Biografi Chatib Sulaiman, Arsitek Perlawanan Rakyat Semesta dari Sumpu

2 hours ago 1

TARUNA - hayati

TANAH DATAR, KLIKPOSITIF – Cicit dari pejuang Chatib Sulaiman, Fauzi Tarmizi menulis sejarah singkat tentang perjuangan lelulurnya.

Fauzi mengumpulkan literasi baik dari buku-buku maupun penuturan lisan.

Chatib Sulaiman, seorang tokoh penting dalam perlawanan rakyat Semesta di Minangkabau yang gugur di Situjuah, Lahir di Nagari Sumpu, didikan Rumah Gadang dan Surau sebagai budaya orang Minangkabau.

Pendidikan formalnya terhenti di MULO karena di “droping” karena menentang sistim Pendidikan kolonial dan dilanjutkannya secara “otodidak”, menguasai Bahasa asing, terutama Bahasa Inggris, dan menjadi Guru bagi teman-temannya dalam ilmu politik, ketentaraan, Pendidikan dan ekonomi.

Chatib Sulaiman memandang perjuangan secara ‘Holistic”, selain perlawanan secara militer dan politik, perjuangan di bidang Pendidikan dan ekonomi juga dilakukan, kemiskinan dan kebodohan dipandangnya sebagai sumber penyakit suatu bangsa mudah dijajah dan Pemuda sebagai tulang punggung utama di suatu Negara.

Jejak perjuangannya dari masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang sampai di masa kemerdekaan dan saat Chatib Sulaiman gugur dalam Agresi Militer Belanda II.

Masa Kecil

Chatib Sulaiman dilahirkan pada tahun 1906 di Nagari Sumpu tepi danau Singkarak kecamatan Batipuh Selatan kabupaten Tanah Datar, dia adalah anak keenam dari tujuh orang bersaudara, lima orang laki-laki dan dua orang perempuan dari pasangan H. Sulaiman dan Siti Rahmah.

Ayahnya, H.Sulaiman adalah seorang pedagang rempah di pasa gadang padang yang di pailitkan oleh pajak (Blatsting) Belanda pada waktu itu dan Sumpur. Ia bersuku Jambak bersako Datuk Ameh. Ande (ibunya) Siti Rahmah adalah wanita terpandang di negerinya, Sumpur.

Siti Rahmah adalah seorang wanita hafiz Al-Qur’an bersuku Sumagek bersako Datuk Bandaro Sati,anak dari Afizah dan Haji Gadang, Chatib Sulaiman masuk di dalam ranji keluarga ummu Sayiddah Aminah Rumah Gadang Suku Sumagek cikundiak di Sumpu.

Pasa Gadang Padang adalah tempat perantauan masyarakat Sumpu zaman kolonialis, dimana terjadinya fenomena sosiologis masyarakat Pribumi di Minangkabau dari Guru mengaji menjadi Ulama sekaligus Saudagar, intraksi kompleks dari pergi berangkat Haji ke Makkah, tekanan Kolonilais dan semangat merantau sebagai budaya orang Minangkabau.

Pasa Gadang juga salah pusat transaksi di pesisir Pantai zaman kolonial Belanda tempat berkumpulnya berbagai komunitas Dagang dan multi etnis,terhubung langsung dengan samudera Hindia menjadi jantung aktivitas perniagaan melalui pelabuhan,
Chatib Sulaiman Dibesarkan di dalam lingkungan Surau orang Minangkabau yang Egaliter dengan didikan Surau Sumpu yang masih berdiri kokoh sampai sekarang, seorang anak surau yang piawai menggesek biola mengisi suara di bioskop bisu kala itu.

Kepandaiannya dalam menggesek biola itu diasah oleh mamaknya (paman) saudara laki-laki dari andenya, Siti Rahmah yang bernama Mohammad Noer Datuk Bandaro Sati, seorang violis terkenal pada waktu itu di Padang Sumatera Barat, selain Pendidikan masa kecilnya di Rumah Gadang Sumpu oleh Ande, dilanjutkan Pendidikan Surau oleh Mamak dan kerabatnya di perantauan.

