Di sebuah kota kecil yang tak dikenal di selatan Irak—antara gurun dan reruntuhan pelabuhan tua—tinggal seorang lelaki tua bernama Karim. Ia pernah menjadi guru sastra Persia sebelum sekolahnya dibom delapan tahun lalu. Sekarang, ia hidup dari menulis surat untuk orang-orang buta huruf dan membacakan berita untuk janda-janda yang ditinggal suami ke perang yang mereka tak paham siapa musuhnya.
Setiap pagi, Karim duduk di kursi reyot di luar toko roti yang hanya buka setengah hari. Ia membawa termos teh dan buku kecil berisi puisi Attar. Ia tak lagi membaca dengan suara lantang. Tapi bibirnya kadang bergerak, menggumamkan fragmen lama: tentang burung-burung yang mencari raja mereka dan menemukan diri sendiri.
“Simurgh?” kata anak penjual roti suatu pagi. “Apa itu burung sungguhan?”
Karim menatap anak itu. “Mungkin. Tapi bukan yang bisa ditembak jatuh.”
Anak itu tertawa dan pergi. Karim kembali ke puisinya. Ia membuka halaman yang mulai kusam, mengusap debu yang menempel di pinggir kertas, lalu membisikkan larik:
“Tak satu pun dari burung-burung itu kembali dengan tubuh yang sama—semua hancur, agar bisa melihat.”
Di tempat ini, tidak ada yang bertanya banyak. Kehidupan terlalu repot untuk menyimpan harapan. Ledakan di kota sebelah minggu lalu masih terasa di jendela-jendela yang retak. Pasar hanya buka sampai siang, karena malam hari tidak ada yang mau menjamin listrik atau keamanan. Karim hidup di sela retakan itu—retakan antara kenangan dan kenyataan, antara bait dan senyap.
Namun Karim menunggu. Bukan sesuatu yang besar. Tapi semacam kabar. Sesuatu yang menandakan bahwa kata-kata masih bisa dipakai untuk menyelamatkan sesuatu. Ia menunggu seperti burung tua yang tak lagi percaya pada musim.
Lalu suatu sore, datanglah seorang perempuan muda. Namanya Zaynab. Ia berasal dari Najaf, katanya, dan sedang membuat dokumentasi untuk tesis tentang mitologi dalam masyarakat pasca-konflik. Ia ingin tahu apakah masih ada yang mengenal nama Simurgh, dan apakah itu punya makna hari ini.
“Kau terlambat tiga puluh tahun,” kata Karim. “Dulu orang-orang di sini bisa mengutip Attar seperti menyebut nama tetangga. Sekarang mereka hanya hafal nama-nama mazhab yang dilarang.”
Zaynab tersenyum. Tapi sorot matanya jujur. Ia membawa kamera kecil, tapi tak pernah menyalakannya. Ia hanya mencatat, mendengarkan. Kadang bertanya, kadang hanya mengangguk. Satu hari, ia bertanya,
“Apakah menurutmu puisi masih bisa menyembuhkan?”
Karim menjawab setelah hening panjang, “Tidak, tapi ia bisa menunda kehancuran. Dan itu cukup.”
Hari-hari berlalu. Karim mulai menantikan kedatangannya. Ia mulai membaca kembali puisi-puisi yang sudah lama ditinggalkannya. Bukan karena ingin mengajar, tapi karena ada telinga yang masih bersedia menerima. Di antara mereka tumbuh kepercayaan, yang lambat tapi dalam—bukan karena kesamaan usia atau pandangan, melainkan karena keduanya tahu betapa sulitnya mempertahankan sesuatu yang halus di tempat yang kasar.
Suatu sore, ketika langit tampak lebih merah dari biasanya, Karim berkata, “Burung-burung dalam puisi Attar itu bukan sedang mencari Tuhan. Mereka sedang mencari arti kehilangan yang sama.”
Zaynab bertanya, “Kalau begitu, kenapa mereka harus mendaki begitu jauh hanya untuk menemukan bayangan mereka sendiri?”
Karim menatap gurun. “Karena kadang hanya luka yang bisa memantulkan cermin.”
Zaynab diam lama. Ia menulis sesuatu, lalu menutup bukunya. Lalu ia berkata, “Kadang aku ingin percaya bahwa Simurgh itu nyata. Kalau tidak, terlalu banyak hidup yang sia-sia.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, ia menyalakan kameranya. Tapi tidak merekam Karim. Ia hanya memotret halaman puisi yang terbuka. Ia menatap halaman itu lama, seolah ingin menghafal setiap patah katanya. “Ini bukan untuk tesis,” katanya, pelan. “Ini untuk ibuku. Ia dulu suka mendongengkan tentang Simurgh saat lampu mati.”
Karim tersenyum. “Mungkin ibumu lebih bijak daripada semua ulama di Najaf.”
Beberapa minggu kemudian, kota kembali sepi. Zaynab tidak datang. Karim menunggu dua hari, lalu tiga. Ia bertanya pada tukang roti, pada penjaga pompa air. Tidak ada yang tahu ke mana gadis itu pergi.
Lalu datang surat. Tanpa nama pengirim, hanya tertulis: “Untuk Karim.”
Isinya adalah lembar puisi hasil ketikan tangan, dengan kalimat yang tidak ada dalam versi manapun yang ia kenal:
“Simurgh turun malam itu
bukan untuk menyelamatkan,
tapi untuk menanyakan:
apa yang kau cari dari puing
selain tempat meletakkan bayangan?”
Karim membacanya pelan. Kemudian ia lipat kertas itu dan menyelipkannya ke dalam buku Attar, di antara halaman yang mulai rapuh. Ia menatap langit yang keruh dan berkata dalam hati, “Setidaknya ada seseorang yang mengerti.”
Ia tidak tahu apakah Zaynab akan kembali. Tapi sejak saat itu, ia tidak lagi membaca puisi sendirian. Kata-kata mulai berputar lagi dalam ruang-ruang kosong yang lama ia biarkan hening.
Kadang, seorang anak duduk di dekatnya dan mendengarkan. Kadang janda-janda datang meminta dibacakan sesuatu yang bukan berita kematian. Dan Karim akan membuka bukunya dan berkata:
“Ada seekor burung yang terbang, bukan ke arah mana pun, tetapi ke dalam pertanyaan.”
Dan di tengah debu dan retakan dinding, sejenak, kata-kata itu seperti memiliki sayap. Dan Karim mulai percaya lagi, meski perlahan, bahwa mungkin bukan jawaban yang menyelamatkan, tapi pencarian itu sendiri. (*)
Biografi Singkat
Muhammad Aswar adalah penikmat Sastra Arab dan pemerhati kajian Timur Tengah. Menjadi pembicara di LIFEs Salihara 2021. Menerjemahkan puisi Nizar Qabbani, Cinta Tak Berhenti di Lampu Merah (Circa, 2021); Surat Tuhan karya Albert Einstein (Circa, 2023); Pembangkangan Sipil karya Henry David Thoreau (Basabasi, 2024); Max Havelaar karya Multatuli (Basabasi, 2025).