Pertamina Bidik Minyak Jelantah MBG untuk Bahan Bakar Pesawat

3 hours ago 4

Newswire

Newswire Kamis, 10 September 2026 14:17 WIB

Pertamina Bidik Minyak Jelantah MBG untuk Bahan Bakar Pesawat

Minyak jelantah. - Foto dibuat oleh AI/Stockcake

Harianjogja.com, CILACAP— Minyak jelantah dari program makan bergizi gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mulai dijajaki untuk menjadi bahan baku bahan bakar pesawat udara ramah lingkungan atau sustainable aviation fuel (SAF). Pertamina melalui Kilang Unit IV Cilacap menyiapkan skema pengumpulan used cooking oil (UCO) dari sejumlah sumber untuk memenuhi kebutuhan bahan baku tersebut.

Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap Hermawan Budiantoro mengatakan minyak jelantah dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan KDMP nantinya dikumpulkan untuk diproses menjadi bahan bakar pesawat ramah lingkungan.

“UCO (used cooking oil/minyak jelantah) nanti dikumpulkan dari SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), KDMP,” kata Hermawan di sela temu media nasional di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis.

Menurut Hermawan, pengumpulan minyak jelantah dari SPPG dan koperasi desa tersebut akan menggunakan skema antarbisnis atau business to business (BtoB). Skema itu ditujukan untuk memenuhi stok UCO yang selanjutnya diproses menjadi BBM avtur ramah lingkungan.

Sumber minyak jelantah tidak hanya dari MBG

Pengembangan bahan baku SAF tidak hanya mengandalkan minyak jelantah yang berasal dari kegiatan MBG dan KDMP. Pertamina juga mengumpulkan UCO dari sektor hotel, restoran, dan kafe.

Pemasok lain turut menjadi bagian dari rantai pengumpulan tersebut. Salah satunya ialah Gabungan Pengusaha/Pelaku Usaha Limbah Minyak Goreng Indonesia (Gapulimgi).

Dalam paparannya, asosiasi Gapulimgi disebut memiliki potensi besar dalam memenuhi kebutuhan UCO. Potensi yang diperkirakan berasal dari asosiasi tersebut berada pada kisaran 240 hingga 300 ribu ton per tahun.

Pertamina juga tidak hanya mengandalkan pola kerja sama antarbisnis. Pengumpulan minyak jelantah dilakukan melalui skema business to consumer (BtoC) yang secara langsung menyasar konsumen.

Melalui skema BtoC, minyak jelantah dipasok dari rumah tangga, masyarakat, maupun komunitas. Harga pembelian UCO dengan pola tersebut mencapai Rp6.000 per liter.

Hermawan mengatakan harga melalui skema BtoB diperkirakan lebih tinggi dibandingkan harga pembelian UCO melalui skema BtoC.

SAF Indonesia sudah melalui tahap uji penerbangan

Pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku SAF menjadi bagian dari pengembangan bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan. Indonesia sendiri telah melakukan produksi perdana SAF pada Juli-Agustus 2025.

Sebelum memasuki tahap produksi tersebut, serangkaian uji coba penerbangan komersial telah dilakukan pada September 2023. Uji coba menggunakan armada Garuda Indonesia Boeing 737-800.

Pada uji coba tersebut, bahan bakar penerbangan dicampur dengan 2,4 persen minyak inti sawit yang telah melalui proses pemurnian, pemutihan, dan penghilangan bau atau refined, bleached, and deodorized kernel oil (RBDPKO).

Setelah tahapan tersebut, kandungan SAF ditargetkan dapat ditingkatkan hingga mencapai 3 persen.

Pengembangan SAF juga telah memperoleh sertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC). Sertifikasi tersebut menjadi bagian dari pengembangan dan penggunaan SAF dalam penerbangan.

Digunakan Garuda Indonesia hingga maskapai asing

SAF yang telah dikembangkan tersebut telah digunakan oleh maskapai dalam negeri, yakni Garuda Indonesia dan Pelita Air.

Selain dua maskapai tersebut, sejumlah maskapai asing juga menggunakan SAF untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar penerbangan di Indonesia. Penggunaannya antara lain untuk kebutuhan di Bandara Soekarno Hatta Jakarta dan Bandara Ngurah Rai Bali.

Dengan skema pengumpulan yang mencakup SPPG, KDMP, hotel, restoran, kafe, pemasok limbah minyak goreng, hingga rumah tangga dan komunitas, sumber UCO yang dijajaki Pertamina berasal dari berbagai kelompok.

Pengumpulan melalui BtoB dan BtoC tersebut menjadi bagian dari upaya pemenuhan stok bahan baku yang dapat diproses menjadi BBM avtur ramah lingkungan.

Penilaian orisinalitas

Sudut penyajian: pengembangan rantai pasok minyak jelantah menuju SAF, bukan sekadar pengulangan informasi produksi SAF. Struktur, urutan informasi, lead, dan transisi ditulis ulang dari awal dengan tetap mempertahankan fakta dan kutipan asli.

Catatan: penilaian orisinalitas maupun kemungkinan terdeteksi sebagai tulisan berbasis AI bersifat indikatif, bukan ukuran definitif atas keaslian sebuah artikel.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news