Pada usia 8 tahun, Chatib Sulaiman ikut dengan ayahnya merantau di pasa gadang Padang untuk bersekolah di sana, mulai dari: Gouvernementschool, dilanjutkan di HIS dan tingkat lanjutan nya di MULO, Padang.

Saat bersekolah di MULO, ia dikeluarkan (Droping) dari sekolah dikarenakan sikap membangkang dan menentangnya terhadap sistim sekolah kolonial terhadap pelajar pribumi, akan tetapi hal itu tidaklah menghalanginya untuk tetap belajar. Chatib Belajar secara otodidak dengan banyak membaca buku- buku seperti buku Politik, ekonomi, sosial barat dan timur dan buku-buku lainnya dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa inggris dan Belanda, untuk itu Ia belajar menguasai beberapa bahasa asing yang dipelajari secara otodidak dan paling fasih adalah bahasa Inggris.

Dengan banyaknya pengetahuan yang dimilikinya, ia menjadi guru bagi kawan-kawannya terutama di kepanduan pendidikan semi militer pribumi. Chatib juga mengajar Ilmu politik, ketentaraan, ekonomi dan lain sebagainya sebagai modal dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, selain itu ia juga suka menulis di tabloid Pemberi Sinar, Masyarakat Baru, koran atau majalah di zaman Jepang dan beberapa media lainnya.

Chatib Sulaiman dan kawan-kawan pernah menjadi tahanan politik dan dibuang ke Kutacane Aceh pada tanggal 12 Maret 1942 karena melakukan protes terhadap pemerintahan kolonial untuk melakukan bumi hangus, untunglah Jepang masuk ke Indonesia setelah menang pada perang dunia kedua dengan sekutu sehingga ia dan kawan-kawan terlepas dan tidak menjalani eksekusi mati dikarenakan Belanda kocar kacir melarikan diri akibat kedatangan tentara Jepang dan membebaskan para tawanan.

Hal itu dijelaskan oleh sahabatnya, Leon Salim yang sama-sama ikut di buang. (Prisoners at Kutacane,Leon Salim & Khatib Sulaiman, Leon salim), Chatib Sulaiman dan kawan-kawan ditemukan dalam kondisi yang sangat menyedihkan saat penjemputan tawanan politik Belanda dari pembuangan.

Chatib dan kawan-kawannya ditemukan di Gunung Setan dalam keadaan kelelahan dan kelaparan karena tidak cukup makan saat ingin berjalan pulang, sedangkan kondisi yang jauh berbeda terjadi dengan Ir.Sukarno bersama istrinya di bawa ke Padang dari pembuangan di Bengkulu dan menginap di rumah dr. Wawaruntu karena Belanda tidak berhasil menyingkirkan ke luar negeri, ini ditulis dan diceritakan langsung oleh teman seperjuangannya.

Masa Perjuangan

Dalam konsep perjuangan, Chatib Sulaiman memandang secara luas, bukan hanya perlawanan secara politik dan militer saja tapi ada hal yang lebih mendasar yaitu pendidikan dan perekonomian, sebab kebodohan dan kemiskinan adalah sumber penyakit sehingga sebuah bangsa mudah untuk dijajah. Hal tersebut dibuktikan oleh Chatib sulaiman dalam konsep kepemimpinan dalam Perjuangan dalam Politik dan ketentaraan diantaranya:

* Kepanduan/ Padvinder
Kepanduan Indonesia Muslim (KIM) di inisiasi oleh Chatib Sulaiman sebagai tempat Pendidikan politik dan pelatihan semi militer pemuda-pemudi Pribumi saat itu, KIM pengabungan dari PMDS(Pelajar Murid Diniyah School) dan kepanduan El-hilal Sumatera Thawalib, dimana Padang panjang pada masa itu adalah pusat pendidikan Islam modern mulai dari Semenanjung Melayu, Malaysia, Singapura, Sulawesi dan Kalimantan serta daerah daerah sekitarnya.

