Valentino Rossi Punya Kemampuan Istimewa Baca Karakter Motor

4 hours ago 2

Harianjogja.com, JOGJA— Nama Valentino Rossi kembali menjadi pembicaraan di MotoGP meski legenda asal Italia itu sudah lebih dari lima tahun meninggalkan kompetisi. Kali ini, kemampuan Rossi dalam membaca karakter motor mendapat pujian dari Jonas Torstensson, manajer balap motor Öhlins yang telah bekerja dengan banyak pembalap papan atas.

Menurut Torstensson, Rossi memiliki kemampuan yang tidak biasa dalam memahami respons motor. Kepekaan tersebut membuat Rossi mampu menyampaikan informasi teknis kepada para insinyur sehingga pengembangan motor dapat diarahkan untuk meningkatkan performa di lintasan.

Valentino Rossi Bisa Membaca Motor

Öhlins memiliki pengalaman panjang dalam pengembangan komponen balap. Produsen suspensi asal Swedia itu meraih gelar dunia kelas 500cc pertamanya bersama Eddie Lawson pada 1984 dan terus mengumpulkan data serta masukan dari para pembalap selama puluhan tahun.

Pengalaman panjang tersebut membuat penilaian Torstensson terhadap kemampuan pembalap menjadi menarik. Dari sejumlah pembalap yang pernah bekerja sama dengan Öhlins, Valentino Rossi dinilai mempunyai kemampuan khusus dalam memahami apa yang dirasakan motor ketika dikendarai.

“Valentino; dia memiliki sesuatu yang spesial. Ketika dia mengendarai motor, motor itu seolah berbicara kepadanya, dan dia bisa menerjemahkannya untuk memberi tahu para insinyur apa yang perlu dilakukan pada motor agar bisa melaju cepat,” kata Torstensson kepada Marca.com.

Kemampuan menyampaikan respons motor kepada teknisi menjadi salah satu hal yang penting dalam pengembangan motor balap. Pembalap tidak hanya dituntut mencatat waktu cepat, tetapi juga memberikan masukan yang dapat digunakan untuk menentukan perubahan pada komponen dan pengaturan motor.

Marc Marquez Punya Pendekatan Berbeda

Selain Valentino Rossi, Torstensson juga memberikan penilaian tinggi kepada Marc Marquez. Juara dunia MotoGP tujuh kali itu disebut mempunyai pemahaman yang sangat baik terhadap motor dan mampu mempertahankan kecepatan ketika pengaturan motor belum berada dalam kondisi ideal.

“Marc Marquez mungkin memahami motor lebih baik dari siapa pun. Dia juga bisa menentukan apa yang dibutuhkan motor agar bisa melaju lebih cepat; masukan dia juga sangat bagus. Pada saat yang sama, jika kamu melakukan kesalahan atau tidak menemukan pengaturan terbaik, dia tetap akan sangat cepat,” ujar Torstensson.

Torstensson kemudian menceritakan salah satu pengalamannya ketika Öhlins membawa komponen baru untuk diuji oleh Marquez. Hasil pengujian itu memperlihatkan kemampuan Marquez mempertahankan kecepatan meski komponen yang digunakan ternyata tidak sesuai dengan keinginannya.

“Kami pernah melakukan beberapa tes dengan membawa sesuatu yang baru, lalu dia keluar dan mencatat waktu yang bagus, dan kami berkata, 'Wow, benda ini sangat bagus.' Dia kemudian kembali dan berkata, 'Tidak, saya tidak menyukainya.' Kemudian kami bertanya kepadanya, 'Lalu kenapa kamu bisa sangat cepat?' Dia menjawab, 'Saya hanya mendorong lebih keras.'”

Pengalaman tersebut memperlihatkan perbedaan pendekatan antara kemampuan membaca karakter motor dan kemampuan beradaptasi ketika kondisi motor belum sesuai. Marquez disebut mampu tetap cepat dengan mengandalkan kemampuannya di lintasan meski tidak menyukai komponen yang sedang diuji.

Francesco Bagnaia Sangat Sensitif terhadap Motor

Francesco Bagnaia juga mendapat penilaian dari Torstensson. Menurut dia, Marquez dan Bagnaia sama-sama mempunyai tingkat sensitivitas tinggi terhadap motor, tetapi keduanya memberikan respons yang berbeda terhadap karakter tunggangan masing-masing.

