Profil Malone Lam, Pemuda Singapura Pencuri Aset Kripto Rp4,3 Triliun di AS

4 hours ago 2

Profil Malone Lam, Pemuda Singapura Pencuri Aset Kripto Rp4,3 Triliun di AS

Malone Lam, pemuda Singapura 22 tahun, mengaku bersalah dalam kasus pencurian kripto US$245 juta dan menjalani gaya hidup mewah. /Bisnis

Harianjogja.com, JAKARTA— Malone Lam, warga negara Singapura berusia 22 tahun, mengaku bersalah dalam kasus pencurian dan pencucian aset kripto senilai lebih dari US$245 juta atau sekitar Rp4,3 triliun di Amerika Serikat.

Lam disebut sebagai pengorganisasi operasi kejahatan siber internasional yang menargetkan aset kripto. Jaksa AS untuk Distrik Columbia Jeanine Ferris Pirro mengatakan Lam mengakui keterlibatannya dalam konspirasi kejahatan terorganisasi atau RICO di Pengadilan Distrik AS di Washington D.C.

Hakim Pengadilan Distrik AS Colleen Kollar-Kotelly menetapkan sidang lanjutan perkara tersebut pada 8 Desember 2026.

"Jika Anda membangun kerajaan kejahatan siber, kami akan menemukan Anda, membongkar operasi Anda, dan meminta Anda mempertanggungjawabkannya," kata Pirro dalam keterangan resmi Departemen Kehakiman AS, dikutip Rabu (9/9/2026).

Lam terancam hukuman pidana penjara dua tahun atas dakwaan pencurian lebih dari 4.100 Bitcoin dari seorang warga Washington, DC pada Agustus 2024. Nilai aset kripto tersebut ketika pencurian berlangsung mencapai lebih dari US$230 juta.

Departemen Kehakiman AS menyebut Lam berperan mengorganisasi operasi internasional tersebut. Dia diduga mengidentifikasi calon korban sekaligus mengoordinasikan anggota jaringan yang terbentuk melalui koneksi di platform gim daring.

Jaringan tersebut disebut telah beroperasi setidaknya sejak Oktober 2023 hingga Mei 2025.

Siapa Malone Lam?

Melansir Hindustan Times, Lam tumbuh di Singapura. Dia tercatat pernah bersekolah di Unity Secondary School, Choa Chu Kang, pada 2017.

Lam kemudian putus sekolah ketika masih remaja. Setelah itu, dia mulai terlibat dalam perdagangan mata uang kripto serta komunitas gim daring, termasuk Minecraft dan Discord.

Pada Oktober 2023, Lam pindah ke Amerika Serikat. Dia sempat tinggal di Miami, Florida, Los Angeles, California, serta Hamptons, New York.

Lam memasuki AS melalui Visa Waiver Program. Namun, izin tersebut telah kedaluwarsa pada 2024.

Kasus yang menjerat Lam mulai mencuat setelah dirinya bersama Jeandiel Serrano dituding memperoleh lebih dari 4.100 Bitcoin secara ilegal dari seorang korban pada 18 Agustus 2024.

Dalam menjalankan aksinya, para pelaku diduga menyamar sebagai petugas dukungan Google. Mereka menggunakan modus tersebut untuk mengambil alih akun korban.

Setelah itu, pelaku berpura-pura menjadi petugas Gemini dan membujuk korban untuk mengatur ulang autentikasi dua faktor. Korban kemudian diarahkan menggunakan perangkat lunak berbagi layar yang membuat private key miliknya terekspos.

Lam dan Serrano ditangkap pada 18 September 2024. Jaksa membuka dakwaan terhadap keduanya sehari setelah penangkapan.

Kripto Dicuci Lewat Berbagai Jalur

Jaksa menuding hasil kejahatan tersebut kemudian dicuci melalui berbagai jalur. Cara yang digunakan antara lain crypto mixer, bursa aset kripto, pass-through wallet, hingga virtual private network.

Perkara tersebut kemudian berkembang. Pada 15 Mei 2025, jaksa mengumumkan superseding indictment yang menjerat 12 terdakwa tambahan.

Perubahan dakwaan tersebut memperluas perkara menjadi dugaan konspirasi RICO terkait pencurian aset kripto senilai lebih dari US$263 juta.

Kasus tersebut juga mencakup pencurian terpisah senilai US$14 juta pada Juli 2024. Selain itu, perkara tersebut mencakup dugaan pembobolan rumah dengan sasaran hardware wallet.

Jaksa bahkan menuding Lam masih mengarahkan sejumlah rekannya dari tahanan selama menunggu proses persidangan. Dia juga diduga mengatur pengiriman barang-barang mewah kepada kekasihnya.

Hasil Kejahatan untuk Gaya Hidup Mewah

Dana hasil kejahatan tersebut disebut digunakan anggota kelompok untuk membiayai gaya hidup mewah.

Pengeluaran mereka mencakup jet pribadi, properti sewaan, jam tangan, hingga sedikitnya 28 mobil mewah.

Tidak hanya itu, pengeluaran untuk aktivitas di klub malam disebut bisa mencapai US$500.000 atau hampir Rp9 miliar dalam satu malam.

Kini, Lam telah mengakui keterlibatannya dalam konspirasi RICO. Sidang untuk membahas perkembangan kasus dijadwalkan berlangsung pada 8 Desember 2026.

Sementara itu, Departemen Kehakiman AS belum mengumumkan tanggal penjatuhan hukuman terhadap Lam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Sunartono

Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news