* GIYUGUN / Laskar rakyat
Di zaman Jepang, Chatib Sulaiman lebih adaptif dalam melakukan perjuangannya, karena melihat kekejaman Jepang terhadap Filipina dan Korea maka kita harus bersiasat menghadapinya dan itu ditulis dalam buku yang ditulisnya, dan Jepang pun sangat benci dengan penjajahan yang di lakukan oleh sekutu. ( “Sumber Aliran Dalam Pergerakan Indonesia: Memperingati 40 Tahun Pergerakan Kemerdekaan di Indonesia Tahun 1908-1948, Author; Chatib Soleiman & A.Latief.

Diawali dengan pembentukan PEMUDA NIPPON RAYA oleh Chatib Sulaiman dengan tujuan untuk melatih para pemuda dalam ketentaraan karena HEIHO yang di bentuk Jepang, tidak berhasil merekrut pemuda untuk ikut berperang melawan sekutu. Pada akhirnya dibubarkan oleh Jepang sendiri karena dicurigai hanya pura-pura pro terhadap Jepang dan hanya untuk mengambil hati pemerintahan Jepang. Chatib Sulaiman di tangkap karena pihak mata-mata Jepang mencium tujuannya bukan untuk kepentingan Jepang, namun pada akhirnya di lepas lagi karena Jepang membutuhkan Chatib karena ia memiliki pengaruh besar untuk menyusun kekuatan Asia Raya di Sumatera.( Fatimah enar dan Kawan-kawan 1976).

Pada awalnya diusulkan pembentukan laskar rakyat di Sumatera, tapi tidak di setujui karena Jepang belum begitu percaya, tapi pada akhirnya di karenakan perang Asia Timur Raya mulai tersendat maka pemerintahan Jepang menyetujui dengan nama GIYUGUN (tahun 1942) yang artinya laskar sukarela, di Sumatera bernama Sumatera Giyugun dan di pulau Jawa bernama Java Boi Giyugun lazim di sebut PETA dalam bahasa pribumi. Chatib berujar,“ Apalah arti sebuah nama yang penting kita tetap tidak terpengaruh dengan hasutan Jepang dan inilah kesempatan kita untuk melatih tentara dalam mencapai tujuan Indonesia merdeka.”

Di dalam pembentukan awal Giyugun untuk memimpin suatu badan yang bernama GYU GUN KO EN KAI, di pakailah filosofi Tigo Tungku Sajarangan. Dari kaum cadiak pandai muncul Chatib Sulaiman, dari kaum ulama muncul H. Mahmud Yunus seorang tokoh Pendidikan Islam Modern ( di abadikan sebagai nama kampus UIN di Batusangkar) dan dari kaum adat muncul Ahmad Yacoub Dt. Simaradjo (Ketua MTKAAM dan Pendiri laskar dubalang minang kabau), GYU GUN KO EN KAI di sepakati diketuai oleh Chatib Sulaiman ( Sejarah perjuangan R.I. di minang kabau 1945_1950 Balai Pustaka 1978).

Giyugun didukung penuh oleh tokoh-tokoh agama pada waktu itu seperti Syech Sulaiman Ar- Rosuli Canduang, Syech Djamil Jambek di Bukit tinggi, Syech Ibrahim Musa Parabek, Syech Abbas Padang Japang, Syech Daud Rasyidi Balingka dan beberapa tokoh lainnya karena mengerti dengan tujuan dari Chatib Sulaiman dan kawan-kawan.

Inilah saatnya mereka menyusun kekuatan sebab untuk menuju kemerdekaan kita butuh tantara yang kuat, seperti Syech Djamil Jambek dan ke empat (4) orang putranya, masuk menjadi opsir Giyugun menunjukkan dukungan terhadap rencana dan tujuan Chatib Sulaiman.

