Jumlah Orang Kelaparan Berpotensi Melonjak Akibat Konflik di Iran

17 hours ago 13

Jumlah Orang Kelaparan Berpotensi Melonjak Akibat Konflik di Iran Asap mengepul di Teheran, Iran. Ledakan terdengar lagi di Teheran, Iran, 1 Maret 2026. ANTARA/Xinhua - Shadati

Harianjogja.com, JAKARTA—Lonjakan jumlah penduduk dunia yang mengalami kelaparan akut diperkirakan terjadi jika konflik Iran terus berlanjut, dengan dampak yang disebut bisa mendorong krisis pangan global ke tingkat terburuk.

Analisis terbaru Program Pangan Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (WFP) menunjukkan tambahan sekitar 45 juta orang berpotensi masuk kategori rawan pangan hanya dalam waktu tiga bulan.

Jika konflik berlanjut hingga pertengahan tahun dan harga minyak dunia bertahan di atas 100 dolar AS per barel, jumlah total orang yang mengalami krisis pangan diperkirakan mencapai 363 juta, naik dari 318 juta saat ini.

Perhitungan tersebut dilakukan dengan mengukur kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan konsumsi minimal sekitar 2.100 kalori per hari.

Selain itu, WFP juga memodelkan dampak lonjakan harga minyak terhadap harga pangan global, termasuk ketergantungan negara terhadap impor energi dan pangan.

Dari hasil analisis tersebut, wilayah Asia menjadi kawasan dengan peningkatan jumlah terdampak terbesar, yakni sekitar 9,1 juta orang atau naik sekitar 24 persen.

Dampak krisis pangan juga diperkirakan meluas ke berbagai kawasan lain, termasuk di Afrika Timur dan Selatan sebanyak 17,7 juta orang serta di Afrika Tengah sekitar 10,4 juta orang.

Sementara itu, di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara diperkirakan bertambah sekitar 5,2 juta orang yang mengalami krisis pangan.

Adapun di wilayah Amerika Latin dan Karibia, tambahan penduduk yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 2,2 juta orang.

Secara keseluruhan, peningkatan ini akan membawa total jumlah orang yang mengalami ketidakamanan pangan global menjadi 363 juta jiwa.

"Ini akan membawa tingkat kelaparan global ke rekor tertinggi sepanjang masa, dan ini adalah prospek yang sangat, sangat buruk," ujar perwakilan WFP, Skau seperti dikutip dari Livescience, Senin (23/3/2026).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : WFP, Livescience

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news