AI Bikin Penipuan Digital Makin Canggih, Ini Kata GSMA

10 hours ago 3

Harianjogja.com, JAKARTA— Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuat penipuan digital semakin sulit dikenali. Modus yang digunakan pelaku kini mencakup phishing, deepfake, kloning suara, hingga pemalsuan identitas digital.

Kondisi tersebut membuat masyarakat menghadapi tantangan baru ketika berkomunikasi di ruang digital. Interaksi yang tampak sah dapat dirancang sedemikian rupa oleh pelaku sehingga korban kesulitan membedakannya dari komunikasi yang benar-benar asli.

Head of Asia Pacific GSMA Julian Gorman mengatakan perkembangan AI memperbesar tantangan dalam membangun kepercayaan di ruang digital. Menurutnya, akses terhadap teknologi saja tidak cukup karena masyarakat juga harus memastikan layanan yang digunakan aman, andal, dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Hal ini memerlukan pemerintah, operator seluler, platform digital, institusi keuangan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk bekerja sama dalam memverifikasi identitas, mengautentikasi komunikasi, dan mencegah fraud sebelum menimbulkan kerugian,” kata Julian dalam keterangan pada Rabu (9/9/2026).

68% Korban Penipuan Alami Kerugian Finansial

Temuan mengenai semakin canggihnya modus penipuan tersebut tercatat dalam laporan Digital Nations 2026: Building Trusted Digital Ecosystems in ASEAN. GSMA menyebut AI memungkinkan pelaku menyamarkan identitas sekaligus membangun komunikasi yang semakin meyakinkan.

Gambaran serupa muncul dalam GSMA ASEAN Consumer Scam Report 2026. Hampir sembilan dari 10 konsumen yang disurvei mengaku mampu mengenali setidaknya satu bentuk penggunaan AI dalam penipuan.

Survei GSMA mencakup konsumen di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Sebanyak 8% konsumen yang disurvei di enam negara tersebut mengaku menjadi korban penipuan dalam 12 bulan sebelumnya.

Persoalan tidak berhenti ketika penipuan terjadi. Dari kelompok korban tersebut, 68% mengalami kerugian finansial.

Sebanyak 82% korban yang mengalami kerugian finansial tidak berhasil memulihkan dana mereka. Sementara itu, hanya 10% korban yang berhasil mendapatkan kembali seluruh kerugian.

Kasus Belum Selesai Pengaruhi Kepercayaan Konsumen

Menurut Julian, dampak penipuan digital tidak semata-mata dapat dilihat dari jumlah uang yang hilang. Kemampuan ekosistem digital dalam menerima dan menyelesaikan laporan korban juga menjadi persoalan penting.

GSMA mencatat 69% korban melaporkan kasus yang mereka alami. Namun, sebanyak 45% kasus yang dilaporkan masih belum terselesaikan.

“Kondisi tersebut turut memengaruhi tingkat kepercayaan konsumen. Konsumen yang kasus penipuannya belum terselesaikan melaporkan tingkat kepercayaan yang lebih rendah terhadap saluran komunikasi, platform digital, dan aktivitas berbagi data,” kata Julian.

Kasus penipuan juga berpengaruh terhadap keputusan konsumen dalam menggunakan layanan digital. Konsumen yang pernah menjadi korban penipuan memiliki kemungkinan lebih dari dua kali lipat untuk berpindah ke rekening atau penyedia layanan lain dibandingkan konsumen yang belum pernah terdampak penipuan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan fraud dapat berdampak lebih luas terhadap kepercayaan konsumen terhadap layanan digital.

Aplikasi Messaging Jadi Saluran Rawan

Selain teknologi AI, saluran komunikasi juga menjadi salah satu titik rawan penipuan. GSMA mencatat aplikasi messaging sebagai saluran yang paling umum digunakan konsumen untuk menemukan penipuan.

Sebanyak 41% pengalaman penipuan terjadi melalui saluran tersebut.

Pada saat yang sama, pola penipuan mengalami perubahan. Pelaku tidak lagi hanya mengandalkan skema yang mendorong korban memberikan data, tetapi semakin menggunakan cara yang membuat korban mengirimkan uang mereka sendiri.

Beberapa modus yang tercatat antara lain penipuan investasi, mata uang kripto, belanja daring, dan pekerjaan. Pola tersebut menunjukkan pelaku semakin mengandalkan rekayasa sosial untuk membangun kepercayaan korban sebelum mendorong mereka melakukan transaksi.

Empat Fondasi untuk Bangun Kepercayaan Digital

Julian menilai pencegahan penipuan digital tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. Pemerintah, regulator, operator seluler, institusi keuangan, platform digital, dan pelaku industri perlu memperkuat koordinasi agar penipuan dapat dicegah sebelum menimbulkan kerugian.

Dalam Digital Nations 2026, GSMA menekankan empat fondasi yang diperlukan untuk membangun ekosistem digital tepercaya, yakni identitas, komunikasi, jaringan yang tangguh, dan intelijen kolektif.

Fondasi identitas berkaitan dengan kemampuan memverifikasi individu dan organisasi. Sementara itu, fondasi komunikasi berhubungan dengan kemampuan memastikan keaslian pesan atau interaksi yang diterima pengguna.

Adapun jaringan yang tangguh mencakup keamanan serta ketersediaan infrastruktur digital. Fondasi terakhir, yakni intelijen kolektif, menekankan pentingnya berbagi informasi untuk mendeteksi dan mencegah penipuan.

Peran Operator Seluler Makin Luas

Perkembangan ancaman digital juga membuat peran operator seluler ikut berubah. Menurut Julian, operator kini tidak hanya dipandang sebagai penyedia konektivitas, tetapi turut memiliki peran dalam keamanan dan proses verifikasi.

“Operator seluler, yang selama ini dikenal sebagai penyedia konektivitas, juga makin berperan dalam verifikasi identitas, keamanan jaringan, pencegahan fraud, layanan autentikasi, serta berbagi intelijen untuk membangun ekosistem digital yang lebih tepercaya,” kata Julian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news