Newswire Rabu, 26 Agustus 2026 17:47 WIB

Foto ilustrasi kapal tanker pengangkut minyak dan gas alam cair. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA— Produksi minyak nasional hingga Juli 2026 masih belum mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat rata-rata produksi minyak baru mencapai 578.156 barel per hari (bopd), sementara target produksi minyak 2026 mencapai 610.000 boepd.
Dirjen Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah masih berupaya mengejar target tersebut. Realisasi produksi hingga 31 Juli 2026 masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
"Sampai dengan 31 Juli, rata-rata produksi minyak itu ada di angka 578,156 barel per day, demikian juga dengan realisasi produksi gas bumi, keduanya memang sampai hari ini masih kita upayakan untuk bisa mencapai target produksi di tahun 2026 ini," kata Laode dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).
Blok Rokan Terkendala Operasional
Laode menjelaskan salah satu faktor yang memengaruhi produksi minyak nasional adalah gangguan operasional di Blok Rokan. Gangguan tersebut terjadi setelah kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) beberapa waktu lalu.
Kebocoran tersebut mengganggu pasokan gas menuju lapangan Blok Rokan dan kemudian berdampak terhadap kegiatan produksi.
Selain persoalan tersebut, Blok Rokan juga menghadapi kendala pada sistem kelistrikan. Kementerian ESDM bersama operator masih mengupayakan perbaikan pembangkit MCTN agar dapat kembali beroperasi secara optimal.
Produksi Blok Cepu Alami Penurunan
Kendala produksi juga terjadi di Blok Cepu. Wilayah kerja tersebut mengalami natural decline atau penurunan produksi secara alamiah yang cukup ekstrem pada 2026.
Kementerian ESDM telah berdiskusi dengan operator untuk mengambil sejumlah langkah guna menekan laju penurunan produksi. Fokusnya adalah mempertahankan produksi Blok Cepu tetap datar sehingga tidak kembali turun.
"Kami sudah melakukan serangkaian diskusi dengan operator lapangan, operator WK, dan sudah diambil langkah-langkah untuk melakukan upaya agar natural decline ini dapat direduksi sehingga saat ini kondisi yang terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar. Jadi jangan turun lagi seperti itu yang kita lakukan dengan lapangan Cepu," papar Laode.
SKK Migas Siapkan Strategi Kejar Target 610.000 Boepd
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan otoritas hulu migas masih memiliki selisih produksi yang harus dikejar untuk mencapai target minyak nasional 610.000 boepd pada 2026.
Strategi yang disiapkan adalah filling the gap melalui sejumlah sumber produksi di luar rencana kerja dan anggaran atau Work Program & Budget (WP&B).
Djoko menyebut masih terdapat selisih sekitar 20.000 bopd untuk mencapai target produksi minyak tahun ini. Kekurangan tersebut terutama bersumber dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) dan ExxonMobil Cepu Ltd. (EMCL).
Secara keseluruhan, potensi shortfall dari dua wilayah kerja tersebut hampir mencapai 50.000 bopd. SKK Migas pun menyiapkan sejumlah langkah tambahan hingga akhir 2026 untuk menutup kekurangan tersebut.
Ada Tambahan dari NGL hingga Sumur Minyak Masyarakat
Salah satu strategi yang disiapkan adalah mengoptimalkan produksi natural gas liquids (NGL) dan kondensat di sisi hilir. Upaya ini diperkirakan dapat memberikan tambahan produksi sekitar 2.000 bopd.
SKK Migas juga berusaha mencairkan stok minyak yang tersimpan dan belum dapat disalurkan atau dead stock. Djoko menyebut terdapat sekitar 6,8 ribu barel minyak yang masih membeku di tangki.
Sumber tambahan lainnya berasal dari optimalisasi produksi sumur minyak masyarakat. SKK Migas berharap sumber tersebut mampu memberikan tambahan sekitar 5.000 bopd hingga Desember 2026.
"Kemudian untuk NGL hilir tadi bisa 2.000 bopd, untuk dead stock 6,8 ribu barel. Optimasi sumur masyarakat tadi bisa 5.000 bopd," ucap Djoko.
Selain berbagai langkah tersebut, SKK Migas masih memiliki ruang untuk mengejar tambahan produksi melalui program kerja masif yang telah tercantum dalam WP&B.
Djoko mengatakan realisasi kegiatan tersebut berpotensi menjadi sumber produksi tambahan apabila hasilnya melampaui target yang telah ditetapkan. Jika hasil produksi melebihi target, tambahan yang bisa diperoleh mencapai 4.500 bopd.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

1 hour ago
2

















































