Kasus Bayi Meninggal di RSIA Paramount, Taufan Pawe Desak IDAI Tak Lindungi Dokter

2 hours ago 1
Kasus Bayi Meninggal di RSIA Paramount, Taufan Pawe Desak IDAI Tak Lindungi Dokter Suasana RDP Dugaan Malpraktek RSIA Paramount (Dok: Sinta KabaMakassar)

KabarMakassar.com — Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Taufan Pawe (TP) meminta Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sulawesi Selatan (Sulsel) tidak memberikan perlindungan kepada dokter dalam kasus meninggalnya cucunya di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Paramount Makassar.

Diketahui, bayi berusia 9 bulan berinisial ASA meninggal RSIA Paramount Makassar pada pada 13 Agustus 2026 lalu.

Pernyataan itu disampaikan Taufan Pawe saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi D DPRD Kota Makassar bersama pihak RSIA Paramount, IDAI Sulsel, keluarga dan kuasa hukum, juga Dinkes Kota Makassar, di gedung sayap DPRD Kota Makassar jalan AP Pettarani, Kamis (17/09).

Taufan menilai penjelasan IDAI Sulsel dalam RDP belum mengungkap rangkaian kejadian secara menyeluruh. Ia meminta pemeriksaan tidak hanya berfokus pada kondisi bayi ketika berada di ruang ICU dan NICU.

“IDAI Sulsel, tolong jangan dilindungi teman sejawatlah. Jangan melihat kesimpulan dari apa yang terjadi di ICU atau di NICU. Jangan melihat dari ujungnya, ulunya loh, Dok,” tegas Taufan.

Ia kemudian mempersoalkan dugaan tidak adanya pemantauan dokter dan laporan dari perawat ketika kondisi bayi membutuhkan penanganan.

Taufan mengaku memiliki rekaman percakapan dengan dokter anak yang menangani cucunya. Dalam percakapan tersebut, ia mempertanyakan penyebab kematian bayi, termasuk kemungkinan kelalaian dokter maupun perawat.

“Saya tanya, penyebab kematian anak saya, cucu saya apa? Apakah karena lalai dokter tidak memantau, atau karena kelalaian perawat tidak memberikan laporan?” ujarnya.

Selain itu, Taufan menyoroti kondisi bayi setelah dimandikan. Ia menyebut bayi ditemukan tidak menggunakan popok dan terdapat bercak darah pada bagian kemaluan.

Menurut Taufan, kondisi tersebut semestinya ikut diperiksa dalam rangkaian evaluasi penyebab kematian bayi.

“Kalau ada akibat yang seperti itu, pengetahuan dokter sebagai ahli anak, apa akibatnya? Dia jawab, ‘Itu kedinginan, Pak.’ Kalau kedinginan, apa akibatnya? Ya meninggal,” kata Taufan.

Ia juga mempertanyakan pengakuan pihak perawat mengenai kondisi bayi setelah dimandikan. Taufan menyebut hal tersebut perlu menjadi bagian dari pemeriksaan secara menyeluruh.

Taufan kemudian mengkritik penjelasan IDAI Sulsel yang dinilainya masih menyisakan ruang abu-abu dan cenderung melihat kejadian hanya pada fase akhir perawatan.

“Kemen IDAI masih menganggap abu-abu, masih bersayap penjelasannya. Enggak boleh dong, Dok. Kasihan masyarakat di luar sana,” ujarnya.

Ia menegaskan tidak mempersoalkan proses pemeriksaan apabila dilakukan secara transparan dan menyeluruh. Namun, Taufan menyatakan akan menempuh jalur hukum apabila persoalan tersebut tidak ditangani secara terbuka.

“Kalau semuanya transparan, oke. Tapi kalau mau bertahan seperti itu, Dok, saya akan bawa ke pidana,” tegasnya.

Taufan juga menyampaikan bahwa dirinya mendapat penjelasan yang menurutnya menunjukkan adanya kelalaian dalam penanganan cucunya.

“Jelas-jelas kok dokternya mengaku bahwa kelalaiannya mengakibatkan cucu saya meninggal,” katanya.

Ia meminta organisasi profesi dan pihak rumah sakit tidak hanya melihat aspek medis pada saat bayi berada di ICU dan NICU, tetapi menelusuri seluruh rangkaian penanganan sejak awal.

Menurut Taufan, dokter jaga juga memiliki peran penting dalam memastikan kondisi pasien tetap terpantau dan menghubungkan pasien dengan dokter yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.

“Dokter jaga adalah penyambung kepada dokter yang punya kompeten. Yang jelas, Dok, saya kecewa,” ujarnya.

Taufan berharap proses evaluasi kasus tersebut dilakukan secara objektif dan komprehensif sehingga penyebab kematian cucunya dapat dijelaskan secara terang kepada keluarga.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news