Inaq dan Selusin Perkara Gawat

2 weeks ago 16

Program MEDAL Of Honda Klikpositif

Perkara Gawat ke-1.

Inaq telah melepas beban pikirannya secara utuh. Sepertinya ringan dan mudah. Inaq Memulai ulang kesehatan mentalnya dari titik terrendah. Hal ini bukan perkara baik. Justru di sinilah letak persoalan terberat dalam kehidupan kami semua.

“Inaq sudah pikun, Su. Bahkan lebih dari pikun,” tutur adikku Upeng dari telepon. Runut diceritakan semua tingkah laku Inaq yang aneh dan memprihatinkan tiga pekan terakhir ini. Tentu saja aku shock dan sempat membuat kepala pusing tidak karuan. Ditambah telepon dari Bape membenarkan dan menjelaskan lebih detail sembari hampir-hampir menangis.

“Kita kehilangan Inaq-mu yang dulu, Su,” keluh Bape. Ia pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa. Sebisa mungkin untuk saat-saat ini, Inaq tidak pergi kemana-mana. Sebab akan membikin malu dengan sikapnya yang sudah drastis berubah. Inaq bukan lagi menjadi dirinya yang dikenal banyak orang.

Bagaimanapun juga perkara ini berat diterima semua orang. Terbayang-bayanglah dibenak penduduk desa akan resep masakan Inaq yang ikut berhamburan, berserakan, tercecer di jalan-jalan, tanpa kejelasan. Ratusan resep masakan khas Sasak yang ia timba sungguh-sungguh sejak belia. Hilang begitu saja.

Kala gadis sebayanya mengenyam pendidikan sekolah dasar, awal kelas 4 Inaq memutuskan putus sekolah demi mengikuti para pengelinsir (tetua) yang kebanjiran orderan memasak di acara begawe. Ritual adat Sasak tergolong lumayan banyak. Belum lagi hari besar agama dan hajatan kecil seperti; ritual pra nikah yang masak-masak sampai tujuh hari, upacara tujuh bulanan, anaknya lahir, di hari ketujuh musti memasak untuk acara; tahnik, takniah, tahallul atau ngurisan (potong rambut bayi), sunatan, aqiqah. Acara masak-masak dari lahir sampai tahlilan orang meninggal. Sembilan hari, seratus hari, seribu hari. Pergi haji-umrah. Bahkan acara hantaran perceraian itu ada masak-masaknya.

“Baiq Rumintang, untuk apa sekolah tinggi-tinggi, kalau kamu akan berakhir di dapur,” kata sebagian orang yang mendukung keputusannya.

Inaq Imin adalah inen pawon kedua yang mendidiknya menjadi ibu dapur utama setelah Niniq Iloq. Perempuan tua yang menguasai semua resep masakan Lombok di luar kepala. Karena Inaq adalah murid paling muda, maka Inaq menerima berbagai macam tugas-tugas berat. Seperti berkeliling pasar untuk mengumpulkan bumbu masakan. Tidak hanya itu, Inaq muda musti masuk-masuk ke gawah daye, hutan di utara Gunung Rinjani. Perjalanan itu sering ia tempuh seorang diri untuk mencari rempah-rempah yang tidak ditemui di pasar. Setelah itu ia akan seharian bergelut dengan lesung yang melepuhkan jemarinya.

Inaq menjadi ahlinya ahli, bersinar terang setelah banyak pengelinsir inen pawon meninggal dunia. Kala teman sebayanya selesai mengenyam pendidikan SMP. Inaq juga sudah bisa dilepas memimpin tukang ran yang umumnya laki-laki. Memasak di berbagai hajatan dan masakan-masakan Inaq tidak pernah gagal memanjakan lidah siapapun.

