Omzet Pedagang Fasyen di Beringharjo Turun 50 Persen Saat Lebaran 2026

4 hours ago 5

Harianjogja.com, JOGJA—Omzet pedagang fashion di Pasar Beringharjo anjlok hingga 50% saat Lebaran 2026, meskipun jumlah wisatawan yang berkunjung ke kawasan Malioboro justru meningkat. Fenomena ini menandai adanya pergeseran tren belanja wisatawan.

Penurunan penjualan paling dirasakan pedagang pakaian seperti kebaya dan batik, yang selama ini menjadi andalan oleh-oleh wisatawan di kawasan tersebut. Salah seorang pedagang kebaya di Pasar Beringharjo, Heni Palupi mengatakan penjualan selama Lebaran tahun ini memang lebih baik dibandingkan masa Ramadan yang cenderung sepi. Meski begitu, capaian tersebut masih belum mampu menyamai penjualan pada Lebaran tahun lalu.

“Kalau dibanding tahun lalu masih bagus tahun lalu. Tahun ini turun sekitar separuhnya. Sekarang omzet harian di kisaran Rp1 juta sampai Rp2 juta, kalau tahun lalu bisa sampai Rp3 juta hingga Rp5 juta,” kata di Pasar Beringharjo pada Selasa (24/3/2026).

Ia menilai pergeseran kebiasaan belanja ke platform daring menjadi salah satu faktor utama turunnya transaksi langsung di pasar tradisional. Dia menduga pergeseran tren belanja ke platform daring menjadi salah satu penyebab turunnya minat belanja langsung di pasar. Saat ini, menurutnya produk motif bunga masih menjadi yang paling banyak dicari dengan kisaran harga Rp35.000 hingga Rp300.000.

Kondisi serupa juga dialami pedagang batik, meski masih terjadi peningkatan dibandingkan hari biasa selama momentum Lebaran 2026. Sementara kondisi serupa juga dialami Wanto, pemilik kios Saerah Batik. Dia mengaku penjualan batik pada Lebaran tahun ini tidak setinggi tahun lalu. Dalam sehari, omzet yang diperoleh mencapai sekitar Rp5 juta. Dia mencatat omzet tersebut pun naik sekitar 30% dibandingkan hari biasa.

Untuk menarik minat pembeli, pedagang tetap menerapkan strategi harga terjangkau dan fleksibel dalam proses tawar-menawar. Dia mengaku telah mentapkan harga pas untuk setiap item yang dijualnya. Meski begitu, masih ada beberapa pembeli yang menawar barang jualannya. Dia pun mengaku tetap akan memberikan diskon ketika ada pembeli yang menawar.

“Yang paling banyak dicari [baju batik] yang standar [harga] Rp100.000 dapat tiga [potong baju]. Itu sudah dapat daster, setelan baju tidur dan pakaian anak-anak,” katanya.

Strategi harga rendah ini sengaja diterapkan agar pembeli tertarik kembali berbelanja di kios, sekaligus menjaga daya saing dengan penjualan daring. Dia pun mengaku tidak menerapkan harga yang tinggi untuk barang dagangannya untuk menarik minat pembeli datang kembali ke kiosnya.

Di sisi lain, wisatawan tetap menunjukkan minat belanja dengan menyiapkan anggaran khusus selama liburan di Jogja. Sementara itu salah satu wisatawan asal Tangerang, Sri Rahayu mengaku telah menyiapkan anggaran khusus untuk berbelanja selama berlibur di Jogja.

“Kami sudah hitung dari rumah untuk oleh-oleh tetangga, teman, dan saudara. Budget sekitar Rp1 juta sampai Rp2 juta,” kata dia.

Wisatawan cenderung memilih produk batik, pakaian tidur, hingga makanan khas karena harganya relatif terjangkau dan pilihan yang beragam, meski mereka berharap kenyamanan kawasan wisata terus ditingkatkan. Dia memilih membeli batik, pakaian tidur, hingga makanan khas karena harganya yang terjangkau dan pilihan yang beragam. Namun, dia berharap kebersihan kawasan wisata tersebut terus ditingkatkan agar pengunjung semakin nyaman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news