
Kondisi tanaman saat terkena embun upas Dieng. /Istimewa.
Harianjogja.com, BANJARNEGARA— Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan fenomena embun beku atau embun upas di Dataran Tinggi Dieng berpotensi lebih sering muncul selama musim kemarau 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi karakter musim kemarau yang diprakirakan lebih kering dibandingkan dua tahun sebelumnya.
BMKG menyebut peluang kemunculan embun upas diperkirakan meningkat terutama saat puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026.
BMKG Jelaskan Suhu Nol Derajat Bukan Suhu Udara
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah, Guruh Tjiptanto, menjelaskan suhu nol derajat Celsius bahkan minus yang sering dikaitkan dengan embun upas bukan merupakan suhu udara.
Menurutnya, angka tersebut merupakan suhu minimum permukaan rumput yang diukur menggunakan termometer khusus yang dipasang di atas permukaan tanah.
"Suhu nol derajat atau minus memang terjadi, namun itu bukan suhu udara, melainkan suhu minimum rumput, yaitu termometer yang dipasang di permukaan rumput," katanya saat dihubungi dari Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Sabtu (18/7/2026).
Kemarau Lebih Kering Tingkatkan Peluang Embun Upas
Guruh mengatakan semakin kering karakter musim kemarau, peluang terbentuknya embun upas juga semakin besar.
"Semakin kemaraunya kering atau di bawah normal sifatnya maka kemungkinan embun upas akan lebih sering terjadi, apalagi ini belum di puncak kemarau. Puncak kemarau di Agustus nanti, bahkan di September pun masih kering kemaraunya," ujarnya.
Ia menjelaskan puncak musim kemarau diprakirakan berlangsung pada Agustus 2026 dan kondisi kering masih berlanjut hingga September. Situasi tersebut mendukung terbentuknya embun beku di kawasan Dataran Tinggi Dieng.
Menurut Guruh, musim kemarau 2026 diperkirakan lebih dingin dibandingkan 2025 maupun 2024. Karakteristiknya disebut hampir menyerupai musim kemarau 2023 ketika embun upas juga sempat muncul di kawasan tersebut.
"Peluang lebih dingin saat puncak kemarau sekitar Agustus. Pada Agustus hingga September 'mbediding' (fenomena saat suhu udara sangat dingin) akan lebih terasa," katanya.
Wisatawan Diminta Siapkan Pakaian Berlapis
BMKG mengimbau wisatawan yang berencana berburu embun upas di Dieng agar mempersiapkan perlengkapan yang memadai untuk menghadapi suhu dingin.
Pengunjung disarankan mengenakan pakaian berlapis (layering system), mulai dari pakaian dalam termal, sweater, hingga jaket tebal yang tahan angin.
Selain itu, wisatawan juga dianjurkan memakai kupluk yang menutupi telinga, sarung tangan, syal, kaus kaki tebal, dan sepatu yang nyaman agar tubuh tetap hangat selama berada di kawasan pegunungan.
BMKG juga mengingatkan agar wisatawan memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat. Bagi yang memiliki riwayat asma, sinusitis, atau alergi terhadap udara dingin, disarankan membawa obat-obatan pribadi maupun inhaler.
Karena udara pegunungan pada musim kemarau cenderung sangat kering, wisatawan juga dianjurkan membawa pelembap kulit dan pelembap bibir guna mencegah kulit maupun bibir pecah-pecah.
Waktu Terbaik Menyaksikan Embun Upas
Guruh mengatakan embun upas umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan mencapai kondisi paling jelas menjelang matahari terbit.
"Bagi wisatawan yang ingin berburu embun upas di Dieng, fenomena tersebut umumnya mulai terbentuk pada malam hari dan terlihat paling jelas di sekitar lapangan Kompleks Candi Arjuna pada pukul 04.00-06.00 WIB sebelum mencair saat matahari mulai meninggi," kata Guruh.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

10 hours ago
4

















































