Bakpia Pathok dan Peran BRI Menjaga Napas UMKM Legendaris Jogja

5 hours ago 5

Bakpia Pathok dan Peran BRI Menjaga Napas UMKM Legendaris Jogja Ketua Koperasi Semekar yang juga merupakan pendiri Bakpia 542 Sonder, Sumiyati tengah menunjukkan bakpia yang telah dipanggang di dapur rumahnya pada Sabtu (29/11/2025). - Harian Jogja/Stefani Yulindriani.

Harianjogja.com, JOGJA—Aroma adonan kacang hijau yang baru keluar dari oven menyeruak dari gang-gang sempit di RW 05, Ngampilan, Kota Jogja. Di sinilah jantung industri Bakpia Pathok berdetak, kampung kecil yang sejak akhir 1980-an menjadi saksi lahirnya puluhan merek bakpia rumahan.

Dari ruang-ruang produksi sederhana, ratusan boks bakpia segar dikirim ke berbagai kota, menjadi oleh-oleh wajib wisatawan yang berkunjung ke Kota Gudeg.

“Cikal bakalnya memang di kampung sini, bukan di mana-mana,” ujar Ketua Koperasi Semekar yang juga merupakan pendiri Bakpia 542 Sonder, Sumiyati saat ditemui di Pathuk, Ngampilan, pada Sabtu (29/11/2025). 

Perempuan paruh baya tersebut menuturkan tradisi membuat bakpia telah mengakar sejak 1990-an dan berkembang hingga kini. Dulu, kakaknya merupakan salah satu pionir pembuat bakpia di kawasan Pathuk. Namun, kini pembuat bakpia mulai berkembang hingga ratusan jumlahnya.

Dari jumlah tersebut, ada sekitar 60 orang pembuat bakpia yang menjadi anggota Koperasi Sumekar. Puluhan orang tersebut pun telah membuat bakpia dengan 45 merek dagang berbeda. 

“Satu merek kadang dipakai bapak-ibu, lalu anak atau saudara. Jadi berkembang sendiri-sendiri,” imbuhnya. 

Dari balik sepotong bakpia yang terasa manis lembut itu, tersimpan kisah panjang tentang perjuangan sebuah keluarga di Kampung Patuk. Satu merek bakpia di kampung itu bukan sekadar usaha kuliner, melainkan perjalanan hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi. 

Lewat usaha bakpia kebutuhan hidup terpenuhi, anak-anak berhasil disekolahkan, dan keluarga tetap bisa bertahan dalam masa-masa sulit. Dari dapur sederhana yang dulu hanya mengandalkan alat seadanya, berbagai merek bakpia telah tumbuh menjadi sandaran ekonomi yang menghidupi banyak anggota keluarga. Seolah membuktikan bahwa tradisi, ketekunan, dan loyalitas pelanggan bisa menjadi kekuatan yang mampu melampaui waktu.

BRI Datang di Masa Sulit

Meski begitu, dia mengaku perjalanan panjang itu sempat terhenti ketika pandemi Covid-19 melanda. Saat itu, menurutnya penutupan akses wisata dan pembatasan antarwilayah membuat penjualan bakpia merosot drastis. Distribusi terhenti, sedangkan masa simpan bakpia basah relatif pendek.

“Waktu Covid itu kita rembukan sama teman-teman, bagaimana usaha bisa tetap jalan. Kita minta bantuan vakum [untuk pengemasan bakpia] ke BRI,” katanya.

BRI kemudian menyediakan mesin vacuum sealer untuk mengemas bakpia yang ada di sana. Saat itu ada sekitar 24 unit yang digunakan oleh 60 orang pembuat bakpia. Alat itu digunakan secara bergantian dari satu orang ke orang lainnya. Alat itu memungkinkan bakpia bertahan lebih lama, sehingga tetap bisa dikirim ke luar kota.

“Dulu [saat Covid-19] mengirim bakpia ke Bandung atau Surabaya saja pasti ragu. Enggak tahu berapa hari sampai. Dengan vakum, kita terbantu untuk pengiriman luar kota,” katanya.

Selain alat produksi, BRI juga membantu pembenahan lingkungan produksi, mulai dari pengecatan mural hingga peningkatan sanitasi cluster agar lebih layak dikunjungi.

“Dengan dibersihkan dan dipercantik, kesan tempat jadi lebih baik. Kalau sudah dibantu BRI itu bersih, rapi,” tambahnya.

Pulih dan Bangkit

Kini pengiriman bakpia kembali normal. Jasa ekspedisi dan layanan kirim instan mempermudah akses pasar sehingga vacuum hanya digunakan untuk pengiriman luar Jawa. Pemasaran juga terus berkembang, dari penjualan langsung hingga agen travel dan sistem konsinyasi di luar kota seperti Solo dan Semarang.

Meski ratusan merek bakpia bermunculan di berbagai sudut Jogja, warga Pathok ingin menjaga keaslian identitasnya. Kampung ini telah ditetapkan sebagai kampung wisata dan tengah membangun branding agar kembali menjadi tujuan utama pembelian oleh-oleh bakpia.

“Kita ingin orang tahu bahwa bakpia yang pertama itu di sini, bukan di mana-mana,” katanya. 

Di era promosi digital, tantangan terbesar bukan lagi produksi, melainkan pemasaran. Live TikTok pernah dicoba, namun banyak konsumen mengeluh produk tidak tahan lama karena bakpia basah memang dibuat tanpa bahan pengawet.

“Kualitas kita enggak kalah, hanya pemasaran yang masih tertinggal,” katanya.

.Selain itu, menurutnya, bahan baku pun relatif mudah didapat dari pemasok sekitar dan bekerja sama dengan pabrik tepung. 

Sumiati menyebut akses permodalan melalui BRI masih dibutuhkan terutama untuk kebutuhan besar seperti renovasi, pembelian alat produksi skala besar hingga kendaraan distribusi. 

“Kalau modal bahan baku masih bisa jalan. Tapi kalau untuk bangun toko, beli mesin belasan juta, kita mengakses bank,” ujarnya.

Di tengah maraknya toko bakpia raksasa di sekitar kawasan Malioboro, warga RW 05 berupaya mengingatkan publik tentang sejarah bakpia sebagai usaha rumahan. “Bakpia asli ya di sini. Kampung ini pusatnya,” ucap Sumiati tersenyum bangga.

Gang-gang kecil itu menyimpan cerita tentang kerja keras, kebersamaan, dan ketahanan UMKM. Pandemi pernah membuat produksi hampir berhenti, tetapi dukungan seperti BRI menjadi napas tambahan untuk melewati masa tersulit.

Selama oven-oven kecil itu terus menyala, sejarah bakpia sebagai ikon kuliner Jogja akan tetap hidup, dari kampung kecil bernama Pathuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news