
Situasi kebun salak seluas 1.500 meter persegi di Kalirase, Kalurahan Trimulyo pasca-terbakar malam hari sebelumnya pada Selasa (25/8/2026)./Harian Jogja-Andreas Yuda Pramono
Harianjogja.com, SLEMAN—Kebun salak seluas sekitar 1.500 meter persegi milik Sunardi, 72, di Kalirase, Kalurahan Trimulyo, Kapanewon Sleman, terbakar pada Senin (24/8/2026) malam. Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut, sementara penyebabnya diduga berasal dari puntung rokok.
Komandan Regu I Bidang Damkar Satpol PP Sleman, Bayu Ibrahim Aji, mengatakan kebakaran pertama kali diketahui warga sekitar pukul 20.30 WIB. Warga mendengar suara seperti petasan sebelum memeriksa lokasi dan mendapati api telah membesar di area kebun.
Warga kemudian menghubungi Pemadam Kebakaran (Damkar) Sleman. Petugas berangkat dari Mako Damkar Sleman pukul 21.15 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 21.25 WIB.
Api Padam Setelah 90 Menit
Petugas Damkar Sleman bersama Koramil Sleman, warga sekitar, dan relawan pemadam kebakaran Sleman langsung melakukan penanganan. Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.55 WIB setelah proses pemadaman berlangsung selama 90 menit.
Untuk menjinakkan api, petugas mengerahkan satu kendaraan Kajama, dua tangki air, dua selang berukuran 1,5 inci, serta tiga selang berukuran 2,5 inci.
Bayu menyampaikan kebakaran tersebut diduga dipicu oleh puntung rokok. Kebun yang terbakar merupakan milik Sunardi, seorang pensiunan ASN.
Sampai penanganan selesai, nilai kerugian akibat kebakaran tersebut belum diketahui. Petugas kemudian kembali ke Mako Damkar Sleman dan tiba sekitar pukul 23.25 WIB.
Warga Sempat Mendengar Suara seperti Petasan
Seorang warga bernama Tukiman saat ditemui Harianjogja.com pada Selasa (25/8/2026) siang mengaku tidak mengetahui secara persis kronologi kebakaran. Ia hanya sempat melihat lokasi kejadian dari kejauhan.
Tukiman membenarkan perkebunan salak tersebut merupakan milik Sunardi. Menurut dia, kebakaran terjadi sekitar pukul 20.00 WIB.
“Damkar datang itu situasinya api belum padam, tapi sudah mulai mengecil,” kata Tukiman.
Tanaman Salak Rentan Terbakar Saat Kemarau
Ketua Asosiasi Petani Salak Sleman "Prima Sembada", Wakimin, mengatakan tanaman salak memang rentan tersulut api ketika musim kemarau. Kondisi batang yang berupa rimpang serta pelepah yang menumpuk dapat memudahkan munculnya bara api.
Rumpunan tanaman yang padat juga dapat mempercepat penyebaran api. Karena itu, menurut Wakimin, dugaan puntung rokok menjadi pemantik kebakaran tersebut memiliki alasan yang kuat.
Hasil pengamatan Harianjogja.com di lokasi menunjukkan rumpun-rumpun salak yang terbakar hanya menyisakan sejumlah batang. Lahan bekas kebakaran juga masih menyisakan bau hangus yang menyengat.
“Memang mudah terbakar tanaman salak kalau musim kemarau seperti ini. Mitigasi yang biasa kami lakukan itu membuat irigasi tersier dari saluran air di sekitar air sungai,” kata Wakimin.
Upaya mitigasi tersebut menjadi salah satu langkah yang biasa dilakukan untuk menghadapi kondisi tanaman salak yang lebih mudah terbakar selama musim kemarau.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

2 hours ago
3

















