Di Sumatera Giyugun ada nama-nama seperti Ismail Lengah, Ahmad husein, Dahlan ibrahim, DI Panjaitan, Abdul Halim, Leon Salim dan nama-nama lainya yang menjadi opsir dengan pangkat tertinggi letnan dua, sedangkan di laskar wanitanya muncul nama-nama seperti, Rasuna Said, Rahmah El Yunusiah, Darwisah Kocek, Laminah Kahar, Ratna Sari, Dainan Muhammad.

Nama-nama lainnya yang bertugas selain pelatihan ketentaraan juga untuk mengumpulkan sumbangan untuk pembiayaan pelatihan sehingga kita tidak bergantung kepada pihak jepang.

Pangkat tertinggi di Sumatera giyugun adalah letnan dua, sedangkan di java boi giyugun atau peta pangkat tertingginya letnan satu, Laskar Giyugun tersebar di Sumatera dan jumlahnya ribuan (Giyugun Cikal bakal TNI di Sumatera: Author Mestika Z ) pelatihan ketentaraan diberikan oleh Jepang kepada pemuda di dalam Giyugun waktu itu mulai dari pelatihan di darat, laut dan udara, Tentara sukarela pada masa pendudukan Jepang untuk menghadapi serangan dari Tentara Sekutu ( Giyugun Tentara sukarela di zaman pendudukan Jepang di Jawa dan Sumatera: Author Aiko Kurosawa )

* Volstrad zaman penjajahan Belanda dan Gityo Cuo Sangi Kai zaman Jepang.
Chatib Sulaiman adalah anggota Volstrad dari kaum pribumi yaitu DPR di zaman penjajahan Belanda yang memberi usul kepada pemerintahan kolonial tapi tidak boleh protes terhadap keputusan Belanda dan tidak diberikan anggaran. Di Volstrad, Chatib Sulaiman memprotes keterwakilan umat muslim yang sangat sedikit dan itu ditulisnya dalam buku yang berjudul Sikap kaum moeslimin Indonesia pada tahun 1939 sehingga akan terjadi pencabutan karya tulis tersebut oleh pemerintah Belanda. Pada zaman pendudukan Jepang, Chatib Sulaiman menjadi Wakil Gityo Cuo Sangi Kai yang diketuai oleh M.Syafei dimana anggotanya seperti Dt. Pamuncak Alam Sati, Bagindo Aziz Chan, DR. Rasyidin, Gafar Jambek, Mohm. Saleh Dt. Bandaro Putiah, Dt Radjo Biaro, Zainudin Sutan Kerajaan, Mr Mohammad Nasroen, Dr A. Hakim, Siradjudin Abbas Dt Bandaro dan beberapa nama lainnya sekitar 40 orang tersebar di Sumatera.( koran Kita sumatora simbun & Ajceh simbun)

*Front Pertahanan Nasional ( FPN ).
Chatib Sulaiman menjadi pimpinan sekretariat Front Pertahanan Nasional ( FPN ) yang di mana ketuanya adalah Buya Hamka akan tetapi di masa Amir Syarifudin menjabat Perdana Menteri, Chatib Sulaiman dibisikkan oleh sahabatnya Sutan Syahrir untuk mulai mundur teratur di karenakan FPN telah banyak disusupi oleh Komunis dan pada akhirnya Chatib Sulaiman fokus kepada MPRD dan BPNK yang “ditukanginya” (e-journal Surya Suryadi, Kilas Balik Bersama Komunis oleh Hamka)

