Kemarau Lebih Panjang Diprediksi Mengancam Pangan Nasional

18 hours ago 13

Kemarau Lebih Panjang Diprediksi Mengancam Pangan Nasional Ilustrasi. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Potensi kemarau panjang mulai diwaspadai setelah fenomena El Nino kuat diperkirakan muncul pada 2026, yang berisiko mengganggu produksi pangan di sejumlah wilayah Indonesia.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memproyeksikan fenomena yang disebut super El Nino atau “Godzilla” ini dapat mulai terasa sejak April 2026 dan berlangsung sepanjang musim kemarau.

El Nino sendiri merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang berdampak pada perubahan pola cuaca global.

Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Prof. Erma Yulihastin, mengingatkan dampak kekeringan berpotensi mengancam wilayah lumbung padi nasional, khususnya di kawasan Pantura Jawa.

“Selain itu, dampak karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi. Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor,” kata Erma, seperti dikutip Minggu (22/3/2026).

Fenomena ini diperkirakan semakin kuat karena beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut memengaruhi distribusi hujan di Indonesia.

Kombinasi keduanya akan menekan pembentukan awan di wilayah Indonesia, sehingga hujan lebih banyak terjadi di atas Samudra Pasifik, sementara sebagian wilayah Indonesia mengalami kekeringan.

Di sisi lain, IOD positif ditandai dengan pendinginan suhu permukaan laut di sekitar Sumatera dan Jawa yang menyebabkan berkurangnya curah hujan secara signifikan.

“Kedua fenomena tersebut diprediksi akan terjadi bersamaan selama periode musim kemarau di Indonesia sejak April hingga Oktober 2026,” terangnya.

Berdasarkan model prediksi musim BRIN, dampak awal diperkirakan dirasakan di wilayah selatan Indonesia.

Pada periode April hingga Juli 2026, kemarau kering berpotensi terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.

Sebaliknya, wilayah di Sulawesi, Halmahera, dan Maluku justru masih berpotensi mengalami curah hujan tinggi, yang meningkatkan risiko banjir dan longsor.

Selain kekeringan, ancaman kebakaran hutan dan lahan juga diperkirakan meningkat di sebagian wilayah di Sumatera dan Kalimantan, meskipun bagian utara kedua pulau tersebut masih berpotensi diguyur hujan.

BRIN juga menilai kondisi ini dapat menjadi peluang untuk mengoptimalkan produksi garam, terutama di wilayah selatan Indonesia, guna mendukung target swasembada pada 2026 hingga 2027.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news