Jumali Minggu, 31 Mei 2026 22:27 WIB

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA
Harianjogja.com, JOGJA—Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 pada 11 Juni mendatang, FIFA menghadapi persoalan baru yang berpotensi memicu sengketa hukum. Organisasi sepak bola dunia itu mendapat ancaman gugatan terkait kebijakan pelarangan penggunaan bendera Iran era pra-revolusi di lokasi pertandingan yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kontroversi tersebut memicu protes dari organisasi Institute for Voices of Liberty, yang menilai kebijakan tersebut berpotensi melanggar hak kebebasan berekspresi. Polemik ini muncul ketika persiapan turnamen memasuki tahap akhir dan perhatian publik dunia mulai tertuju pada pesta sepak bola terbesar tersebut.
Masalah tersebut menambah daftar tantangan yang sedang dihadapi Timnas Iran menjelang tampil di Piala Dunia 2026. Hingga kini, Federasi Sepak Bola Iran atau FFIRI dikabarkan belum memperoleh kepastian terkait visa bagi para pemain yang akan berlaga di Amerika Utara.
Presiden FFIRI, Mehdi Taj, sebelumnya mengungkapkan bahwa proses pengurusan visa masih menjadi perhatian serius menjelang keberangkatan tim ke turnamen.
Situasi tersebut turut memengaruhi persiapan logistik Iran. Tim nasional negara tersebut disebut memutuskan untuk menjadikan Meksiko sebagai basis akomodasi selama turnamen, alih-alih menetap di Amerika Serikat.
Institute for Voices of Liberty memperingatkan bahwa langkah hukum dapat ditempuh apabila FIFA tetap mempertahankan kebijakan pelarangan simbol bendera Iran era pra-revolusi.
Organisasi tersebut menyatakan gugatan dapat diajukan ke pengadilan negara bagian California maupun ke pengadilan federal Amerika Serikat jika tidak ada perubahan kebijakan.
Ancaman gugatan ini menjadi persoalan tambahan bagi FIFA yang saat ini tengah fokus menyukseskan penyelenggaraan Piala Dunia 2026. Turnamen tersebut akan menjadi edisi pertama yang diikuti 48 negara peserta dan digelar di tiga negara tuan rumah secara bersamaan.
Di tengah ketidakpastian tersebut, Timnas Iran tetap dijadwalkan tampil di Piala Dunia 2026. Namun, situasi politik yang berkembang di luar lapangan dinilai berpotensi memengaruhi atmosfer turnamen.
Sejumlah media internasional juga menyoroti berbagai komentar politik yang berkembang menjelang kompetisi, termasuk pernyataan dari Donald Trump yang disebut turut menambah tensi menjelang pelaksanaan turnamen.
Kini perhatian tertuju pada langkah FIFA dalam merespons polemik tersebut. Keputusan yang diambil dalam beberapa hari ke depan dinilai akan menentukan apakah kontroversi ini dapat diredam atau justru berkembang menjadi sengketa hukum yang lebih besar menjelang kick-off Piala Dunia 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

7 hours ago
6

















