* Markas pertahanan Rakyat Daerah (MPRD) dan Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK).
MPRD dibentuk pada waktu itu berdasarkan kesepakatan seluruh Dewan Pimpinan Daerah (DPD), dengan tujuan untuk menyatukan banyak kelompok dan partai dalam perjuangan bersama perlawanan rakyat dan tentara pada waktu itu menjadi satu komando dan Chatib Sulaiman lagi-lagi di Daulat sebagai pimpinan dari MPRD , hal itu tidak lepas dari pengaruh besarnya terhadap ketentaraan dan kekuatan sipil, tentulah diperlukan seorang tokoh yang bisa menjadi pemersatu elit sipil dan elit militer pada waktu itu ( etnik,elit dan integrasi nasional Minangkabau 1945-1950 : Brigjen Syaafroedin Bahar). MPRD membawahi Markas Pertahanan Rakyat Kecamatan (MPRK) dan Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK) dan di dalam MPRD digabungkan sekretariat FPN dalam susunan perang total untuk mengobarkan semangat perjuangan rakyat dalam pertahanan terhadap serangan militer Belanda ( Buku Sejarah Perjuangan di minangkabau 1945-1950 Terbitan Balai Pustaka tahun 1978 ). Chatib Sulaiman menilai kalau Belanda tidaklah kuat kalau tidak mendapat dukungan dari negara sekutunya terutama Inggris (Padan Nippo Peringatan Petjah Perang Asia Raja)

* Komisaris PNI Baru di Sumatera Barat,
Chatib sulaiman diangkat sebagai komisaris PNI Baru di Sumatera Barat yang didirikan oleh Mohammad Hatta Bersama St.Syahrir ditunjuk saat kongres PNI Baru di Malang pada tanggal 21 November 1934(koran lokomotif) Chatib Sulaiman salah satu anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Pusat yang mewakili Sumatera Barat sebagai Dewan Eksekutif terutama dalam bagian pembentukan ketentaraan di Indonesia (Oktober 1945). Keresidenan di Sumatera Tengah.

Chatib Sulaiman menolak saat dicalonkan untuk menjadi residen ke III ( tahun 1946) dan M. Jamil yang menjadi residen (18/03 1946 sd 1/07 1946) pada akhirnya menggantikan rusad residen ke II (1/12 1945 sd 15/03 1946), dan Mr. S.M Rasjid adalah Residen ke IV, di waktu penunjukan residen pertama (I) yaitu M. Syafei di minta untuk jadi residen oleh tokoh-tokoh pimpinan daerah pada waktu itu di pasa Gadang Padang. M.Syafei menolak dan pada akhirnya ia meminta waktu untuk membicarakan hal ini dengan Chatib Sulaiman di Padang Panjang dan sAnwar St. Saidi di Bukittinggi. Setelah itu, barulah M.Syafei menyanggupi dijadikan Residen pada waktu itu ( 15/9 1945 sd 15/11 1945) sumber; Sejarah perjuangan R.I. di minang kabau 1945_1950 Balai Pustaka 1978.
Perjuangan Chatib Sulaiman di bidang Pendidikan dan ekonomi.

* Mendirikan perguruan Merapi Institute di Padang Panjang yang dibantu pendanaannya oleh Anwar Sutan Saidi ( Salah satu pendiri BI).

* Mendirikan sekolah Islam modern bernama IslamIc Seminary di kampung Nias yaitu tempat mendidik guru-guru untuk mengajar Agama di Madrasah kemudian berubah menjadi Sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA), dimana di Padang Panjang sudah ada dua sekolah Islam modern yang besar pada waktu itu, Sumatera Thawalib ( 1911) yang didirikan oleh Haji Rasul ( ayah Buya Hamka) dan Diniyah School (1915) yang didirikan oleh Zainudin Labia El-Yunusi ( kakak Rahmah El-Yunusiah) dengan tujuan untuk menambah kemajuan di dalam dunia pendidikan Islam, Chatib Sulaiman juga Memimpin di HIS Muhammadiyah Bersama buya Adam BB dan mengajar di Madrasah Irsyadun Nas (MIN), begitu pentingnya arti Pendidikan menurut pemikiran seorang Chatib Sulaiman.

