Harianjogja.com, SEMARANG—Kasus stunting di Jawa Tengah (Jateng) mencapai 178.600 anak berdasarkan data penimbangan pada Agustus 2026. Menariknya, daerah dengan persentase stunting tertinggi tidak selalu menjadi wilayah dengan jumlah anak terdampak paling banyak.
Data tersebut menunjukkan Wonosobo memiliki persentase stunting tertinggi di Jateng, yakni 17,67% atau sebanyak 8.043 anak. Sementara itu, jika melihat jumlah absolut kasus, Tegal mencatat angka lebih besar, yakni 12.794 anak meski persentasenya 14,55%.
Setelah Wonosobo, persentase stunting tertinggi berikutnya tercatat di Purworejo sebesar 16,51% atau 5.733 anak. Kemudian Banjarnegara mencapai 15,11% atau 7.966 anak, disusul Magelang 15,09% atau 9.930 anak, dan Tegal 14,55% atau 12.794 anak.
Perbedaan antara persentase stunting dan jumlah riil anak terdampak tersebut dipengaruhi oleh jumlah populasi balita yang berbeda di setiap daerah. Karena itu, persentase yang tinggi tidak selalu berarti jumlah kasus absolutnya menjadi yang paling besar.
Demak dan Semarang Jadi Rol Model
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, Zulfachmi Wahab, mengatakan terdapat dua kabupaten dengan persentase stunting paling rendah, yaitu Demak sebesar 2,00% dan Semarang 2,83%.
Kedua daerah tersebut kini menjadi rol model penanganan stunting bagi kabupaten/kota lain di Jawa Tengah. Dinkes Jateng diberi amanat untuk mempelajari faktor yang membuat penanganan stunting di kedua wilayah tersebut dapat menghasilkan persentase yang rendah.
"Kami dari Dinkes, diberi amanat untuk mempelajari kenapa [Demak dan Semarang] bisa berhasil [tangani stunting]," kata Zulfachmi seusai Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) dan Advokasi Pencegahan dan Percepatan Penurunan Stunting Regional Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara di Novotel Semarang, Selasa (22/9/2026).
Zulfachmi mengatakan Dinkes kabupaten/kota lainnya diminta belajar kepada Dinkes Demak dan Dinkes Semarang. Program yang telah berjalan dapat dipelajari melalui metode amati, tiru, dan modifikasi (ATM).
"Kami nanti akan melakukan ATM dan yang paling penting, bagaimana melakukan monitoring evaluasi terkait hasilnya nanti," sambungnya.
Penanganan Dimulai Sejak Kehamilan
Penanganan stunting di Jateng, menurut Zulfachmi, tidak hanya dilakukan setelah anak lahir. Upaya pencegahan bahkan dilakukan sejak sebelum kelahiran melalui pendekatan yang dimulai sejak masa persiapan pernikahan hingga 1.000 hari pertama kehidupan.
"Stunting itu bukan artinya kecil, stunting bisa dideteksi 80% pada saat kehamilan. Jadi kalau kita stunting, itu tidak hanya output-nya bayi lahir, tetapi pendekatannya sejak mau nikah, dilanjutkan dengan 1.000 hari setelah kehidupan pertama," jelasnya.
Ia menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi tingginya angka stunting di suatu daerah. Faktor tersebut antara lain pendidikan, orang tua, kesehatan, serta pola hidup bersih dan sehat.
Dalam data persentase stunting, Tegal, Brebes, dan Banyumas menjadi tiga daerah dengan angka tertinggi di Jateng.
"Jateng tiga tertinggi secara persentase ada di Tegal, Brebes, dan Banyumas," bebernya.
Luthfi Minta Daerah Belajar dari Demak dan Semarang
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi mengatakan penanganan stunting di wilayahnya selama ini telah berjalan cukup baik. Ia menyebut total persentase stunting Jateng berada pada angka 9,77%.
"[Total presentase stunting di Jateng] 9,77% di atas nasional, kita lebih baik angka stuntingnya," klaim Luthfi.
Meski secara umum angka stunting Jateng disebut cukup baik, Luthfi mengakui masih terdapat sejumlah daerah yang memiliki angka stunting tinggi. Kondisi tersebut menjadi alasan Demak dan Semarang dijadikan rol model bagi daerah lainnya.
"Dinas harus intervensi, belajar. Maka, Demak dan Semarang jadi model agar kabupaten/kota lainnya bisa tiru," tegasnya.
Data Agustus 2026 tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penanganan stunting di Jateng membutuhkan pendekatan yang memperhatikan dua ukuran sekaligus, yakni persentase dan jumlah absolut anak terdampak. Dengan jumlah balita yang berbeda di setiap kabupaten/kota, gambaran kasus stunting dapat terlihat berbeda ketika dihitung berdasarkan proporsi maupun jumlah anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos

3 hours ago
1
















































