
Foto ilustrasi biofuel. Energi bauran bahan bakar minyak dan bahan bakar nabati. - Stockcake AI
Harianjogja.com, JAKARTA— Penerapan mandatori biodiesel B50 di Indonesia diperkirakan membawa perubahan besar terhadap perdagangan minyak sawit dunia. Kebijakan yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026 itu diproyeksikan meningkatkan konsumsi minyak sawit di dalam negeri sekaligus mengurangi pasokan untuk pasar ekspor, sehingga membuka ruang bagi Malaysia memperluas pangsa pasarnya di tingkat global.
Chief Executive Officer Malaysian Palm Oil Council (MPOC), Belvinder Sron, menilai peningkatan kebutuhan minyak sawit untuk program biodiesel Indonesia akan mempersempit volume ekspor yang selama ini memasok berbagai negara importir.
Malaysia Nilai B50 Ubah Peta Perdagangan Sawit
Belvinder mengatakan Malaysia memiliki peluang menjadi pemasok alternatif bagi negara-negara pengimpor minyak sawit ketika pasokan dari Indonesia mulai berkurang.
"Sebagai produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia dan bersama Indonesia menyumbang sekitar 85% ekspor minyak sawit global, Malaysia merupakan sumber alternatif yang alami bagi importir yang ingin mengamankan pasokan yang andal," ujarnya, dilansir Bernama, Sabtu (18/7/2026).
Menurutnya, implementasi penuh B50 diperkirakan membutuhkan tambahan sekitar 3 juta ton minyak sawit setiap tahun. Dengan demikian, kebutuhan minyak sawit Indonesia untuk mendukung program biodiesel diproyeksikan mencapai sekitar 16 juta ton.
Sementara itu, total konsumsi minyak sawit domestik diperkirakan meningkat menjadi sekitar 26 juta ton per tahun.
Lebih dari Separuh Produksi Berpotensi Diserap Domestik
Jika mengacu pada produksi minyak sawit Indonesia sepanjang 2025, kebutuhan tersebut setara dengan sekitar 52% total produksi nasional. Kondisi itu berarti hanya sekitar 48% produksi yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Belvinder menilai komposisi tersebut menunjukkan perubahan yang cukup besar dibandingkan saat Indonesia masih menerapkan mandatori B20 pada 2019.
Kala itu, sekitar 68% produksi minyak sawit nasional masih dialokasikan untuk memenuhi permintaan ekspor, sedangkan sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri.
Perubahan pola konsumsi tersebut, lanjutnya, mulai tercermin pada perdagangan minyak nabati global.
Pangsa minyak sawit dalam perdagangan minyak dan lemak dunia turun dari sekitar 56% pada 2019 menjadi sekitar 49% pada 2025, seiring meningkatnya pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku energi di Indonesia.
Harga CPO Diperkirakan Tetap Tertopang
Pemerintah Indonesia resmi menerapkan mandatori B50 sejak 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut mewajibkan pencampuran biodiesel berbasis minyak sawit sebesar 50% ke dalam bahan bakar solar, meningkat dibanding ketentuan sebelumnya sebesar 40%.
Selain berpotensi mengalihkan sebagian permintaan ekspor ke Malaysia, meningkatnya konsumsi domestik Indonesia juga diperkirakan menjadi faktor yang menopang harga crude palm oil (CPO).
Belvinder mengatakan meningkatnya mandatori biodiesel menciptakan dukungan struktural terhadap harga CPO karena semakin banyak minyak sawit diserap pasar domestik sehingga pasokan ekspor menjadi lebih terbatas.
Meski demikian, ia mengingatkan harga CPO tetap dipengaruhi sejumlah faktor global, mulai dari perkembangan produksi minyak kedelai dan minyak nabati lainnya, harga energi, kondisi geopolitik, hingga kebijakan perdagangan negara-negara konsumen utama.
MPOC Proyeksikan Harga CPO hingga 4.700 Ringgit
Untuk paruh kedua 2026, MPOC memproyeksikan harga CPO bergerak pada kisaran 4.300-4.700 ringgit per ton.
Proyeksi tersebut didukung potensi berkurangnya pasokan minyak sawit dari Indonesia serta meningkatnya risiko cuaca akibat El Nino.
Di sisi lain, kenaikan harga diperkirakan masih tertahan oleh tingginya persediaan minyak nabati di negara-negara importir utama seperti China dan India.
Selain itu, pelemahan harga gasoil juga dinilai mengurangi daya tarik ekonomi penggunaan biodiesel dibandingkan periode sebelumnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

11 hours ago
7

















