*Menggagas untuk mendirikan beberapa koperasi di daerah sebagai basis untuk melawan monopoli kolonialis terhadap hasil bumi contohnya koperasi kapur di Padang Panjang, koperasi nelayan di Siak, dan beberapa koperasi lainnya, sebab koperasi adalah alat bertahan untuk manusia yang lemah dan alat usaha senasib seperuntungan.

Praktek dari teori ekonomi yang ditulisnya dalam tabloid Pemberi Sinar tahun 1933, dan Chatib Sulaiman memimpin N.V. Bumi Poetra di Bukittinggi dalam bentuk eksport dan import hasil bumi pribumi.

* Menjadi anggota Mukimin Minangkabau Bank Indonesia (B.I) di tahun 1940, yaitu bersepakat para ulama dan kaum cadiak pandai, pada waktu itu di setujui oleh ulama-ulama besar di Minangkabau seperti : Syech Sulaiman Ar- Rosuli Canduang, Syech Djamil Jambek Bukittinggi, Syech Ibrahim Musa Parabek, Syech Abbas Padang Japang, Syech Daud Rasyidi Balingka. Sedangkan dari cadiak pandai pada waktu itu ada Chatib Sulaiman, Anwar St Saidi, Mohammad Nasrun, Siradjudin Abbas dan lain-lainnya.( Pos Sumatera ).

Syahid di Situjuah

Chatib Sulaiman memimpin rapat perlawanan Rakyat Semesta pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia ( PDRI) di Sumatera Tengah. Rapat dihadiri oleh pimpinan tinggi militer dan sipil untuk melakukan penyerangan secara serempak terhadap Belanda. Rapat selesai tengah malam dan sebagian ada yang menginap di Surau Dalam Lurah Kincia Situjuah Batur, di pagi menjelang subuh tiba-tiba bergetar mustang udara lapang, runding bersela dengan senapang.

Peserta rapat disergap oleh tentara Belanda dan terjadilah peristiwa tragis itu. Chatib Sulaiman ditemukan berlumuran darah di tembus oleh peluru Belanda di tepi Lurah Kincia dengan kondisi yang sangat mengenaskan, ada sekitar 68 orang pejuang yang tewas bersama Chatib Sulaiman. Pada akhirnya Chatib Sulaiman mengorbankan nyawanya untuk mencapai suatu cita-cita mulia sebuah takdir yang telah di tetapkan Allah SWT. Belanda berhasil menghentikan langkahnya tapi tidak dengan jejak dan semangat dalam politik, kepanduan, ketentaraan, Pendidikan dan Ekonomi. Ketika mulai turun dari Rumah Gadangnya,dan berjalan menuju syahidnya ke lurah Kincia Situjuah.

Begitu banyak nilai-nilai keteladanan dari perjuangan seorang Chatib Sulaiman yang bisa kita petik sebagai Generasi penerus ( Berkorban Nyawa untuk Kemerdekaan, arti kepahlawanan Chatib Sulaiman bagi generasi penerus (Author M.Fuad Nasar 14 Agustus 2024)

Chatib Sulaiman memperoleh Penghargaan Bintang Maha Putra Utama pada tanggal 17 Agustus 1995 yang di anugerahi oleh Bapak Presiden Soeharto penghargaan atas jasanya memimpin Front Pertahanan Nasional (FPN).

Piagam kenang-kenangan dari Sang proklamator DR Mohammad Hatta, di dalamnya dituliskan: “seorang Kawan yang Pondas” penghargaan tentang dedikasinya di dalam perjuangan di Indonesia dengan karya-karya yang berasaskan dan terdedikasikan secara nasioanal .

Sebuah elegi Buya Hamka yang di tuangkannya dalam puisi ketika mendengar sahabatnya Chatib Sulaiman Gugur oleh penyerangan Tentara Belanda yang Berjudul “ Rimba Raya Sumatera Tengah Mengenang Saudara Chatib Sulaiman Gugur Syahid di Situdjuh Payakumbuh 15 Januari 1949”

(*)

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news