
Suasana peringatan puncak hari Indonesia menabung yang digelar OJK DIY di SRMA 19 Bantul, Rabu 26/8/2026).
BANTUL — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mendorong pelajar Sekolah Rakyat membangun kebiasaan menabung sekaligus meningkatkan literasi keuangan sejak usia dini. Pesan tersebut disampaikan dalam puncak peringatan Hari Indonesia Menabung di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 19 Bantul, Rabu (26/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti pelajar SRMA 19 Bantul dan SRMA 20 Sleman. Kepala OJK DIY, Eko Yunianto, mengatakan kebiasaan menabung merupakan salah satu langkah untuk membangun pengelolaan keuangan yang bijak sejak usia muda.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan, indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 69,57%, sedangkan indeks inklusi keuangan sebesar 93,61%. Sementara itu, di DIY, indeks inklusi keuangan mencapai 98% atau berada di peringkat kedua nasional. Adapun indeks literasi keuangan DIY sebesar 76% dan menempati peringkat ketujuh nasional.
“Masih ada kesenjangan sekitar 22%. Dari 100 masyarakat kita, 93 di antaranya sudah mengakses produk dan layanan keuangan, tetapi yang memahami soal produk itu baru 69. Masih ada yang sudah menggunakan produk keuangan tetapi belum memahami manfaat dan risikonya,” kata Eko.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan OJK terus mendorong program peningkatan literasi dan inklusi keuangan, terutama bagi generasi muda. Salah satunya melalui peringatan Hari Indonesia Menabung.
Eko mengatakan menabung tidak sekadar menyisihkan uang, tetapi juga menjadi sarana untuk belajar disiplin, menentukan prioritas, dan bertanggung jawab terhadap kondisi keuangan.
Selama Mei hingga 18 Agustus 2026, OJK mencatat terdapat 381 kegiatan edukasi keuangan dengan jumlah peserta lebih dari 26.000 orang. Dari kegiatan tersebut, industri jasa keuangan juga memfasilitasi pembukaan lebih dari 7.000 rekening dengan nominal mencapai Rp7,7 miliar.
Khusus kegiatan yang menyasar pelajar dan mahasiswa, tercatat 166 kegiatan dengan 14.540 peserta. Kegiatan tersebut menghasilkan 5.277 pembukaan rekening baru dengan nominal sekitar Rp1,2 miliar.
Eko juga mengingatkan pelajar agar berhati-hati dalam menggunakan layanan keuangan digital. Kemudahan transaksi di era digital harus diikuti dengan pemahaman terhadap risiko, termasuk saat menerima tawaran investasi maupun pinjaman online.
Kepala SRMA 19 Bantul, Agus Ristanto, mengatakan kebiasaan menabung perlu ditanamkan kepada siswa sebagai bagian dari pembentukan karakter.
“Menabung bukan berarti pelit atau kikir. Menabung adalah bukti bahwa kita sayang kepada diri sendiri dan orang tua,” ujarnya.
Dia mencontohkan uang Rp2.000 yang disisihkan secara rutin dapat terkumpul dan menjadi modal bagi siswa di masa depan. Karena itu, Agus berharap Hari Indonesia Menabung tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal terbentuknya budaya menabung di lingkungan asrama.
“Dari Bantul, kita cetak generasi yang cerdas, berkarakter, dan melek finansial,” kata dia.(Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2

















