Kami akan merindukan masakannya yang sudah dipastikan tidak akan ada lagi. Sudah satu bulan Inaq tidak pernah sekalipun memasak karena telah melupakan semua resep-resep masakan enak yang telah membesarkan kami selama ini. Tidak ada lagi gulai daging bumbu rempah-rempah, tidak ada lagi sambal Lombok yang membikin nasi habis sebakul. Tidak ada lagi aneka jajanan lezat. Tidak ada lagi minuman serbat jahe yang konon kata penduduk kampung; selain puluhan bahan rimpang dan temu-temuan, bumbu pamungkasnya adalah sentuhan tangannya yang keramat. Bagai aroma keringat ibu bagi bayi yang masih menyusu. Dulu, Inaq terkenal meracik bumbu masakan yang memanjakan lidah sehingga kami acap kali mendapati ucapan manis para tetamu. Namun sekarang, kami harus menanggung pahitnya lidah mereka.

“Baiq Rumintang sudah gila.”

Perkara gawat ke-2.

Sebab dari ketiga menantunya, tidak ada yang benar-benar telah mewarisi ratusan resep masakan nenek moyang kami secara baik. Amat disayangkan warga desa. Pembicaraan tetangga semakin tajam dan menyayat hati. Menantu tidak becus. Kenapa tidak belajar resep masakan ke ibu mertuanya selagi waras!?

Tidak ada satupun dari mereka yang doyan masak. Tidak istriku, tidak pula istri adik dan kakakku yang hitungannya masih anak kemarin sore. Kesemuanya hanya doyan makan. Bantu-bantu sekadarnya lalu cuci tangan.

Perkara gawat ke-3.

Sekali lagi mereka hanya doyan cuci tangan dan mereka saling dorong satu sama lain agar menggali ilmu masak dari Inaq. Kini mereka menyesal. Mereka harus bergantian mengantar makanan ke Inaq dari resep seadanya. Terlahir lagi dan lagi ucapan tetangga;

“Ketika memasak untuk orang lain, Inaq Rumintang sepenuh hati dan berusaha sesempurna mungkin. Tapi apalah, kenyataan pahit kutukan profesi itu telah menggerusnya memakan masakan menantunya yang kacau balau.”

Perkara gawat ke-4.

Inaq tidak lagi bisa memikirkan apapun, selain tentu saja kapan ia musti makan, minum dan buang hajat. Meski sesekali ia menanyakan aku. Bukan aku yang sekarang yang berumur 40 tahun. tapi aku yang teramat bandel semasih berumur 8 tahun. Ini super gawat, sebab di usia 8 tahun aku yang Inaq kenang adalah anak sinting yang tidak pernah istirahat dari membikin ulah. Aneka macam kejahatan anak-anak; bolos sekolah-bolos mengaji. Jarang pulang. Melempar petasan di tengah kerumunan orang shalat jemaah di masjid besar. Mencuri buah di pekarangan orang. Berkelahi sampai orang tuanya tidak terima dengan lumuran darah kepala anakknya. Tidak jarang baku jambak lagi dengan Inaq karena membelaku.

Dan aku dalam situasi itu, tidak punya tempat melarikan diri. Selain berakhir di dapur_makan sampai kenyang. Itulah ritual yang paling kurindu. Terlebih dahulu musti mendengar omelan, sesekali pukulan rotan Bape. Urutannya selalu begitu; Diomel Inaq, dipukul Bape dan berusaha dicegah mati-matian Inaq agar Bape tidak memukulku hingga pingsan. Drama yang berulang-ulang. Setelah aku dan Inaq sama-sama bersimbah air mata. Sementara aku mandi. Inaq akan memasak di dapur dan menyuguhkan masakan terbaiknya dan menungguiku memakannya sambil sesenggukan, hingga piring licin. Sering kali Inaq mencoba menyuapiku makan, namun kutolak.

Perkara gawat ke-5.

Indir kakakku belum pulang berbulan-bulan lamanya dari kapal pesiar. Meski sesekali menelpon dan mengirimi uang untuk anak-istrinya. Praktis tidak ada laki-laki dewasa yang bertanggung jawab atas peristiwa yang menimpa Inaq. Terpenting saat Inaq kumat, bawa parang dan menggedor-gedor rumah tetangga di tengah malam buta. Peristiwa ini sudah sering kali terjadi. Pernah sekali, Inaq hampir menebas Tuaq Ali yang berusaha mencegah Inaq mengacungkan parang ke istrinya. Karena menuduhnya selingkuh dengan Bape. Jikalau dipikir-pikir, membikin cicak di dinding tertawa-tawa.

