
Dua anak sedang bermain di aliran Kali Oya yang mengering karena dampak musim kemarau di Padukuhan Rejosari, Rejosari, Semin, Senin (24/8/2026)/ Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang tahun ini mulai menimbulkan dampak nyata di sejumlah wilayah Gunungkidul. Salah satunya terlihat di aliran Kali Oya yang melintasi Kapanewon Semin. Di beberapa titik, sungai terbesar di kawasan selatan DIY itu kini mengering dan hanya menyisakan hamparan pasir serta bebatuan.
Kondisi tersebut terlihat di kawasan Padukuhan Rejosari, Kalurahan Rejosari, Semin, yang berbatasan dengan Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Aliran sungai yang biasanya menjadi jalur utama air dari hulu kini tidak lagi memperlihatkan aliran air.
Fenomena serupa juga terjadi di Padukuhan Keringan Kidul, Kalurahan Bulurejo, Semin. Bedanya, di lokasi ini dasar sungai yang didominasi batuan terlihat jelas karena tidak lagi tertutup aliran air.
Mengeringnya sejumlah bagian Kali Oya menjadi gambaran dampak kemarau panjang yang melanda Gunungkidul dalam beberapa bulan terakhir.
Debit Air Menyusut Drastis
Lurah Rejosari, Sunarto, membenarkan banyak titik aliran Kali Oya di wilayahnya yang kini kering total.
Menurut dia, kondisi tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan air akibat minimnya hujan selama musim kemarau.
Selain itu, sisa air yang masih tersedia di sejumlah titik juga dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan pertanian sehingga debit sungai semakin menurun.
"Ya kalau yang ada bendungannya, masih ada airnya, walaupun debit makin mengecil. Tapi, kalau yang sebatas aliran sudah benar-benar kering," kata Sunarto, Selasa (25/8/2026).
Meski demikian, ia memastikan kondisi tersebut bersifat sementara dan akan kembali normal ketika musim penghujan tiba.
Menurutnya, pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan aliran Kali Oya kembali terisi saat curah hujan mulai meningkat.
"Ya kalau hujan nanti airnya naik lagi," ujarnya.
Tidak Terjadi di Seluruh Aliran Kali Oya
Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo, mengatakan fenomena sungai mengering tidak terjadi di seluruh bentangan Kali Oya.
Kali Oya diketahui berhulu di kawasan Gunung Api Purba Gajah Mungkur, Wonogiri, kemudian mengalir melewati Semin, Ngawen, Nglipar, Karangmojo, Patuk, Playen hingga bermuara di wilayah Bantul.
Menurut Edi, titik-titik yang mengalami kekeringan banyak ditemukan di wilayah Semin hingga Nglipar.
Namun, kondisi berbeda terlihat setelah aliran memasuki wilayah Karangmojo.
Di kawasan tersebut masih terdapat sejumlah sumber mata air yang bermuara langsung ke Kali Oya sehingga aliran sungai tetap terjaga meskipun musim kemarau berlangsung.
"Dari Semin menuju Ngawen hingga Nglipar ada titik-titik yang mengering. Tapi, nanti setelah masuk di wilayah Kapanewon Karangmojo alirannya kembali lancar karena banyak ditemukan sumber air yang bermuara di Kali Oya sehingga tetap mengalir meski musim kemarau," katanya.
Ancaman Sedimentasi dan Banjir Saat Musim Hujan
Selain menyoroti dampak kemarau, Edi juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian sungai agar fungsi ekologis Kali Oya tetap terjaga.
Ia mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke sungai karena dapat mengganggu aliran dan mempercepat kerusakan lingkungan.
Menurut dia, masyarakat juga perlu menghindari penanaman tanaman pakan ternak di bantaran sungai yang berpotensi mempercepat sedimentasi.
Sedimentasi yang terus meningkat dapat membuat kapasitas sungai berkurang sehingga berisiko memicu banjir saat musim penghujan tiba.
Di sisi lain, pendangkalan sungai juga mempercepat berkurangnya kemampuan aliran sungai menyimpan air ketika musim kemarau datang.
"Ya kalau terjadi sedimentasi, maka rawan banjir saat penghujan dan aliran cepat mengering saat kemarau," katanya.
Kemarau Mulai Terasa di Gunungkidul
Mengeringnya sejumlah titik Kali Oya menjadi salah satu indikator bahwa dampak musim kemarau mulai dirasakan masyarakat Gunungkidul.
Selain memengaruhi kondisi lingkungan, berkurangnya debit sungai juga berpotensi berdampak terhadap kebutuhan pertanian dan ketersediaan air di wilayah yang selama ini bergantung pada aliran sungai.
Meski masih terdapat beberapa bagian sungai yang menyimpan air karena keberadaan bendung maupun sumber mata air, kondisi di Semin menunjukkan kemarau tahun ini memberikan tekanan cukup besar terhadap sumber daya air permukaan di Gunungkidul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

5 hours ago
2

















































