Foto ilustrasi banjir bandang, dibuat menggunakan Artifical Intelligence / Freepik
Harianjogja.com, JEPARA—Banjir bandang kembali melanda Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, sejak Kamis (8/1/2026) hingga Sabtu (10/1/2026). Bencana yang dipicu oleh luapan Sungai Tempuran tersebut berdampak pada ratusan warga di dua dukuh.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto menyampaikan bahwa banjir terjadi dua kali dalam rentang tiga hari setelah hujan deras mengguyur kawasan perbukitan. Pada kejadian pertama, Kamis malam (8/1) sekitar pukul 20.00 WIB, air dari Sungai Tempuran naik cepat dan merendam Dukuh Tempur serta Dukuh Pendem. “Ketinggian air paling tinggi mencapai 1,5 meter,” ujarnya, Sabtu.
Air surut pada Jumat dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Namun, banjir susulan muncul lagi pada Sabtu (10/1) mulai pukul 09.30 WIB. Debit air sempat kembali meningkat pada siang hari, sebelum akhirnya berangsur turun. Pada kejadian kedua, kedalaman banjir mencapai sekitar 1 meter di titik terdalam.
BPBD mencatat sejumlah wilayah terdampak. Di Dukuh Tempur, air merendam permukiman meliputi RW 1 RT 1: 11 keluarga (31 jiwa), RW 1 RT 2: 51 keluarga (128 jiwa), RW 1 RT 3: 33 keluarga (91 jiwa) dan RW 2 RT 1: 9 keluarga (16 jiwa)
Sementara di Dukuh Pendem, dampak dirasakan di RW 2 RT 2: 6 keluarga (14 jiwa), RW 2 RT 3: 18 keluarga (55 jiwa). Selain itu, empat keluarga di bantaran sungai RT 1 RW 3 juga terdampak dengan total sekitar 40 jiwa.
Sebagai langkah darurat, warga bersama kader PKK membuka dapur umum di aula balai desa sejak Sabtu siang. Sekitar 200 paket nasi dibagikan untuk kebutuhan makan warga. “Malam ini kirim lagi 450. Tapi besok fokus untuk Desa Tempur, Kecamatan Keling,” terang Arwin.
Meski air telah surut, cuaca di Sumberrejo masih gerimis dan berpotensi hujan. BPBD mengingatkan warga tetap siaga karena kemungkinan banjir susulan masih terbuka. Kebutuhan mendesak saat ini adalah logistik makanan dan minuman, mengingat sebagian perabot memasak warga terendam.
Puluhan Titik Longsor Putuskan Akses Desa Tempur
Tidak hanya banjir, tanah longsor juga melanda Desa Tempur, Kecamatan Keling. Puluhan titik longsor menutup jalan utama menuju Kota Jepara sejak Jumat (9/1). Dampaknya sangat dirasakan warga, karena ruas tersebut merupakan satu-satunya akses keluar desa.
“Untuk sementara, jalur hanya bisa dilewati sepeda motor,” kata Arwin.
Pembersihan material dilakukan di beberapa titik sehingga akses menuju kawasan Kedung Ombo dapat dilalui motor. Namun kondisi masih rawan, sebab badan jalan sepanjang 60–70 meter hilang terbawa arus sungai. “Tersisa bahu jalan 50 sentimeter. Itu pun jalur darurat yang dipakai warga,” ujarnya.
Setelah Kedung Ombo, masih terdapat longsoran lain sebelum dan sesudah jembatan besi hingga jembatan merah. Sebagian sudah bisa dilewati motor, tetapi dengan kewaspadaan tinggi. BPBD mengantisipasi kemungkinan terburuk jika sisa bahu jalan kembali tergerus. Salah satunya dengan opsi pemasangan perahu bertali sebagai penyeberangan darurat.
BPBD Jepara juga menjalin koordinasi dengan para pemuda setempat dan komunitas motor trail di Damarwulan untuk membuka jalur alternatif menuju Dukuh Duplak melalui Medono. Jika jalur memungkinkan, alat berat akan dikerahkan untuk perapian dan penanganan cepat.
Dari pendataan sementara, sedikitnya 18 titik longsor besar ditemukan, dengan panjang timbunan bervariasi dari 6 meter hingga lebih dari 100 meter serta ketebalan material 0,5–2 meter. Sejumlah titik mengalami kerusakan berat, termasuk hilangnya badan jalan akibat gerusan Sungai Kali Gelis dan pagar jembatan yang tersapu longsor.
BPBD mengimbau masyarakat membatasi mobilitas saat hujan deras dan menghindari jalur rawan longsor demi keselamatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara

14 hours ago
5
















































