Asap Karhutla Bisa Ganggu Paru-Paru, Kenali Bahayanya

3 hours ago 2

Newswire

Newswire Selasa, 25 Agustus 2026 13:17 WIB

Asap Karhutla Bisa Ganggu Paru-Paru, Kenali Bahayanya

Pengendara memakai masker saat pembagian masker gratis di simpang empat RS Charitas Palembang, Sumatera Selatan, Senin (24/8/2026). Pemerintah Kota Palembang membagikan 16.500 masker kepada masyarakat untuk mencegah terjangkitnya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat bencana kabut asap dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Antara/Nova Wahyudi/YU

Harianjogja.com, JAKARTA—Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Indonesia pada pertengahan 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bahkan mendeteksi lebih dari seribu titik panas yang berpotensi menjadi kebakaran di Pulau Kalimantan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran. Asap karhutla dapat menyebar melintasi wilayah dan terbawa angin hingga ke negara tetangga, sehingga kualitas udara di daerah yang berada di arah angin ikut memburuk.

Paparan asap tersebut juga dapat berdampak pada kesehatan orang yang tinggal jauh dari titik kebakaran. Menghirup asap kebakaran dapat mengganggu saluran pernapasan dan paru-paru, bahkan dalam waktu paparan yang singkat.

Gejalanya antara lain mata terasa perih, hidung dan tenggorokan mengalami iritasi, batuk, sakit kepala, hingga sesak napas. Bagi pengidap asma, paparan asap juga berpotensi memperburuk risiko penyakit yang sudah ada.

PM2,5 dalam Asap Karhutla Berbahaya bagi Paru-Paru

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan salah satu ancaman utama dari asap karhutla adalah partikel berukuran sangat kecil yang dikenal sebagai PM2,5.

“Yang pertama untuk karhutla, banyak partikel-partikel, istilahnya PM2,5. Itu banyak bertebaran di udara dan itu sangat mengganggu paru-paru kita, pernapasan kita, banyak penyakit pernapasan seperti infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA,” kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dilansir dari laman resmi Kemenkes (21/8).

PM2,5 merupakan partikel udara dari kebakaran hutan yang berukuran kurang dari 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikel tersebut dapat terhirup hingga masuk ke rongga terdalam paru-paru.

Karena itu, bahaya asap kebakaran tidak hanya berkaitan dengan rasa tidak nyaman akibat udara yang tercemar. Paparan juga dapat mengganggu sistem pernapasan dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Tiga Penyebab Asap Kebakaran Membahayakan Tubuh

Cleveland Clinic menjelaskan terdapat tiga penyebab utama yang membuat paparan asap kebakaran dapat sangat membahayakan kesehatan.

Pertama, suhu panas dari asap yang terhirup dapat merusak saluran pernapasan bagian atas.

Kedua, bahan kimia berbahaya yang berasal dari gas, uap, dan racun dapat mengiritasi serta menyebabkan peradangan pada saluran pernapasan bagian bawah dan paru-paru.

Selain itu, karbon monoksida, sianida, dan berbagai zat kimia beracun yang terdapat dalam asap dapat menghambat penyebaran oksigen ke seluruh jaringan tubuh. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan organ.

Ketiga hal tersebut dapat memicu komplikasi kesehatan yang lebih serius, mulai dari ISPA, asfiksia atau kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen, hingga pneumonitis atau peradangan paru-paru.

Cara Mencegah Paparan Asap Karhutla

Pencegahan paparan asap dapat dilakukan dengan langkah sederhana. Salah satunya adalah membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit pernapasan.

Budi Gunadi Sadikin juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk mengenakan masker sebagai perlindungan dari paparan asap.

Masyarakat juga perlu rutin memantau informasi mengenai kualitas udara di wilayah masing-masing. Ketika kadar asap atau polutan berada pada tingkat yang tidak sehat, sebisa mungkin tetap berada di dalam ruangan dengan pintu dan jendela tertutup.

Cleveland Clinic mencatat penggunaan AC dapat membantu menyaring udara yang masuk ke dalam rumah. Kualitas udara di dalam rumah juga dapat dijaga dengan menggunakan air purifier berfilter HEPA (High-Efficiency Particulate Air) yang mampu menyaring partikel-partikel kecil dari udara.

Dengan demikian, perlindungan dari asap karhutla tidak hanya perlu dilakukan ketika berada dekat dengan lokasi kebakaran. Masyarakat di wilayah yang terdampak penurunan kualitas udara juga perlu membatasi paparan dan menjaga kondisi udara di dalam ruangan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Yudhi Kusdiyanto

Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news