“Pecco dikritik karena sangat sensitif, tetapi dari sudut pandang saya, dia adalah pembalap yang sangat hebat; ketika kami menguji sesuatu dengannya, dia benar-benar tahu bagaimana menjelaskannya, dan masukannya sangat bagus,” tutur Torstensson.

Menurut Torstensson, sensitivitas Bagnaia terhadap motor justru dapat memberikan keuntungan dalam proses pengujian. Pembalap Ducati itu dinilai mampu menjelaskan perubahan yang dirasakan sehingga insinyur mendapatkan informasi yang dibutuhkan untuk pengembangan.

“Benar juga bahwa dia sensitif dengan cara yang berbeda [dari Marquez]; dia perlu mengatur motor dengan tepat agar bisa melaju cepat. Sebagai seorang insinyur, untuk pengujian, itu adalah hal yang sangat bagus.”

Perbedaan karakter tersebut membuat kebutuhan setiap pembalap terhadap motor tidak selalu sama. Bagi Torstensson, kepekaan Bagnaia terhadap pengaturan motor dapat menjadi informasi berharga ketika tim melakukan pengujian komponen baru.

Suspensi Öhlins dan Gelar Joan Mir Bersama Suzuki

Pengalaman Öhlins di MotoGP juga tidak hanya berkaitan dengan Rossi, Marquez, dan Bagnaia. Torstensson turut mengungkap cerita mengenai pengembangan suspensi belakang yang digunakan ketika Joan Mir bersama Suzuki merebut gelar juara dunia MotoGP 2020.

“Ketika Joan Mir menang bersama Suzuki, itu adalah tahun yang spesial, dengan Covid dan semuanya. Pada saat yang sama, kami sedang mengembangkan suspensi belakang yang sekarang digunakan.”

Menurut Torstensson, seluruh tim mendapatkan kesempatan untuk menguji komponen suspensi tersebut secara bersamaan. Suzuki kemudian disebut mampu beradaptasi dengan cepat setelah melakukan proses pengujian yang melibatkan Sylvain Guintoli.

“Semua tim memiliki pilihan untuk mengujinya secara bersamaan, dan Suzuki beradaptasi dengan sangat cepat.”

Guintoli mendapat perhatian khusus dalam cerita pengembangan tersebut. Torstensson menyebut pembalap asal Prancis itu sebagai salah satu test rider terbaik yang pernah bekerja sama dengannya.

“Mereka memiliki Sylvain [Guintoli] yang melakukan pengujian, yang merupakan salah satu test rider terbaik yang pernah bekerja sama dengan saya.”

Kecepatan proses pengembangan menjadi salah satu hal yang menurut Torstensson membantu Suzuki. Tim tersebut disebut mampu menyelesaikan pekerjaan pengembangan komponen itu lebih awal.

“Dia dan tim Suzuki mampu menyelesaikan pekerjaan pengembangan tersebut sangat awal.”

Meski demikian, Torstensson tidak menganggap keberhasilan Joan Mir meraih gelar dunia pada 2020 hanya ditentukan oleh suspensi belakang Öhlins. Kualitas motor Suzuki secara keseluruhan serta kemampuan Mir tetap menjadi bagian penting dari keberhasilan tersebut.

“Tentu saja, mereka tidak menang hanya karena ini, karena motor secara keseluruhan sangat bagus, dan dia juga pembalap yang sangat bagus… tetapi itu membantu, dan bagian [suspensi belakang] tersebut masih digunakan sampai sekarang.”

Öhlins Pasok Suspensi untuk Pabrikan MotoGP

Saat ini, Öhlins memasok suspensi untuk seluruh pabrikan MotoGP, kecuali KTM. Pabrikan asal Austria tersebut menggunakan WP, merek suspensi miliknya sendiri.

Catatan penggunaan suspensi juga memperlihatkan panjangnya hubungan Öhlins dengan kompetisi kelas utama. Pembalap terakhir yang berhasil menjadi juara dunia MotoGP tanpa menggunakan suspensi Öhlins adalah Nicky Hayden.

Hayden merebut gelar juara dunia bersama Honda pada 2006 dengan menggunakan suspensi Showa. Catatan itu membuat gelar Hayden menjadi salah satu pencapaian penting dalam sejarah MotoGP terkait penggunaan merek suspensi di kelas utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news