PADANG, KLIKPOSITIF — Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mendorong penguatan hilirisasi sektor pertanian sebagai salah satu strategi mempercepat pemulihan ekonomi masyarakat, setelah bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah. Salah satu langkah yang dilakukan melalui Sekolah Lapang Hilirisasi Produk Kopi yang menyasar petani di daerah terdampak bencana.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sumatera Barat Afniwirman mengatakan, program tersebut tidak sekadar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan petani dalam memproduksi kopi, tetapi juga membangun kemampuan mengelola komoditas hingga menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.
Menurut dia, Sumatera Barat memiliki potensi besar sebagai salah satu daerah penghasil kopi. Komoditas tersebut memiliki keragaman dan kualitas yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, baik di tingkat lokal, nasional maupun membuka peluang yang lebih luas.
Namun, potensi tersebut menghadapi tantangan serius ketika bencana hidrometeorologi terjadi. Banjir, longsor maupun bencana lainnya dapat mengganggu aktivitas pertanian, merusak lahan dan infrastruktur produksi, serta menurunkan kemampuan petani untuk melanjutkan usaha secara normal.
Dampak bencana, kata Afniwirman, tidak berhenti pada berkurangnya produksi. Petani juga dapat mengalami kesulitan dalam menjalankan proses pascapanen, pengolahan dan pemasaran. Kondisi itu pada akhirnya berpengaruh terhadap pendapatan dan ketahanan ekonomi keluarga petani.
Karena itu, pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dilakukan dengan mengembalikan aktivitas produksi di lahan. Petani perlu dibekali kemampuan untuk menciptakan nilai tambah dari komoditas yang mereka hasilkan sehingga usaha pertanian dapat kembali tumbuh sekaligus menjadi lebih kuat menghadapi berbagai risiko.
“Petani tidak hanya kita dorong untuk menghasilkan bahan baku, tetapi juga harus memiliki kemampuan mengolah dan memasarkan produknya sehingga nilai tambahnya kembali kepada petani,” kata Afniwirman.
Sekolah Lapang Hilirisasi Produk Kopi dirancang sebagai ruang pembelajaran yang menggabungkan pengetahuan, praktik lapangan dan pengembangan kewirausahaan. Para peserta tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk memahami tahapan pengolahan kopi dari hulu hingga hilir.
Hilirisasi tersebut mencakup berbagai tahapan, mulai dari pengolahan pascapanen, sortasi, fermentasi, pengeringan, pengolahan biji kopi, diversifikasi produk, pengemasan, branding hingga strategi pemasaran. Dengan demikian, petani diharapkan tidak lagi hanya bergantung pada penjualan hasil produksi dalam bentuk bahan mentah.
Kemampuan tersebut dinilai penting karena nilai ekonomi kopi dapat meningkat ketika komoditas itu diolah menjadi produk yang memiliki identitas, kualitas dan kemasan yang sesuai dengan kebutuhan konsumen.
“Kalau petani hanya menjual hasil panen, nilai tambah yang diperoleh masih terbatas. Tetapi ketika mampu melakukan pengolahan, pengemasan dan pemasaran sendiri, maka peluang untuk meningkatkan pendapatan menjadi lebih besar,” ujar Afniwirman.
Program ini sekaligus diarahkan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan petani kopi. Petani didorong untuk mulai melihat usaha tani bukan hanya sebagai aktivitas produksi, melainkan sebagai sebuah bisnis yang memiliki rantai nilai dan peluang pengembangan.
Dengan pendekatan tersebut, petani diharapkan dapat bertransformasi menjadi pengusaha kopi yang mampu mengelola usaha secara lebih profesional. Mereka juga diharapkan memiliki kemampuan membaca peluang pasar, menentukan produk yang sesuai dengan permintaan konsumen dan membangun jaringan pemasaran.
Sekolah lapang juga menjadi bagian dari upaya membentuk sumber daya manusia profesional yang nantinya dapat berperan sebagai pendamping bagi UMKM kopi lokal. Pengetahuan yang diperoleh peserta diharapkan tidak berhenti pada individu, tetapi dapat ditularkan kepada kelompok tani dan pelaku usaha lainnya.
“Yang kita bangun bukan hanya kemampuan individu, tetapi juga ekosistemnya. Ada petani, kelompok tani, UMKM, penyuluh dan pendamping yang saling terhubung sehingga pengembangan kopi bisa berjalan berkelanjutan,” kata Afniwirman.