Indir adalah anak kebanggaan Inaq yang kini malah keseringan membikin Inaq kecewa. Sawah berbidang-bidang sudah dijualnya. Usaha sering bangkrut. Sertifikat rumah masih di bank untuk untuk membiayai keberangkatannya ke kapal pesiar. Semoga saja hutang atas nama Inaq ini tidak menambah kesedihannya.

Perkara gawat ke-6.

Perihal Bape yang sebenarnya belum terlalu sepuh. Namun sudah menanggung banyak penyakit akut seperti rematik, darah tinggi dan gula darah. Yang membuatnya masih bertahan hidup adalah kebiasaannya mandi sebelum subuh. Sedingin apapun air dari aliran Gunung Rinjani. Ia tak surut barang sehari. Sembari menatap Inaq dari kejauhan, Bape memilin tembakau rejang berbatang-batang, begadang tak berbilang-bilang. Ia rindu keluyuran tak tentu arah. Rindu kedatangan tamu. Rumah yang dulu ramai kunjungan. Kini hampir tidak ada lagi. Sebab, daya tarik rumah kami selain kopi arabika Lombok Utara dan tembakau rejang adalah sesi makan siang dari masakan istimewa Inaq.

Padahal tidak ada yang perlu diurus di sawah yang cuma sepetak. Semasih tanahnya berbidang-bidang, kami masih maklum manakala Bape seseharian di sawah. Kami pikir setelah hampir semua dijual untuk biaya kuliah Indir dan Upeng, Bepe akan lebih sering di rumah. Ternyata tidak juga. Bepe sering berlama-lama di sawah, di rumah kawan dan tempat kumpul.

Dulu, kebiasaan pulang larut malam tetap Bepe lakukan. Ia yang paling bepergaulan luas sejak dulu, selalu ada di setiap tongkrongan Bapak-Bapak. Di surau, di poskamling, di masjid, di balai desa, dimana saja. Beliau banyak menyumbang pikir dengan banyak bicara timur-barat tak tentu arah. Setelah Inaq sakit, Bape harus lebih banyak di rumah menunggui Inaq yang makin hari makin bertingkah aneh.

Perkara gawat ke-7.

Upeng, adikku bertahan menjadi guru honorer karena berharap di angkat menjadi pegawai negeri suatu hari nanti_entah kapan. Dengan gaji yang memprihatinkan pula ia berani mengambil rumah BTN yang akan di cicilnya dua puluh tahun ke depan. Dari rumah BTN ke tempat Upeng mengajar harus ditempuh dua jam perjalanan motor. Keseringan pulang petang. Dan sisa tenaganya hanya untuk mandi dan sholat isya’.

Sudah kebiasaan ia pulang dari mengajar untuk makan masakan Inaq. Tapi semenjak Inaq tidak lagi memasak, Upeng hanya singgah beberapa menit saja sekadar melihat-lihat keadaan. Lalu ia cepat pulang tidur agar cepat terbangun dan ke sekolah lagi. Begitu terus setiap hati. Adikku yang malang. ia hanya punya waktu hari Ahad untuk mengantar Inaq menjalani terapi ke Rumah Sakit Jiwa di Ibu kota. Sesekali ia menampar pipinya, untuk menyadarkan dirinya dari lamunan. Atau sekadar memberinya sedikit tenaga lebih menghadapi kenyataan baru bahwa Inaq telah kacau-balau. Dan tidak ada lagi makan siang gratis untuknya.

Perkara gawat ke-8.

Dikarenakan kedua menantu Inaq tidak terlalu bisa diandalkan_istriku kasus berbeda karena jauh. Kedua menantu Inaq, selain sibuk dengan anak yang masih kecil-kecil. Mereka juga sebenarnya belum siap menjadi ibu rumah tangga. Dikarenakan dinikahi selepas SMA. Kehidupan yang mereka bayangkan seperti di sinetron saja rupanya;

Punya rumah besar, sarapan di meja dengan sendok dan garpu. Dilayani pembantu. Suami berkemeja rapi bersiap pergi ke kantor. Mengantar suami sampai teras depan. Pamitan, cium tangan dan menerima kecupan di kedua belah pipi dan melambaikan tangan saat suaminya memasuki mobil, “dadah, Papa. dadah, Mama.”

