Jejak Manusia Purba hingga Kalibbong Aloa, Mahasiswa KKN-T Unhas Branding Geosite Belae

6 hours ago 8

KabarMakassar.com – Jejak tangan manusia purba, gambar babi rusa, gua-gua prasejarah hingga bentang karst menjadi bagian dari cerita yang tersimpan di Geosite Belae. Lokasinya di Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Kekayaan tersebut membuat Geosite Belae memiliki karakter yang tidak hanya bertumpu pada keindahan alam.
Kawasan ini juga menyimpan nilai sejarah, arkeologi, geologi, sekaligus potensi edukasi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

Potensi itu kemudian coba diterjemahkan ke dalam ruang digital oleh mahasiswa KKN-T Inovasi Desa Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas).

Melalui program Optimalisasi Branding Digital Kawasan Wisata Geosite Belae, mahasiswa berupaya membangun identitas Belae agar lebih mudah dikenali masyarakat sekaligus memperkenalkan cerita yang berada di balik kawasan karst tersebut.

Sekretaris Tim KKNT Desa Biraeng, Pangkep, Riyanti Rahmania Putri Damran mengatakan Geosite Belae memiliki posisi yang strategis karena menjadi bagian dari kawasan karst yang memiliki nilai penting di Sulawesi Selatan.

“Geosite ini bagian dari geopark Karst Maros Pangkep, bagiannya taman nasional Bantimurung Bulusaraung juga,” ujar Riyanti pada Senin (17/08).

Keterhubungan tersebut menjadi salah satu modal dalam memperkenalkan Belae sebagai bagian dari kawasan wisata berbasis geologi dan lingkungan.

Namun, karakter Belae menjadi semakin kuat karena kawasan tersebut menyimpan sejumlah situs yang berkaitan dengan kehidupan manusia pada masa prasejarah.

“Jadi disitu banyak leang-leang yang dalamnya ada jejak prasejarah, kayak kemarin dari Leang Sakapao banyak jejak tangan manusia purba sama gambar babi rusa,” lanjutnya.

Jejak tersebut menjadi bagian penting dalam narasi yang ingin dibangun mahasiswa melalui branding digital.
Belae tidak hanya diperkenalkan sebagai kawasan yang memiliki batuan karst dan gua, tetapi juga sebagai ruang yang menyimpan rekam jejak kehidupan manusia masa lampau.

Apalagi, terdapat 27 titik situs prasejarah di kawasan tersebut. Keberadaan situs-situs tersebut membuka peluang bagi Belae untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi yang mempertemukan pengalaman berwisata dengan pengetahuan mengenai sejarah dan kehidupan manusia masa lalu.

Upaya membangun branding digital Geosite Belae tidak berhenti pada memperbanyak publikasi mengenai lokasi wisata. Mahasiswa mencoba menyusun narasi yang dapat menjadi identitas kawasan. Karst, gua, situs prasejarah, hingga formasi batuan tidak berdiri sebagai informasi yang terpisah. Seluruhnya dapat dirangkai menjadi cerita yang menunjukkan karakter Belae.

Cerita mengenai jejak tangan manusia purba dan gambar babi rusa, misalnya, dapat menjadi materi storytelling yang memperkenalkan sisi sejarah kawasan. Sementara informasi mengenai bentang karst dapat dikembangkan menjadi konten edukasi mengenai proses geologi yang membentuk kawasan tersebut.

Pendekatan ini membuat branding tidak hanya bertumpu pada visual. Foto dan video berfungsi menarik perhatian, sedangkan informasi dan cerita memberikan alasan bagi masyarakat untuk mengenal Belae lebih jauh. Keunikan lainnya terdapat di kawasan Kalibbong Aloa.

“Lokasi ini biasa juga jadi tempat penelitiannya mahasiswa arkeologi, ada juga paling ujung itu kalibbong aloa, isinya stalagmit stalaktit begitu,” jelas mahasiswa Ilmu Komunikasi Unhas tersebut.

Keberadaan Kalibbong Aloa semakin memperkuat posisi Belae sebagai kawasan yang memiliki nilai penelitian dan edukasi.

Stalagmit dan stalaktit dapat menjadi bagian dari materi komunikasi untuk memperkenalkan kekayaan geologi Belae kepada masyarakat dengan cara yang lebih sederhana dan menarik.

Dengan berbagai potensi tersebut, identitas digital Belae dapat dibangun melalui beberapa karakter utama, yakni alam, sejarah, arkeologi, dan edukasi.

Bagi mahasiswa KKN-T Unhas, branding digital menjadi penting karena masyarakat kini banyak mengenal sebuah destinasi melalui ruang digital. Sebuah tempat tidak hanya bersaing melalui keindahan lokasi, tetapi juga melalui kemampuan menghadirkan cerita yang menarik dan mudah diingat.

Oleh karena itu, Geosite Belae diarahkan untuk memiliki identitas yang berbeda. Belae tidak hanya dipromosikan sebagai kawasan karst. Di dalamnya terdapat cerita mengenai manusia masa lalu, situs prasejarah, kekayaan geologi hingga aktivitas penelitian.

Seluruh unsur tersebut menjadi kekuatan untuk membangun persepsi bahwa Belae merupakan destinasi yang menawarkan pengalaman sekaligus pengetahuan.

Informasi mengenai potensi kawasan tersebut kemudian dikembangkan melalui akun Instagram @geosite.belae.
Akun tersebut menjadi salah satu media untuk memperkenalkan Geosite Belae kepada masyarakat sekaligus mendokumentasikan berbagai informasi yang berkaitan dengan kawasan.

Dalam prosesnya, mahasiswa juga mendapat pendampingan dari Ady Supriady yang membantu mereka mengenal kawasan dan menggali informasi mengenai potensi Geosite Belae.

Pendampingan tersebut membuat proses branding tidak hanya bersumber dari materi promosi, tetapi juga berdasarkan informasi dan cerita yang ditemukan langsung di kawasan.

Riyanti berharap Geosite Belae semakin dikenal masyarakat sebagai salah satu potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Pangkep.

Namun, promosi menurutnya juga harus dibarengi dengan kesadaran menjaga kawasan. Semakin banyak orang mengetahui keberadaan Belae, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan lingkungan, gua, situs prasejarah dan berbagai kekayaan alam di dalamnya tetap terpelihara.

Branding dengan demikian tidak hanya memiliki fungsi promosi. Ia juga dapat menjadi sarana edukasi untuk memperkenalkan nilai yang dimiliki suatu kawasan sekaligus membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian.

Geosite Belae memiliki modal untuk membangun identitas tersebut. Bentang karst menjadi wajah alamnya.
Gua dan situs prasejarah menyimpan cerita manusia masa lalu. Stalagmit dan stalaktit memperlihatkan kekayaan geologinya. Sementara aktivitas penelitian menunjukkan bahwa kawasan ini juga memiliki nilai akademik.
Seluruhnya dapat dirangkai menjadi satu cerita besar tentang Belae.

Melalui optimalisasi branding digital, mahasiswa KKN-T Unhas mencoba membawa cerita tersebut keluar dari kawasan dan memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas. Sebab, kekuatan sebuah destinasi tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat di permukaan.

Di Geosite Belae, nilai tersebut juga tersimpan di balik batu, di dalam gua, dan pada jejak kehidupan manusia yang masih bertahan hingga hari ini.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news