
Puji Wasito, salah seorang warga di Padukuhan Kaligayam Lor, Rejosari, Semin pada saat melakukan pengeringan mete dengan cara menjemur di Terik matahari, Senin (21/9). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Kacang mete dari Padukuhan Kaligayam Lor, Rejosari, Semin, Kabupaten Gunungkidul, tidak hanya menjadi produk unggulan untuk memenuhi kebutuhan konsumen lokal. Produk yang dibudidayakan warga setempat tersebut bahkan pernah menembus pasar internasional dengan dikirim ke Kanada pada 2016.
Sentra produksi mete berada di Kaligayam Lor dan Kaligayam Kidul. Pemasarannya kini telah menjangkau Gunungkidul, DIY hingga sejumlah wilayah di luar Pulau Jawa.
Lurah Rejosari, Sunarto, mengatakan kacang mete merupakan salah satu produk unggulan yang berasal dari wilayahnya. Sentra produksi paling banyak berada di Padukuhan Kaligayam Lor karena banyak warga membudidayakan tanaman jambu monyet sebagai penghasil mete.
“Total ada sekitar 40 hektare lahan yang ditanami jambu monyet untuk bahan baku mete. Lokasinya ada di Kaligayam Lor dan Kidul,” kata Sunarto kepada Harianjogja.com, Senin (21/9/2026).
Menurut dia, produksi mete Kaligayam merupakan produk unggulan karena secara kualitas lebih baik ketimbang dari daerah lain di Gunungkidul maupun Wonogiri, Jawa Tengah.
Untuk mengembangkan potensi tersebut, sudah ada bantuan benih dari Pemerintah DIY untuk peremajaan tanaman. Sunarto mengatakan bantuan bibit tersebut diberikan untuk penanaman di lahan seluas 11 hektare.
“Kalau tidak salah tahun lalu ada bantuan bibit untuk penanaman di lahan seluas 11 hektare,” katanya.
Mete Diolah Jadi Beragam Produk
Sunarto mengungkapkan mete yang dihasilkan warga tidak hanya dijual dalam bentuk mentahan maupun setelah digoreng. Produk tersebut juga dikembangkan menjadi berbagai olahan, di antaranya srundeng mete hingga sambel pecel kacang mete.
“Harapannya bisa terus berkembang sehingga memberikan dampak positif untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.
Hal senada diungkapkan Sulardi, pengepul mete di Padukuhan Kaligayam Kidul. Menurut dia, tanaman mete sudah mulai berbuah dan diperkirakan dalam waktu yang tidak lama lagi memasuki panen raya.
“Memang sudah ada yang panen, tapi belum banyak. Rata-rata masih berbungan dan kalau berbuah belum masak,” katanya.
Sulardi mengungkapkan setiap panen pihaknya dapat menampung mete mentah hingga empat ton. Namun, setelah dilakukan pengolahan dengan memecahkan kulit cangkangnya, terjadi penyusutan hingga 70 persen sehingga berpengaruh terhadap harga jual.
“Rata-rata empat kilo bisa menjadi satu kilo kacang mete yang siap goreng,” katanya.
Untuk pemasaran, Sulardi mengatakan produk mete Kaligayam tidak hanya memasok kebutuhan konsumen di Gunungkidul maupun DIY. Pemasarannya telah menembus pasar nasional, termasuk ke Pulau Sumatera, Kalimantan dan wilayah lainnya.
“Belum lama ini, kami kirim pemesanan mete ke Banjarmasin,” katanya.
Mete Kaligayam Sempat Diekspor ke Kanada
Produksi mete di Padukuhan Kaligayam Lor telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Keberadaannya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, tetapi juga pernah menjangkau pasar internasional.
Ketua Kelompok Tani dan Perkebunan Lumintu di Padukuhan Kaligayam Lor, Puji Wasito, mengatakan budidaya mete mulai dimasifkan pada 1983 dengan mendapatkan bantuan bibit dari pemerintah.
Hingga saat ini, keberadaan pohon-pohon mete masih terjaga dengan baik. Bahkan, terdapat tambahan bibit dari pemerintah untuk peremajaan pada 2023.
“Kalau ditotal di Kaligayam Lor ada lahan yang untuk pengembangan mete seluas 25 hektare. Sekarang ini sudah mulai berbuah dan sebentar lagi memasuki masa panen raya. Satu pohonnya bisa menghasilkan 30-60 kilogram mete yang belum dikupas,” katanya.
Menurut dia, mete asal Kaligayam sudah dilakukan pengujian dan dinyatakan bebas dari bahan kimia. Kualitasnya juga disebut lebih baik dibandingkan mete dari daerah lain.
“Makanya harga lebih mahal karena tembus Rp160.000 per kilogram. Kalau dari daerah lain, bisa lebih murah,” katanya.
Pujo mengakui kualitas mete Kaligayam sempat menarik permintaan dari Kanada pada 2016. Namun, pengiriman tidak dapat berlanjut karena keterbatasan stok yang disebabkan mete merupakan tanaman musiman.
“Hanya bisa bertahan untuk melakukan pengiriman selama enam bulan. Setelahnya berhenti, tidak ada stok lagi karena sekali kirim minimal satu kuintal dan harus rutin tiap bulan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

1 hour ago
2

















































