibah yang terjadi di NTT.

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian masyarakat Minangkabau terhadap sesama, sekaligus mencerminkan nilai adat dan budaya yang selama ini melekat kuat dalam kehidupan masyarakat.

“Kita patut memberikan apresiasi kepada Gebu Minang Sumbar dan LKAAM Sumbar yang begitu cepat mengambil langkah untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana. Ini merupakan bentuk kepedulian para niniak mamak kepada anak kemenakan yang sedang menghadapi musibah,” kata Fadly.

Fadly menilai semangat kemanusiaan seperti itu harus terus diperkuat. Menurut dia, bencana dapat terjadi di mana saja dan kapan saja sehingga kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah tidak cukup hanya diwujudkan dalam bentuk simpati, tetapi harus hadir melalui tindakan nyata.

Ia pun mengajak berbagai elemen masyarakat di Sumatera Barat untuk ikut mendukung gerakan kemanusiaan tersebut agar target 5 ton rendang dapat segera dipenuhi.

“Kami juga mengajak berbagai pihak di Sumbar untuk bersama-sama mendukung gerakan kemanusiaan ini. Ketika Kota Padang mengalami gempa bumi pada 2009 dan bencana hidrometeorologi pada 2025 lalu, banyak pihak yang datang membantu. Karena itu, saat saudara-saudara kita di NTT menghadapi musibah, sudah sepatutnya kita hadir dan memberikan bantuan,” ujarnya.

Untuk mempercepat proses penyediaan bantuan, Fadly meminta LKAAM Sumbar dan Gebu Minang Sumbar memanfaatkan Sentra Rendang Kota Padang. Pemerintah Kota Padang, kata dia, siap memberikan dukungan agar kebutuhan rendang yang ditargetkan tersebut dapat segera terpenuhi.

Menurut Fadly, dukungan tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat keberadaan Sentra Rendang Kota Padang. Selain sebagai pusat produksi dan pengembangan kuliner khas Minangkabau, sentra tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung berbagai aksi sosial dan kemanusiaan.

“Ketika bencana terjadi, tentu kita harus mengikhlaskan bahwa ini adalah sebuah cobaan. Setelah itu, kita harus bekerja keras dan berupaya meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak. Inilah esensi dari pertemuan kita pada hari ini,” katanya.

Sementara itu, Ketua LKAAM Sumbar Fauzi Bahar mengatakan bantuan rendang tersebut akan dikirimkan secara bertahap. Dari target 5 ton, sebanyak 700 kilogram rendang telah dikirim terlebih dahulu melalui penerbangan TNI Angkatan Udara.

Bantuan tersebut selanjutnya akan disalurkan kepada masyarakat yang terdampak bencana di NTT. Pengiriman secara bertahap dilakukan untuk memastikan bantuan dapat segera diterima masyarakat sembari proses produksi rendang terus dilanjutkan.

“Target kita sebanyak 5 ton rendang, dan akan kita kirim secara bertahap. Kami berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana di NTT,” ujar Fauzi.

Ia menjelaskan, pemilihan rendang sebagai bantuan pangan juga mempertimbangkan kondisi di lokasi bencana. Rendang tidak membutuhkan proses pengolahan yang rumit sebelum dikonsumsi dan memiliki ketahanan yang baik sehingga dinilai tepat untuk didistribusikan ke wilayah terdampak bencana.

“Kita memilih rendang karena merupakan makanan yang siap santap, tahan lama, dan praktis dikonsumsi oleh warga di lokasi bencana. Mudah-mudahan bantuan ini dapat bermanfaat, dan menjadi bagian dari kepedulian masyarakat Minangkabau untuk saudara-saudara kita yang sedang menghadapi musibah,” katanya.

Fauzi menambahkan, pengadaan bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi dan gotong royong berbagai unsur masyarakat Minangkabau. Selain LKAAM dan Gebu Minang, gerakan tersebut turut melibatkan Bundo Kanduang, Hipermi, serta Gebu Minang Peduli.

Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa semangat membantu sesama tidak hanya menjadi tanggung jawab satu kelompok, tetapi dapat digerakkan bersama melalui kekuatan sosial masyarakat.

Aksi memasak rendang di Kantor LKAAM Sumbar pun menjadi gambaran bagaimana nilai gotong royong masih hidup di tengah masyarakat. Di saat masyarakat di NTT berjuang menghadapi dampak gempa, masyarakat Minangkabau memilih hadir dengan kemampuan yang dimiliki, salah satunya melalui makanan yang telah menjadi bagian penting dari identitas budaya Minangkabau.

Bantuan 5 ton rendang tersebut diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak, tetapi juga menjadi pesan solidaritas bahwa masyarakat yang sedang tertimpa bencana tidak menghadapi musibah seorang diri.

Dari Sumatera Barat, rendang dikirim bukan sekadar sebagai makanan, melainkan sebagai simbol kepedulian, persaudaraan dan semangat gotong royong untuk meringankan beban saudara sebangsa yang tengah menghadapi cobaan.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news