Istriku adalah menantu kesayangan Inaq. Sebab paling dekat secara emosional. Istriku dewasa dan pengertian. Istriku sering memijit Inaq kalau kami pulang kampung sekali sepekan. Inaq akan banyak bercerita tentang banyak hal ke istriku, bahkan sampai larut malam. Sering juga mereka sampai berpelukan saling tangis. Kedua menantunya yang lain sering cemburu dengan kedekatan Inaq dan istriku.

Namun istriku mampu mencairkan susasana dan berbaur dengan menantu Inaq yang lain. Tidak sulit menyukai istriku bagi sesama perempuannya. Karena istriku sarjana pendidikan yang berpengalaman bekerja di Lembaga Sosial. Sementara aku belum kunjung kuliah dan bekerja secara layak. Kurasa Inaq memang memendam malu dan tidak enakan. Sebab istriku berpendidikan, aku tidak. Istriku kerja kantoran, aku tidak. Istriku berpenghasilan lumayan, aku tidak. Istriku dari keluarga terpandang, sementara aku tidak. Istriku cantik, dewasa, mendiri, sopan, tegar. Aku kebalikannya.

Perkara gawat ke-9.

Serharusnya akulah yang menderita kegilaan ini. Bukan Inaq. Bahkan sekiranya siapa yang dulu-duluan dijemput maut. Aku rela menggantikan Inaq. Ratusan kali, bahkan sebanyak rambutku demi menggantikan penderitaan Inaq. Hal ini yang barangkali membikin Inaq tergelitik memanggilku sedari kecil dengan sebutan “Jogang.”

Semua sudah paham, bahwa panggilan gila itu berawal dari Inaq. Lalu ke teman-teman kampung, terutama  Noeng. Gawatnya, aku yang dipanggil gila dan berharap itu terjadi. Tidak kunjung menjadi gila. Justru Noeng dikabarkan telah memotong ujung lidahnya dan sudah berjalan tidak tentu arah dan tujuan. Gila sesuai lakob yang ia selalu sematkan padaku. Bahkan Inaq yang kerap kali memanggilku jogang, menyusul beliaulah yang kehilangan kesadarannya dan saban hari Ahad musti ke rumah sakit jiwa. Mereka berdua telah menjalani vonis mereka sendiri terhadapku.

“Niniq-mu kemana tadi?” tanya Inaq.

“Niniq kan sudah meninggal 20 tahun lalu, Inaq,” tegas Upeng kesal karena sudah kesekian kali Inaq menanyakan hal yang sama.

Inaq mondar-mandir ke dapur dan terus memaksa buat memasak. Dapur yang sudah di gembok Upeng beberapa bulan lalu semenjak Inaq hampir tiga kali membakar rumah. Jika dapur kami terbakar, sudah dipastikan satu desa kami akan rata dengan tanah. Selain jarak rumah kami dengan tetangga sangat dekat. Juga atap rumah-rumah di desa kami masih banyak menggunakan atap ilalang.

“Inaq harus masak! Sebab kalau tidak. Masakan Sasak akan hilang. Kamu kan tahu kalau masakan katering sekarang tujuannya menggilas masakan moyang kita?” ratap Inaq sembari terlihat mengemis.

“Aaaa tidak-tidak-tidak!” seru Upeng untuk kesekian kali.

Perkara gawat ke-10.

Kabar terbaru. Inaq datang ke acara begawe besar di balai desa dan mengacaukan acara. Karena para inen pawon dan tukang ran sudah tidak terpakai lagi untuk memasak di acara begawe. Inaq marah karena menjamurnya jasa katering yang menggantikan peran inen pawon. Inaq menumpah ruah ke tanah tiga panci besar masakan yang belum tersaji. Karena mengacau dan sempat mengacungkan belati terutama petugas katering. Inaq diikat dan diamankan orang satu desa.