Program Sekolah Lapang Hilirisasi Produk Kopi dilaksanakan pada Juli hingga Oktober 2026. Kegiatan menyasar sejumlah daerah penghasil kopi yang juga terdampak bencana, yakni Kabupaten Tanah Datar, Agam, Pasaman dan Solok.
Peserta kegiatan berasal dari petani kopi di daerah terdampak bencana, kelompok tani yang tengah melakukan pemulihan usaha serta UMKM pengolahan kopi yang membutuhkan penguatan kapasitas dalam proses hilirisasi.
Dalam pelaksanaannya, peserta akan mendapatkan pendampingan dari petugas Dinas Pertanian kabupaten/kota, penyuluh pertanian serta Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Mereka berperan dalam membantu proses transfer pengetahuan dan memastikan materi yang diberikan dapat diterapkan di lapangan.
Metode pembelajaran juga dibuat sedekat mungkin dengan kondisi nyata yang dihadapi petani. Praktik dilakukan di kebun kopi lokal untuk mempelajari proses panen, sortasi dan fermentasi. Peserta kemudian diarahkan ke unit produksi atau rumah produksi kopi untuk mempraktikkan berbagai metode pengolahan.
Beberapa metode yang dipelajari antara lain pengolahan basah, pengolahan kering dan honey process. Pemahaman terhadap metode tersebut diharapkan membantu petani menghasilkan produk dengan karakteristik dan kualitas yang lebih beragam sesuai dengan kebutuhan pasar.
Selain pengolahan, peserta juga mendapatkan ruang untuk mempelajari diversifikasi produk. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui laboratorium mini atau workshop yang digunakan untuk praktik pengembangan produk, desain kemasan serta simulasi branding.
Aspek pemasaran digital turut menjadi bagian penting dalam sekolah lapang. Peserta diberikan kesempatan mempraktikkan pemasaran melalui media sosial dan platform e-commerce. Langkah ini diperlukan agar produk kopi yang telah diolah tidak berhenti di tingkat rumah produksi, tetapi mampu menjangkau konsumen secara lebih luas.
“Sekarang pemasaran tidak bisa hanya mengandalkan cara konvensional. Petani dan UMKM harus mulai memahami pemasaran digital agar produk mereka bisa dikenal lebih luas,” tutur Afniwirman.
Kegiatan juga dilengkapi dengan field day yang memanfaatkan kebun kopi lokal sebagai lokasi praktik utama. Sementara balai desa atau sentra UMKM kopi mitra dapat dimanfaatkan untuk mempresentasikan rencana usaha, memamerkan produk sekaligus memperkuat kelembagaan kelompok tani.
Penguatan kelembagaan menjadi salah satu aspek penting karena pemulihan ekonomi pascabencana membutuhkan kerja bersama. Kelompok tani diharapkan tidak hanya menjadi wadah administrasi, tetapi berkembang menjadi basis pengembangan usaha, pembelajaran dan pemasaran bersama.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap petani kopi di daerah terdampak bencana dapat kembali bangkit dengan fondasi usaha yang lebih kuat. Mereka tidak hanya dipulihkan agar mampu kembali berproduksi, tetapi juga dipersiapkan untuk memperoleh nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan.
Afniwirman menegaskan, pengembangan hilirisasi kopi merupakan bagian dari upaya membangun ekonomi pertanian yang lebih tangguh. Ketika petani memiliki kemampuan mengolah dan memasarkan produk sendiri, ketergantungan terhadap penjualan bahan baku dapat dikurangi dan posisi tawar petani di dalam rantai perdagangan menjadi lebih kuat.
Pada akhirnya, Sekolah Lapang Hilirisasi Produk Kopi diharapkan melahirkan petani dan pelaku UMKM yang memiliki kemampuan teknis sekaligus jiwa kewirausahaan. Mereka menjadi bagian penting dari upaya menggerakkan kembali perekonomian masyarakat di daerah yang terdampak bencana.
Lebih jauh, program tersebut diharapkan mampu memperkuat citra kopi Sumatera Barat sebagai komoditas unggulan yang tidak hanya memiliki kualitas, tetapi juga memiliki produk turunan dengan nilai tambah dan daya saing. Dengan hilirisasi yang berjalan dari tingkat petani hingga pasar, kopi dapat menjadi salah satu penggerak pemulihan ekonomi sekaligus sumber pertumbuhan baru bagi masyarakat Sumatera Barat pascabencana.

9 hours ago
4


















































