PADANG, KLIKPOSITIF — Apa kabar? Bertemu lagi melalui tulisan hari ini. Sebenarnya bukan pembahasan yang terlalu menarik untuk akhir pekan, namun mari kita coba bahas secara ringan.
Gate Keeper
Di dalam dunia politik, dikenal istilah gate keeper, penjaga pintu, penjaga gerbang. Belum bisa dipastikan negara mana saja yang memiliki konvensi seperti ini dalam sistem politik mereka, tetapi istilah gate keeper tidak asing dalam politik Amerika Serikat, dan juga Cina.
Pada buku yang bercerita tentang para Senator di zaman Kennedy, dijelaskan bahwa Amerika Serikat memiliki anggota-anggota kongres, senat, dan pimpinan partai politik yang memiliki peran sebagai gate keeper ini (walaupun kekinian peran ini mulai terkikis). Dalam politik AS, kaya saja tidak cukup untuk menjadi calon presiden, apalagi menjadi presiden.
Gate keeper inilah yang menjaga kekayaan Henry Ford, JP Morgan, T.E Edison tidak serta merta bisa “membeli” jabatan Presiden. Namun harus sosok yang memiliki rekam jejak, pengalaman, pengetahuan dan seabrek persyaratan lainnya. Ditambah lagi sistem politik AS yang cenderung check power with power antara lembaga kepresidenan (eksekutif) dengan legislatifnya, masih ada harapan pada check and balances policynya.
Cina, mungkin lebih keras lagi. Gate keeper di Cina adalah sistem, hierarki, merit. Walaupun tidak mungkin sempurna, tetapi jelas ada “ideologi” dalam memilih calon pemimpin. Gita Wiryawan dalam sebuah forum diskusi pernah mengatakan kepandaian berjoget dan viralisme semata tidak akan mengantarkan seseorang ke kursi kepemimpinan di Cina.
Dua negara (AS dan Cina), dua ideologi, dua sistem politik yang berbeda, namun memiliki gate keeper nya masing-masing. Intinya, gate keeper adalah pihak yang bertanggung jawab agar proses suksesi kepemimpinan terjaga kualitas penyelenggaraan dan outputnya. Bagaimana dengan negara yang lain ?
Viralism Bubble
Ada satu hal yang menjadi satu masalah mendasar dalam demokrasi. Bukan soal jumlah suara, namun kualitas dari suara itu sendiri. Pada sistem demokrasi langsung, masalah mendasar itu (kualitas suara) menjadi kian prinsipil dan mengkristal.
Para gate keeper menjadi kian tidak berdaya di hadapan sistem one man one vote. Menolak, berarti mengambil posisi sebagai pihak yang tidak populis. Menerima, berarti harus menahan hati melihat kualitas kepemimpinan yang dihasilkan dari viralisme. Para gate keeper harus memakan buah simalakama.
Disrupsi pada zaman media sosial menjadikan viralisme tidak terhindarkan. Sekaligus menggeser posisi gate keeper ke luar arena. Mayoritas dari gate keeper akhirnya lebih memilih bergabung kepada arus viralisme. Sisanya yang mempertahankan nilai-nilai kuno, pensiun dengan sendirinya.
Viralisme belum tentu sepenuhnya buruk. Jika dilengkapi dengan intelektualitas, integritas, dan etikabilitas. Namun suksesi kepemimpinan yang mengedepankan viralisme, sudah menjadi contoh di beberapa negara berkembang. Mayoritasnya tidak berakhir dengan baik.
Pertanyaannya, siapa yang akan menjadi gate keeper di sistem demokrasi langsung ? Di era viralism bubble ?

6 hours ago
1


















