Setelah mendapat kabar itu, aku, Indir dan Upeng berdebat panas melalui telepon. Perihal; gerangan siapa sesungguhnya yang membikin Inaq menjadi gila? Mereka menyangkal telah meminta banyak hal dari Inaq; waktunya, tenaganya, pikirannya, harta bendanya. Dibiayai kuliah, menikah, bahkan cicilan bulanan mereka masih meminta dari Inaq. Mereka selalu berkilah telah menjadikan Inaq pembantu di rumahnya sendiri. Terang benderanglah mereka menitipkan anak-anaknya. Meskipun Inaq senang-senang saja dititipi cucu-cucunya.

“Kalian seperti benalu! Dari lahir meminum susu. Sudah dewasa-pun meminum darah Inaq!” tuduhku tersulut emosi.

Perkara gawat ke-11.

Istriku menepuk pundakku selepas kuceritakan persoalan itu. Rupanya bukan pundakku saja yang tertampar, tapi juga akal sehatku.

“Bang, Inaq dulu pernah cerita. Saat kali terakhir kita berkunjung dua tahun silam. Em saat Inaq masih normal.”

“Apa katanya?” Sambutku penasaran.

“Inaq tidak enakan ke suamimu, Su. Dia anak tengah yang hampir tidak dapat perhatian. Berhenti menyusu umur tiga bulan karena Inaq harus pergi lama jadi TKW. Dia mandiri karena diasuh oleh keadaan sulit. Dia tidak pernah mau merepotkan. Tidak pernah minta apapun. Apapun. Tidak pernah minta dilahirkan. Tidak minta dibiayai kuliah seperti adik dan kakaknya. Tidak mau diurusi pernikahannya. Tidak mau merepotkan Inaq dengan anak-anaknya. Ya, seperti anak-anak Indir dan Upeng yang setiap hari dititip di Inaq. Su jarang pulang. Su tidak pernah makan masakan Inaq. Lantas untuk apa Inaq memanjakan perut orang lain kalau anak sendiri tidak pernah mau makan masakan ibunya sendiri? Inaq hampir-hampir gila memikirkan Su.”

Kata-kata terakhir istriku terngiang-ngiang seperti suara dengung di dalam kepala yang baru saja tertampar keras persis di telinga. Perkara yang aku lemparkan ke semua orang. Ternyata beralamat ke diriku sendiri.

Perkara gawat ke-12.

Perkara gawat dari telpon pagi ini. Inaq serius memintaku pulang. Di kejauan sana ia memohon-mohon agar aku pulang. Celaka dua belas; aku tidak punya uang, anak-anakku sakit, istriku pulang ke rumah orang tuanya. Debt collector meneror. Usaha bangkrut. Sedang di buru polisi karena masakanku mengandung racun yang membikin ratusan orang terkapar di rumah sakit. Keluarga mereka juga mencari-cariku, dengan berbilah-bilah parang. Pemilik proyek, pemilik kontrakan, pemilik lahan, yayasan, pinjol. Semua mencariku dan aku tidak punya tempat sembunyi seperti dulu.

“Sembunyi di dapur Inaq, Su. Inaq berjanji tidak akan membiarkan Bape memukulmu. Kamu bisa makan lahap tanpa harus menangis sesenggukan.” Rengek Inaq  seperti anak kecil. Inaq melahirkan kami saat beliau belum siap menjadi Ibu. Dan aku selalu bertengkar dengan semua orang, tidak terkecuali dengan kakak dan adik sendiri. Gigih bertengkar dengan kehidupan.

Aku hanya berdiam diri di kampung istriku, memakan masakannya yang kacau balau. Gelisah tercenung tanpa keberanian memutuskan. Tanpa kekuatan untuk pulang. Tidak bisa berbuat apa-apa menghadapi kenyataan. Bahwa seharusnya akulah yang berada di sisi Inaq di situasi-situasi sulitnya. Karena akulah penyebab Inaq gila. []

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news